- STOXX 600 naik 0,49% ke 649,10, mengakhiri pelemahan tiga sesi.
- Investor mewaspadai inflasi dan kenaikan suku bunga akibat harga minyak di atas USD95.
- Pasar menanti data tenaga kerja AS sebagai petunjuk kebijakan Fed.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa menguat pada akhir perdagangan Kamis setelah melemah tiga sesi berturut-turut, seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global dan investor menanti sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,49% atau 3,19 poin menjadi 649,10, setelah menyentuh level terendah dalam satu bulan pada sesi sebelumnya, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (3/9) atau Jumat (4/9) dini hari WIB.
Sebagian besar bursa regional utama juga menghijau. Indeks DAX Jerman melompat 0,63% atau 163,99 poin jadi 26.003,32, FTSE 100 Inggris meningkat 0,70% atau 75,07 poin ke posisi 10.831,52 dan CAC 40 Prancis bertambah 0,07% atau 5,77 poin menjadi 8.286,40.
Saham Soitec meroket 10,3% dan menjadi penguat terbesar di STOXX 600. Produsen material semikonduktor asal Prancis tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan untuk kuartal II-2027 menjadi 50% secara tahunan, dari perkiraan sebelumnya 30%.
Pasar saham Eropa berada di bawah tekanan dalam beberapa hari terakhir setelah eskalasi perang Iran mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten, kenaikan utang pemerintah, serta potensi pengetatan kebijakan moneter.
Bursa Eropa dinilai sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak karena kawasan tersebut bergantung pada impor energi. Harga minyak memang melemah pada sesi Kamis, tetapi masih bertahan di atas USD95 per barel. Sementara itu, imbal hasil obligasi negara-negara zona euro mundur dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
"Selama belum ada penghentian serangan secara menyeluruh dari kedua belah pihak, sulit untuk melihat harga komoditas turun secara signifikan atau obligasi memasuki pemulihan jangka panjang, karena bank sentral akan tetap mewaspadai risiko inflasi," kata Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks.
Survei terbaru menunjukkan pertumbuhan sektor jasa yang mendominasi perekonomian zona euro melambat ke level terendah dalam dua bulan sepanjang Agustus. Meski demikian, permintaan yang solid dan tersebar luas membuat aktivitas sektor swasta secara keseluruhan tetap stabil.
Pelaku pasar hampir sepenuhnya memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 2,5% dalam pertemuan kebijakan pekan depan. Pasar juga memperkirakan dua kenaikan suku bunga tambahan masing-masing sebesar 25 basis poin hingga pertengahan 2027.
"Minyak Brent memang akan berfluktuasi, tetapi produk aktual yang digunakan masyarakat saat ini berada di level tertinggi pada Maret dan April, dan hal ini akan memberikan dampak," kata Kepala Investasi Mirabaud Group, Ricardo Castillo.
"Menurut saya, di Eropa hal tersebut menjadi salah satu alasan kami meyakini ECB, meskipun pertumbuhan tidak terlalu besar, kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi," ujarnya.
Investor selanjutnya akan mencermati laporan ketenagakerjaan nonpertanian (non-farm payrolls) Amerika yang dijadwalkan dirilis Jumat. Data tersebut diharapkan memberikan sinyal terbaru mengenai arah kebijakan bank sentral, setelah komentar Chairman Fed Kevin Warsh yang bernada hawkish, pekan lalu, mendorong pelaku pasar meningkatkan spekulasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Di antara saham individual, WPP dan Publicis masing-masing melesat 5,6% dan 4,4%, setelah laporan media menyebut Publicis memenangkan kontrak media PepsiCo.
Namun, saham sektor barang mewah menjadi pemberat utama pasar dengan kerugian sekitar 2%, seiring investor semakin berhati-hati terhadap prospek pemulihan industri tersebut. Saham LVMH melorot 1,8%, sedangkan Hermes dan Kering, pemilik merek Gucci, masing-masing merosot sekitar 2% dan 3%.
Sementara itu, Commerzbank melonjak 2,3% setelah bank asal Jerman tersebut mengumumkan program pembelian kembali saham baru senilai hingga USD1,39 miliar.
Deutsche Telekom juga menguat 1,1% setelah investor aktivis Elliott membangun kepemilikan saham di perusahaan telekomunikasi tersebut. (Reuters/CNBC)
Sumber : Admin