Bursa Eropa Anjlok Akibat Konflik Timur Tengah, Ancaman Lonjakan Harga Minyak Membayangi
Friday, March 06, 2026       03:23 WIB
  • Bursa Eropa jatuh akibat meningkatnya tensi konflik AS-Israel vs Iran yang memicu kekhawatiran lonjakan harga energi.
  • Mayoritas sektor melemah, terutama industri, perbankan, perjalanan, dan tambang.
  • Risiko inflasi naik dan pertumbuhan melambat, membuat suku bunga Eropa diperkirakan tetap tinggi lebih lama.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa merosot, Kamis, setelah reli tajam sehari sebelumnya, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan terhadap kapal tanker yang terus terjadi memicu ketakutan lonjakan harga minyak serta dampaknya terhadap perekonomian global.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melorot 1,29 persen atau 7,88 poin menjadi 604,83, setelah sempat menguat hingga 0,6 persen di awal perdagangan, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Kamis (5/3) atau Jumat (6/3) dini hari WIB. Pelemahan ini terjadi sehari setelah indeks tersebut mencatat kinerja harian terbaiknya dalam lebih dari tiga bulan.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman anjlok 1,61 persen atau 389,61 poin jadi 23.815,75, FTSE 100 Inggris menyusut 1,45 persen atau 153,71 poin ke posisi 10.413,94 dan CAC Prancis kehilangan 1,49 persen atau 121,93 poin jadi 8.045,80.
Sektor industri yang berorientasi ekspor menjadi penekan terbesar bagi indeks pan-Eropa. Saham sektor ini merosot sekitar 2,4 persen.
Saham perusahaan energi Jerman, Siemens Energy, turun sekitar 6 persen. Sementara itu, saham perusahaan pertahanan seperti Rolls-Royce Holdings dan Rheinmetall masing-masing berkurang lebih dari 5 persen.
Secara keseluruhan, indeks sektor kedirgantaraan dan pertahanan Eropa melemah 4,2 persen, mencatat penurunan harian paling tajam sejak April.
Gejolak pasar terjadi seiring meningkatnya ketegangan dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki hari keenam. Senat AS memblokir sebuah mosi yang bertujuan menghentikan kampanye serangan udara Amerika. Sementara itu, semakin banyak negara Teluk terseret dalam konflik tersebut, memperbesar risiko gangguan pada infrastruktur energi dan jalur pelayaran global.
"Semakin sulit melihat penyelesaian cepat untuk konflik di Timur Tengah. Hal ini memaksa pasar meninjau kembali ekspektasi mereka terhadap suku bunga dalam beberapa bulan ke depan," kata Danni Hewson, Head of Financial Analysis AJ Bell.
Selain sektor industri, saham perbankan di Eropa juga tersungkur sekitar 1,7 persen. Saham sektor perjalanan dan rekreasi melemah 1,8 persen, sementara saham perusahaan tambang jatuh 3,8 persen seiring penurunan harga logam.
Analis Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, mengatakan volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut. "Lebih baik mengambil langkah mundur. Jika konflik tidak berakhir secara cepat dan jelas, volatilitas pasar kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa minggu ke depan," ujarnya.
Eropa masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas alam cair (LNG). Gangguan pasokan akibat konflik berpotensi mendorong kenaikan biaya energi dan transportasi, di tengah pertumbuhan ekonomi kawasan yang masih lemah.
Sejumlah perumus kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan bahwa inflasi di zona euro berpotensi meningkat sementara pertumbuhan ekonomi bisa melambat apabila konflik meluas ke lebih banyak negara.
Bank investasi Morgan Stanley bahkan memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga tetap hingga 2026 karena meningkatnya risiko inflasi akibat konflik tersebut.
Di tengah tekanan pasar, beberapa saham perusahaan menunjukkan pergerakan yang kontras. Perusahaan pengendalian hama asal Inggris, Rentokil Initial, menjadi saham dengan kenaikan terbesar di indeks STOXX 600 setelah melejit 10,7 persen. Lonjakan ini terjadi setelah perusahaan melaporkan kenaikan laba sebelum pajak tahunan yang disesuaikan sebesar 4 persen.
Sebaliknya, perusahaan logistik Jerman DHL Group melorot 4,6 persen setelah melaporkan penurunan laba operasional kuartal keempat sebesar 1,3 persen, terutama akibat melemahnya bisnis pengiriman kargo.
Sementara itu, saham perusahaan pembayaran asal Italia, Nexi, ambles hingga 22 persen dan mencetak rekor terendah baru setelah mengumumkan strategi tiga tahun untuk menghadapi tantangan yang semakin berat di sektor pembayaran digital Eropa. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin