News & Research

Reader

Market Review Fixed Income 2019/01/11
Friday, January 11, 2019       10:04 WIB

Download PDF

Market Review
Pada Kamis (10/01) volume perdagangan SBN menjadi sebesar Rp23 triliun dengan frekuensi perdagangan menjadi 667 kali. Volume jual-beli obligasi korporasi pada Kamis (10/01) menjadi sebesar Rp1,04 triliun, dengan frekuensi perdagangan menjadi 97 kali. Selanjutnya, harga rata-rata surat berharga negara (SBN) dengan 20 volume perdagangan tertinggi ditutup dengan harga 98,8, sedangkan harga obligasi korporasi ditutup dengan rata-rata harga di 99,1. Sementara itu, obligasi yang diperdagangkan antara lain FR0070 (jatuh tempo 15/03/24; 101,5; 8,0%) dan FR0071 (jatuh tempo 15/03/29; 105,9; 8,13%); Obligasi Indosat II Tahap IIB (09/11/20; 97,7; 7,5%; AAA) dan Obligasi II Tahap IVA (21/02/23; 93,2; 6,7%; AAA).
Ringkasan Berita
Pemerintah Targetkan Emisi Obligasi Ritel Sebesar Rp80 Triliun
Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan menerbitkan 10 instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai total emisi sebesar Rp80 triliun dalam 8 seri non-tradable, terdiri dari masing-masing empat instrumen Saving Bond Retail (SBR) dan empat Sukuk Tabungan (ST) dimana jadwal penerbitan SBN ritel sepanjang 2019 adalah sebagai berikut, (i) SBR-005 pada 10-24 Januari 2019, (ii) ST-003 pada bulan Februari 2019, (iii) SBR-006 pada tanggal 4-17 April 2019, (iv) ST-004 pada bulan Mei, (v) SBR-007 pada tanggal 11-25 Juli 2019, (vi) ST-005 pada bulan Agustus, (vii) SBR-008 pada tanggal 5-19 September 2019, dan (viii) ST-006 pada bulan November dan 2 seri tradable, yakni (i) SR-011 yang akan ditawarkan pada bulan Maret, dan (ii) ORI-016 pada tanggal 10-24 Oktober 2019. Melalui instrumen-instrumen ini, pemerintah menargetkan pendanaan sebesar Rp80 trilun dari Rp46 triliun pada tahun 2018.
LPS Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Sebesar 12% Tahun Ini
Lembaga Penjamin Simpanan memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 12,4% secara tahunan di 2019. Pendorong pertumbuhan kredit berasal dari kredit konsumsi dan modal kerja. Secara bersamaan, LPS juga menyampaikan pertumbuhan kredit industri per Desember 2018 mencapai12,05%. LPS berpandangan pertumbuhan kredit tahun ini tidak akan sebesar tahun lalu mengingat tahun politik yang menghambat kegiatan investasi setidaknya hingga pemilihan presiden April 2019 dimana mereka menunggu kepastian usaha. LPS juga menyebutkan bahwa kredit konsumsi akan diuntungkan di tahun politik ini melalui kebutuhan akan atribut dan program kampanye pada tahun politik akan semakin besar. Di sisi lain, LPS melihat kredit infrastruktur tidak akan sebesar tahun-tahun lalu dan memperingatkan risiko likuiditas ditengah kenaikan suku bunga acuan bagi perbankan nasional yang didasari oleh rasio LDR yang diatas 92%.
KAI Targetkan Pendanaan Sebesar Rp2 Triliun Melalui Obligasi atau Sekuritisasi
PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengincar pendanaaan eksternal senilai Rp2 Triliundengan mempertimbangkan dua opsi, yakni sekuritisasi atau penerbitan obligasi. Terkait opsi sekuritisasi, KAI telah menyampaikan opsi ini pada tahun 2017 dimana mereka tengah mempelajari opsi pendanaaan berupa sekuritisasi maupun penerbitan Global bond pada saat itu, dan belum menyampaikan soal aset dasar yang nantinya akan dikemas menjadi kontrak investasi kolektif (KIK-EBA). Terkait opsi penerbitan obligasi, KAI tidak menutut kemungkinan untuk menerbitkan instrumen ini kembali, sebelumnya KAI telah menerbitkan obligasi dengan nilai yang sama dimana kupon yang ditawarkan pada saat itu masing-masing sebesar 7,75% dan 8,5% untuk seri A dan B.
Sumber: Bisnis Indonesia, Investor Daily

Sumber : IPS RESEARCH

powered by: IPOTNEWS.COM