- Bursa Eropa menguat di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah.
- Risiko energi meningkat, menekan ekonomi dan memicu inflasi.
- Pasar beralih ke ekspektasi kenaikan suku bunga ECB.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa menguat, Selasa, setelah mengalami sesi yang bergejolak, seiring investor menimbang harapan meredanya konflik di Timur Tengah dengan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi jangka panjang.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,43% atau 2,50 poin menjadi 579,28, setelah sempat melemah hingga 0,7% di awal sesi. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas tinggi yang dipicu oleh perkembangan geopolitik yang cepat berubah, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Selasa (24/3) atau Rabu (25/3) dini hari WIB.
Bursa regional utama berakhir variatif. Indeks DAX Jerman melemah tipis 0,07% atau 16,95 poin jadi 22.636,91, sementara FTSE 100 Inggris melompat 0,72% atau 71,01 poin ke posisi 9.965,16 dan CAC Prancis menguat 0,23% atau 17,72 poin menjadi 7.743,92.
Kenaikan dipimpin saham sektor telekomunikasi dan energi yang masing-masing melonjak 2,5% dan 2,4%. Sebaliknya, saham sektor pertahanan melorot 1,1%, sementara sektor keuangan melemah 0,7%.
Sektor perjalanan dan rekreasi yang sensitif terhadap harga minyak--dan termasuk yang paling terpukul dalam aksi jual sebelumnya--hanya mampu naik tipis 0,1%.
Sepanjang pekan ini, pasar bergerak fluktuatif antara zona hijau dan merah, dipengaruhi perubahan cepat dalam retorika antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump, Senin, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan yang "sangat kuat" dengan Iran, meski klaim tersebut dibantah secara terbuka oleh Teheran.
Ketegangan semakin meningkat karena Selat Hormuz--jalur penting yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak global--sebagian besar ditutup sejak konflik dimulai. Dalam beberapa hari terakhir, infrastruktur energi di Timur Tengah juga menjadi sasaran serangan, memperburuk ketidakpastian di pasar global.
Analis Morgan Stanley menilai skenario dasar untuk harga energi kini bergeser lebih tinggi. Mereka memperingatkan bahwa risiko baik dalam skenario eskalasi maupun de-eskalasi meningkat, karena gangguan tidak lagi terbatas pada jalur distribusi, tetapi telah merambah ke produksi energi.
Ketergantungan ekonomi Eropa pada impor minyak membuat kawasan ini rentan terhadap guncangan pasokan yang berkepanjangan, yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi.
Dampak konflik juga mulai tercermin dalam data ekonomi. Survei terbaru menunjukkan pertumbuhan sektor swasta zona euro melambat tajam pada Maret. Di Jerman, pertumbuhan berada di titik terlemah dalam tiga bulan terakhir, sementara Prancis justru mengalami kontraksi terdalam sejak Oktober.
Kepala Ekonom Pantheon Macroeconomics, Claus Vistesen, mengatakan pembuat kebijakan yang cenderung dovish kemungkinan akan menggunakan data ini untuk mendorong kehati-hatian dalam pengetatan kebijakan. Namun, dia memperkirakan seruan tersebut tidak akan banyak berpengaruh seiring masuknya data inflasi yang lebih tinggi.
Pasar saat ini memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh European Central Bank pada 2026. Ekspektasi ini berbalik tajam dibandingkan sebelum konflik, ketika suku bunga diperkirakan tetap stabil sepanjang tahun.
Dari sisi emiten, saham perusahaan kecantikan Puig melambung 13% setelah Este Lauder dan grup asal Spanyol tersebut mengumumkan pembicaraan terkait potensi merger.
Sementara itu, perusahaan menara telekomunikasi terbesar Italia, INWIT, melesat 9,9% di tengah laporan adanya tawaran akuisisi.
Di sisi lain, saham pengembang properti Bellway anjlok 17,5% setelah memangkas proyeksi margin operasional untuk tahun fiskal 2026.
Raksasa perangkat lunak SAP juga menyusut 4% setelah J.P. Morgan menurunkan ratingnya, dari "overweight" menjadi "neutral", yang turut menekan indeks DAX. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin