News & Research

Reader

Respons Afirmasi Fitch Ratings, Gubernur BI: Itu Pengakuan Atas Daya Tahan Ekonomi RI
Friday, January 24, 2020       19:56 WIB

Ipotnews - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan penegasan Fitch Ratings pada utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil merupakan bentuk pengakuan atas kondisi perekonomian Indonesia yang berdaya tahan di tengah dinamika perekonomian global, didukung sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah.
"Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah guna mendorong momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Perry dalam rilisnya, merespons afirmasi Fitch Ratings atas peringkat utang Indonesia di level layak investasi (investment grade) tersebut, Jumat (24/1).
Seperti diberitakan sebelumnya, Fitch Ratings yang merupakan salah satu dari tiga lembaga pemeringkat utang global terkemuka, mempertegas peringkat utang jangka panjang Indonesia di BBB dengan prospek Stabil.
Dalam siaran pers yang dimuat di laman resmi fitchratings.com, Jumat (24/1), Fitch menyatakan pendorong utama untuk penegasan peringkat Indonesia itu antara lain keseimbangan prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik dan beban utang pemerintah yang kecil jika dibandingkan dengan negara-negara setara yang berperingkat "BBB", terhadap tantangan yang mencakup ketergantungan yang kuat pada pembiayaan eksternal, pendapatan pemerintah yang rendah, dan indikator struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dan PDB per kapita .
Menurut Fitch, pertumbuhan PDB Indonesia kemungkinan akan tetap tangguh dalam beberapa tahun ke depan, didukung oleh infrastruktur publik yang terus diperbarui dan agenda reformasi selama masa lima tahun kedua Presiden Joko Widodo, yang dimulai pada Oktober tahun lalu.
Fitch memperkirakan pertumbuhan akan meningkat sedikit menjadi 5,1% pada tahun 2020 dan 5,3% pada tahun 2021 dari 5,0% pada tahun 2019, secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata kategori negara-negara di peringkat 'BBB' yang sebesar 2,8% untuk tahun 2019.
"Permintaan domestik pada tahun 2020 kemungkinan akan didukung oleh beberapa kebijakan pelonggaran moneter, sementara kontribusi terhadap pertumbuhan ekspor neto dapat terus dipengaruhi secara negatif oleh kondisi perdagangan yang melemah," papar lembaga itu.

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM