Bursa Eropa Ceria di Tengah Konflik Iran, Saham Teknologi dan Tambang Jadi Penopang
Thursday, May 14, 2026       04:37 WIB
  • Bursa Eropa menguat dipimpin saham tambang setelah harga logam naik global.
  • Laporan keuangan positif mendorong saham Merck, Allianz, dan ABN Amro melonjak.
  • Investor tetap waspada terhadap lonjakan harga minyak dan risiko inflasi akibat konflik Iran.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di area positif, Rabu, ditopang kenaikan tajam saham pertambangan di tengah kehati-hatian investor yang masih mencermati dampak ekonomi dari lonjakan harga minyak akibat perang Iran.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melompat 0,79 persen atau 4,79 poin menjadi 611,42, setelah sehari sebelumnya sempat merosot sekitar 1 persen, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Rabu (13/5) atau Kamis (14/5) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga menghijau. Indeks DAX Jerman menguat 0,76 persen atau 181,88 poin jadi 24.136,81, FTSE 100 Inggris bertambah 0,58 persen atau 60,03 poin jadi 10.325,35 dan CAC Prancis naik 0,35 persen atau 28,05 poin ke posisi 8.007,97.
Penguatan terbesar datang dari sektor basic resources yang melonjak 4,4 persen hingga mencetak rekor tertinggi baru. Kenaikan tersebut mengikuti reli harga logam dasar global dan sekaligus memperkokoh posisi sektor tambang sebagai sektor berkinerja terbaik di Eropa sepanjang tahun ini.
Musim laporan keuangan kuartal pertama yang mulai mendekati akhir juga turut menopang sentimen pasar. Berdasarkan data yang dihimpun LSEG , laba perusahaan Eropa diperkirakan meningkat 10,2 persen pada kuartal pertama tahun ini, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Salah satu penggerak utama pasar datang dari perusahaan farmasi asal Jerman, Merck, yang menaikkan proyeksi laba operasional tahunan setelah penyesuaian. Kabar tersebut mendorong saham perusahaan melesat 7,2 persen.
Sementara itu, perusahaan asuransi Allianz naik 1 persen setelah membukukan lonjakan laba bersih kuartal pertama sebesar 52 persen.
Bank asal Belanda, ABN Amro, juga melambung 8,6 persen usai mencatat laba kuartalan di atas ekspektasi analis, sekaligus menjadi kenaikan harian terbesar saham tersebut sejak Februari tahun lalu.
Analis Van Lanschot Kempen, Joost van Leenders, mengatakan investor masih bersikap hati-hati terhadap prospek pertumbuhan laba perusahaan sepanjang tahun ini.
Menurut dia, proyeksi pertumbuhan laba tahunan memang terlihat jauh lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya, namun pasar masih menunggu apakah ekspektasi tersebut benar-benar dapat terealisasi.
Meski berhasil menguat pada perdagangan Rabu, kinerja indeks STOXX 600 sepanjang tahun ini masih tertinggal dibanding pasar saham Amerika Serikat dan Asia. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya eksposur Eropa terhadap saham-saham AI hardware yang sedang menjadi motor utama reli global.
Sepanjang kuartal ini, STOXX 600 tercatat naik 4,7 persen. Angka tersebut jauh di bawah kenaikan indeks S&P 500 Wall Street yang mencapai 13,8 persen. Sementara itu, indeks acuan di Taiwan dan Korea Selatan masing-masing melejit sekitar 30 persen dan 55 persen.
Namun demikian, saham semikonduktor Eropa mulai menunjukkan kebangkitan. Infineon Technologies, STMicroelectronics, dan Aixtron masing-masing melonjak sekitar 10 persen pada perdagangan Rabu.
Chief Market Analyst Interactive Brokers, Steve Sosnick, menilai saham-saham Eropa mulai terlihat menarik secara valuasi bagi investor global. Menurut dia, reli pasar Eropa memang belum sebesar yang terjadi di Amerika Serikat maupun beberapa negara Asia. Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor internasional untuk melihat saham Eropa sebagai opsi investasi dengan nilai relatif lebih murah.
Di tingkat global, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan tingkat tinggi di Beijing antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Pasar mencermati apakah Trump akan menekan China agar menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut masih menghadapi pembatasan dari Iran, sehingga harga minyak tetap bertahan di atas USD100 per barel meskipun gencatan senjata antara Washington dan Teheran telah diberlakukan.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Kondisi itu membuat pasar uang mulai memperkirakan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga lebih dari dua kali hingga akhir tahun ini. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin