Bursa Ekuitas Eropa Tergelincir, Tarif Baru Trump Picu Ketidakpastian Global
Tuesday, February 24, 2026       03:20 WIB
  • Bursa Eropa turun dipicu ketidakpastian tarif baru AS.
  • DAX memimpin pelemahan, kekhawatiran ganggu perdagangan global.
  • Sektor kesehatan & keuangan tertekan, energi jadi penopang.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa tergelincir, Senin, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif impor baru yang bersifat menyeluruh.
Indeks saham kawasan Eropa, STOXX 600, ditutup melemah 0,45% atau 2,86 poin menjadi 627,70, setelah sebelumnya mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak awal Januari, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Senin (23/2) atau Selasa (24/2) dini hari WIB.
Tekanan paling besar dialami indeks DAX Jerman--yang didominasi saham eksportir--dengan penurunan 1,06% atau 268,72 poin jadi 24.991,97. Sementara, FTSE 100 Inggris berkurang 0,02% atau 2,15 poin ke posisi 10.684,74 dan CAC Prancis menyusut 0,22% atau 18,32 poin menjadi 8.497,17.
Padahal, pada pekan lalu, indeks pan-Eropa sempat mencetak rekor tertinggi setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif yang sebelumnya diberlakukan Trump terhadap sejumlah negara di dunia.
Namun, sentimen pasar berubah cepat. Pada akhir pekan, Trump mengumumkan tarif baru sebesar 10% yang kemudian dinaikkan menjadi 15%. Kebijakan ini memicu ketidakjelasan terhadap keberlanjutan berbagai kesepakatan dagang, termasuk dengan Uni Eropa. Komisi Eropa sendiri menegaskan tidak akan melakukan perubahan terhadap kesepakatan yang ada.
Analis Rabobank, Benjamin Picton, menilai kebijakan tersebut akan terus menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar. Investor dinilai masih kesulitan menghitung dampak kebijakan yang dinamis dan belum pasti.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya bagi pelaku usaha, baik untuk memahami aturan baru, menempuh jalur hukum atas bea masuk yang dinilai tidak sah, maupun menyesuaikan kembali rantai pasok global.
Ketegangan dagang AS juga semakin kompleks, termasuk terkait isu Greenland serta upaya Washington mengubah tatanan keamanan global. Kondisi ini mendorong kawasan zona euro memperluas kerja sama dengan Asia dan Amerika Latin, sekaligus memperkuat kolaborasi internal di Eropa.
Dari sisi sektoral, saham kesehatan menjadi salah satu penekan utama dengan kejatuhan 1,4%. Saham Novo Nordisk anjlok 16,5% setelah obat obesitas eksperimentalnya, CagriSema, gagal memenuhi target utama dalam uji klinis, khususnya dalam membuktikan efektivitasnya dibandingkan obat pesaing milik Eli Lilly, Tirzepatide.
Sektor industri juga mencatat penurunan signifikan, terbebani oleh saham Siemens Energy dan Airbus. Sementara itu, sektor jasa keuangan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 2,1%.
Di sisi lain, saham energi justru mencatat rekor tertinggi, mengikuti kenaikan harga minyak global. Sektor utilitas menjadi satu-satunya penopang pasar dengan lompatan 1,1%, didorong lonjakan saham Enel sebesar 6,8% setelah perusahaan listrik terbesar Italia itu mengumumkan peningkatan belanja modal dalam tiga tahun ke depan, dengan fokus pada energi terbarukan di Eropa dan Amerika.
Sektor pertahanan turut melorot 1,6% setelah muncul laporan bahwa Iran bersedia memberikan konsesi terkait program nuklirnya, dengan syarat tertentu dari Amerika dipenuhi.
Saham perusahaan teknologi pertahanan Prancis, Exosens, ambles 9,6% setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi, meskipun perusahaan tersebut menaikkan proyeksi kinerja jangka menengahnya.
Sementara itu, saham Johnson Matthey anjlok 16,3% setelah perusahaan sepakat memangkas harga penjualan unit bisnis teknologi katalis kepada Honeywell, menyusul kinerja unit tersebut yang mengecewakan pada tahun fiskal 2025. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin