- memproyeksikan kredit dan pembiayaan 2026 tumbuh 8%-10% serta DPK 7%-9%, dengan penyaluran kredit dilakukan lebih selektif di tengah perlambatan permintaan perumahan, khususnya segmen MBR.
- mempercepat diversifikasi melalui strategi Beyond Mortgage, dengan porsi kredit non-perumahan ditargetkan naik dari 20,4% pada Juni 2026 menjadi sekitar 30% pada 2030, termasuk melalui akuisisi portofolio kredit.
- Pertumbuhan bisnis diperkuat melalui pengembangan ekosistem dan pendapatan non-bunga, mencakup sektor kesehatan, pendidikan, pariwisata, pemerintah daerah, digital, serta bancassurance.
Ipotnews - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk () memproyeksikan pertumbuhan kredit dan pembiayaan sepanjang 2026 berada di kisaran 8%-10%, sementara dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan tumbuh 7%-9%.
Proyeksi tersebut menjadi bagian dari agenda konsolidasi perseroan di tengah strategi diversifikasi bisnis dan penguatan ekosistem di luar pembiayaan perumahan.
Berdasarkan materi Public Expose Live 2026 BTN pada Kamis (10/9), proyeksi pertumbuhan kredit dan pembiayaan tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi semester I 2026 yang telah mencapai 11,2%. Sementara itu, pertumbuhan DPK pada semester pertama tahun ini tercatat 6,6%, dengan target sepanjang 2026 sebesar 7%-9%.
"Untuk saat ini kami tidak berencana merevisi target tersebut dalam RBB kami. Kami memang memilih lebih selektif dalam melakukan penyaluran kredit saat ini. Jadi kami perkirakan pertumbuhan kredit tahun ini kalaupun lebih sedikit, hanya berkisar 10,1%," kata Direktur Utama , Nixon LP Napitupulu, dalam public ekspose yang berlangsung secara virtual hari ini.
Nixon mengakui saat ini terjadi perlambatan permintaan perumahan, terutama pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Akibatnya pembangunan infrastruktur perumahan untuk segmen MBR juga ikut melambat.
"Dengan kondisi seperti itu, kami tidak mematok target pertumbuhan KPR yang lebih tinggi dari tren yang sedang terjadi di industri properti saat ini," ucap Nixon.
Dalam menjaga kualitas pertumbuhan, BTN memproyeksikan rasio Cost of Credit (CoC) sepanjang tahun berada pada kisaran 1%-1,2%. Adapun rasio Non Performing Loan (NPL) gross ditargetkan berada di bawah 3%, setelah pada semester I 2026 tercatat sebesar 3%.
Strategi pertumbuhan BTN pada 2026 diarahkan tidak hanya melalui bisnis pembiayaan perumahan, tetapi juga memperbesar kontribusi segmen non-perumahan melalui agenda Beyond Mortgage. Perseroan menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat menjadi sekitar 30% dari total kredit pada 2030.
Porsi kredit non-perumahan tercatat meningkat dari 18% pada Maret 2026 menjadi 20,4% pada Juni 2026. BTN memproyeksikan porsinya mencapai 21,8% pada September 2026 sebelum meningkat menjadi sekitar 30% pada 2030. Dengan demikian, porsi kredit perumahan diperkirakan turun dari 79,6% pada Juni 2026 menjadi sekitar 70% pada 2030.
Diversifikasi tersebut dilakukan secara selektif melalui akuisisi portofolio kredit untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus memperoleh portofolio dengan karakteristik imbal hasil dan tenor yang lebih menarik. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah akuisisi portofolio kredit dari SMBC Indonesia.
Pada tahap pertama, BTN mengakuisisi portofolio kredit senilai Rp12,6 triliun dengan kebutuhan ATMR sekitar 50%. Portofolio tersebut memiliki rata-rata imbal hasil sekitar 13,7% dengan tenor kurang lebih tujuh tahun. Perseroan menilai akuisisi tersebut memberikan manfaat berupa diversifikasi kredit, peningkatan imbal hasil, pengurangan risiko konsentrasi, serta dukungan terhadap pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.
BTN kemudian melaksanakan tahap kedua akuisisi portofolio kredit pada 14 Agustus 2026 dengan nilai transaksi Rp7,3 triliun. Portofolio tersebut terdiri atas kredit yang dikelola institusi, termasuk ASABRI dan institusi lainnya. Setelah akuisisi, total NOA portofolio kredit BTN tercatat mencapai sekitar 344,6 ribu.
Selain melalui akuisisi, BTN memperluas sumber pertumbuhan dengan membangun pendekatan bisnis berbasis ekosistem. Perseroan mengembangkan kerja sama dengan sektor kesehatan, pendidikan, pariwisata, pemerintah daerah, hingga institusi keuangan.
Pada ekosistem kesehatan, BTN telah memperluas kerja sama dengan 26 rumah sakit, antara lain RS Fatmawati, RS Wahidin Sudirohusodo, dan RSUD Batanghari. Kerja sama tersebut mencakup penyediaan layanan finansial khusus dan pemanfaatan ekosistem bal korpora untuk mendukung kebutuhan finansial rumah sakit.
Di sektor pendidikan, BTN telah bekerja sama dengan 57 universitas, termasuk USU, UNNES, dan UNESA. Perseroan mengembangkan layanan keuangan yang mencakup institusi, dosen, tenaga pendidikan, serta mahasiswa, sekaligus memperluas kolaborasi pada pengembangan sumber daya manusia, riset, dan program strategis lainnya.
Ekspansi juga dilakukan di sektor pariwisata melalui kerja sama dengan sejumlah destinasi dan pelaku usaha, termasuk Taman Wisata Candi, Ancol, dan Taman Mini Indonesia Indah. BTN menyediakan solusi pembayaran, transaksi, dan layanan finansial terintegrasi untuk memperkuat aktivitas ekonomi dalam ekosistem pariwisata.
Sementara itu, kemitraan dengan pemerintah daerah terus diperluas. Hingga Juni 2026, BTN telah bekerja sama dengan 59 pemerintah daerah di Indonesia. Perseroan mengembangkan pengelolaan akun pemerintah daerah dan layanan treasury, termasuk penyediaan KPR dan kredit konsumer bagi ASN, layanan payroll, serta solusi keuangan lainnya.
Dari sisi digital, BTN memperkuat ekosistem melalui kemitraan strategis dengan platform seperti Rumah123 dan Pinhome. Integrasi tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan kepemilikan rumah yang lebih terintegrasi sekaligus meningkatkan engagement nasabah.
BTN juga memperluas ekosistem bal melalui kolaborasi dengan berbagai destinasi populer guna meningkatkan transaksi, interaksi, dan keterikatan nasabah. Strategi tersebut dilengkapi penguatan bundling dan cross-selling produk KPR, KAR, dan KRING serta penetrasi pada segmen institusi yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
(Adhitya/AI)
Sumber : admin