News & Research

Reader

Market Review Fixed Income 2018/05/21
Monday, May 21, 2018       10:43 WIB

Download PDF

Pada Jumat (18/05) volume perdagangan SBN menjadi sebesar Rp18,1 triliun dengan frekuensi perdagangan menjadi 912 kali. Volume jual-beli obligasi korporasi pada Jumat (18/05) menjadi sebesar Rp1,71 triliun, dengan frekuensi perdagangan menjadi 91 kali. Selanjutnya, harga rata-rata surat berharga negara (SBN) dengan 20 volume perdagangan tertinggi ditutup dengan harga 100,07, sedangkan harga obligasi korporasi ditutup dengan rata-rata harga di 101,8. Sementara itu, obligasi yang diperdagangkan antara lain FR0075 (jatuh tempo 15/05/38; 98.75; 7,6%) dan FR0064 (jatuh tempo 15/05/28; 92,45; 7.2%); obligasi I Tahap IIB (18/05/21; 100; 7,6%; AA-) dan obligasi IMFI III Tahap IIIB (18/05/21; 100; 8,2%; A).
Ringkasan Berita
Pemerintah Akan Lelang Surat Utang Negara pada 22 Mei 2018
Pemerintah akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa, 22 Mei 2018 dalam mata uang rupiah dengan target indikatif Rp10 triliun untuk dua seri Surat Perbendaharaan Negara yakni SPNS 03180823  (new issuance)  dan SPN12190214  (reopening)  dan tiga seri surau utang negara dengan imbas hasil tetap, yakni FR0064  (reopening) , FR0065  (reopening) , dan FR0075  (reopening)  dengan perincian sebagai berikut:
  • SPN03180823, jatuh tempo pada 23 Agustus 2018, dengan diskonto;
  • SPN12190214, jatuh tempo pada 14 Februari 2019, dengan diskonto;
  • FR0064, jatuh tempo pada 15 Mei 2028, dengan imbas hasil 6,125%;
  • FR0065, jatuh tempo pada 15 Mei 2033, dengan imbas hasil 6,625%;
  • FR0075, jatuh tempo pada 15 Mei 2038, dengan imbas hasil 7,5%.

Pefindo Terus Memantau SNP Finance
Kasus gagal bayar bunga medium term notes (MTN) PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) mendorong lembaga pemeringkat Pefindo dalam memangkas peringkat utang perusahaan milik grup Columbia ini dari rating idA/stable menjadi idSD/selective default saat ini, setelah sebelumnya dipangkas hingga dua kali pada bulan pada Mei 2018/ Kejadian ini diakui Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia mencoreng nama baik industri, namun kejadian ini tidak akan memengaruhi seluruh industri pembiayaan. Astra Sedaya Finance dan Indomobil Finance misalnya tetap melanjutkan minatnya dalam menerbitkan obligasi.
Sumber: Kontan, DJPPR

Sumber : IPS RESEARCH

powered by: IPOTNEWS.COM