Ancaman Tarif Trump Dorong Aksi Jual, Wall Street Catat Kerugian Harian Terbesar dalam Tiga Bulan
Wednesday, January 21, 2026       05:16 WIB
  • Wall Street tumbang, mencatat penurunan harian terbesar dalam tiga bulan akibat kekhawatiran tarif baru AS terhadap Eropa.
  • Aksi risk-off meluas, mendorong lonjakan emas dan VIX, sementara saham, obligasi AS, dan kripto tertekan.
  • Pasar menimbang apakah isu tarif Greenland bersifat sementara atau berpotensi memicu volatilitas berkepanjangan.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street merosot, Selasa, mencatat penurunan harian terbesar dalam tiga bulan terakhir, di tengah aksi jual luas yang dipicu kekhawatiran investor atas ancaman tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Eropa, yang dinilai berpotensi memicu kembali volatilitas pasar global.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup anjlok 143,15 poin atau 2,06% menjadi 6.796,86, Nasdaq Composite Index ambles 561,07 poin atau 2,39% jadi 22.954,32, sementara Dow Jones Industrial Average menyusut 870,74 poin atau 1,76% ke posisi 48.488,59, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (20/1) atau Rabu (21/1) pagi WIB.
Aksi penghindaran risiko (risk-off) terjadi secara menyeluruh, mendorong harga emas melonjak ke rekor tertinggi baru, sementara biaya utang meningkat seiring tekanan jual kembali menghantam US Treasury. Bitcoin, yang kerap menjadi alternatif saat pasar tradisional bergejolak, turut melemah lebih dari 3%.
Ketiga indeks saham utama Wall Street tersebut membukukan kinerja harian terburuk sejak 10 Oktober, dengan S&P 500 dan Nasdaq sama-sama menembus ke bawah rata-rata pergerakan 50 hari (MA50).
Selasa menjadi kesempatan pertama bagi investor Amerika untuk merespons pernyataan Trump yang disampaikan pada akhir pekan, mengingat pasar keuangan AS libur pada Hari Martin Luther King Jr.
Trump menyatakan akan memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris--negara-negara yang sebelumnya telah dikenakan tarif oleh Amerika.
Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25% mulai 1 Juni dan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan yang memungkinkan Amerika Serikat membeli Greenland, tulis Trump dalam unggahan di  Truth Social.  Namun, para pemimpin Greenland--wilayah otonom Denmark--serta pemerintah Denmark menegaskan pulau tersebut tidak untuk dijual.
Kembalinya ancaman tarif ke pasar global mengingatkan pelaku pasar pada peristiwa "Liberation Day", April lalu, ketika kebijakan tarif Trump terhadap mitra dagang global mendorong S&P 500 mendekati wilayah bear market.
Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang kerap disebut sebagai "indeks ketakutan" Wall Street, melonjak 1,25 poin atau 6,63% menjadi 20,09, level penutupan tertinggi sejak 24 November.
Volume perdagangan juga meningkat tajam. Sekitar 20,6 miliar saham berpindah tangan di bursa Wall Street pada sesi Selasa, jauh di atas rata-rata 17,01 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Meski sentimen investor tertekan, pasar masih memperdebatkan apakah isu Greenland hanya memicu aksi jual reaktif jangka pendek atau berpotensi membawa dampak yang lebih panjang bagi pasar.
Managing Partner Harris Financial Group, Jamie Cox, menilai belum terlihat tanda-tanda investor meninggalkan pasar secara besar-besaran.
"Saya belum sampai pada kesimpulan bahwa apa yang terjadi dengan Greenland dan kembalinya ancaman tarif ini akan memicu koreksi di pasar saham," ujar Cox, seraya menambahkan dia akan terkejut jika pasar merosot 3% hingga 5% dalam sepekan ini.
Menurut Cox, faktor yang berpotensi lebih signifikan adalah kemungkinan intervensi otoritas Jepang di pasar keuangan.
Surat utang pemerintah Jepang anjlok, Selasa, mendorong imbal hasil ke rekor tertinggi, sementara saham Tokyo dan yen juga melemah setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyerukan pemilu cepat, yang mengguncang kepercayaan terhadap kesehatan fiskal negara itu.
Pergerakan tersebut ikut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Eropa berjangka panjang, sementara tekanan jual di pasar US Treasuries lebih terasa pada tenor jangka panjang.
Meski diwarnai ancaman tarif dan gejolak di pasar obligasi, kondisi ekonomi Amerika Serikat dinilai masih relatif kuat.
Investor akan mencermati serangkaian data ekonomi penting pekan ini, termasuk pembaruan PDB Amerika kuartal ketiga, data PMI Januari, serta laporan Personal Consumption Expenditures (PCE)--indikator inflasi pilihan Federal Reserve.
Musim laporan keuangan juga mulai memasuki fase lebih padat, dengan sejumlah emiten kakap dijadwalkan merilis kinerja kuartalan. Salah satunya Netflix, yang sahamnya ditutup turun 0,8% sebelum mengumumkan laporan keuangan setelah penutupan perdagangan. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Unitedhealth Group (2,24%)
-Coca-Cola Co (1,87%)
-Procter & Gamble Company (1,66%)
Saham berkinerja terburuk
-3M Company (-6,96%)
-International Business Machines (-4,69%)
-Nvidia Corporation (-4,38%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Albemarle Corp (5,83%)
-Constellation Brands Inc Class A (4,47%)
-Monster Beverage Corp (4,22%)
Saham berkinerja terburuk
-NetApp Inc (-9,35%)
-Dell Technologies Inc (-7,85%)
-Norwegian Cruise Line Holdings Ltd (-7,43%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
- INVO Fertility Inc (194,19%)
-Corvus Pharmaceuticals Inc (166,58%)
-Aclaris Therapeutics Inc (69,08%)
Saham berkinerja terburuk
-Synlogic Inc (-50,00%)
-Linkhome Holdings Inc (-44,77%)
-Venus Concept Inc (-44,38%)

Sumber : Admin