- Rupiah dibuka menguat ke Rp16.973 per dolar AS, naik 68 poin (0,40%) dari penutupan sebelumnya, didorong sentimen positif pasar atas harapan deeskalasi konflik Iran-AS-Israel.
- Analis Lukman Leong (Doo Financial Futures) menilai rupiah berpotensi bergerak dalam kisaran Rp16.900-Rp17.050, seiring sikap risk on investor setelah pernyataan Trump terkait penghentian operasi militer.
- Trump bersedia menghentikan perang meski Selat Hormuz tetap tertutup, dengan fokus melemahkan kekuatan militer Iran dan menekan lewat diplomasi, sementara opsi militer tidak lagi jadi prioritas utama.
Ipotnews - Harapan pelaku pasar terhadap deeskalasi perang antara Iran melawan Amerika dan Israel membuat nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar dalam perdagangan di awal April 2026.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (1/4) pukul 09.12 WIB, rupiah berada di level Rp16.973 per dolar AS, menguat 68 poin atau 0,40% dibandingkan penutupan Selasa (31/3) di Rp17.041 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on oleh harapan de-sekalasi dan berakhirnya perang di Timur Tengah.
"Harapan ini muncul dari pernyataan Trump. Range kurs rupiah hari ini diperkirakan Rp16.900 - Rp17.050 per dolar AS," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews pagi ini melalui pesan WhatsApp.
Arah kebijakan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran mulai menunjukkan pergeseran. Presiden Donald Trump dilaporkan bersedia mengakhiri operasi militer, bahkan jika Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global, tetap tertutup.
Sikap ini menandai perubahan signifikan dari pendekatan sebelumnya yang menempatkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas strategis. Kini, Gedung Putih justru mempertimbangkan skenario penghentian perang tanpa memastikan jalur tersebut kembali normal.
Menurut laporan Wall Street Journal dan Ria Novosti, Trump menilai upaya membuka selat justru berisiko memperpanjang konflik melampaui target operasi yang telah ditetapkan selama empat hingga enam minggu. Karena itu, Washington memilih fokus pada tujuan utama: melemahkan kemampuan angkatan laut Iran serta persediaan rudalnya, sambil menekan Teheran melalui jalur diplomasi.
Apabila pendekatan tersebut tidak membuahkan hasil, Amerika Serikat disebut akan mendorong sekutu di Eropa dan kawasan Teluk untuk mengambil alih inisiatif membuka kembali Selat Hormuz. Opsi militer tetap terbuka, namun tidak lagi menjadi prioritas utama dalam kalkulasi Washington saat ini.
Keputusan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan sejak operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai. Serangan dan balasan terus terjadi di kedua pihak, memperburuk situasi keamanan regional sekaligus mengganggu jalur pelayaran internasional.
Dampaknya terasa langsung pada Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan sebagian besar jalur tersebut tidak hanya menekan pasar energi global, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran akan krisis ekonomi yang lebih luas.
(Adhitya/AI)
Sumber : admin