Bursa Eropa Cetak Rekor Tertinggi, Kejatuhan Saham AI Tak Mampu Bendung Reli Pasar
Friday, July 03, 2026       03:30 WIB
  • Bursa Eropa cetak rekor tertinggi usai data tenaga kerja AS melemah.
  • Sektor kesehatan naik, saham teknologi terkait AI turun.
  • Pasar masih memperkirakan ECB kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa mencetak rekor tertinggi baru, Kamis, didorong kenaikan hampir di seluruh sektor yang berhasil mengimbangi tekanan pada saham terkait kecerdasan buatan (AI). Sentimen positif juga datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan sehingga meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melonjak 1,41% atau 9,04 poin menjadi 648,35, level tertinggi sepanjang sejarah, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Kamis (2/7) atau Jumat (3/7) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga semringah. Indeks DAX Jerman melambung 2,16% atau 540,60 poin jadi 25.580,88, FTSE 100 Inggris meningkat 1,67% atau 174,53 poin ke posisi 10.652,87 dan CAC Prancis menguat 1,65% atau 137,57 poin menjadi 8.474,86.
Data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat melambat lebih tajam dari perkiraan sepanjang Juni. Selain itu, data pertumbuhan payroll untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah, mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai mendingin.
Perkembangan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi spekulasi mengenai peluang kenaikan suku bunga the Fed dalam waktu dekat. Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek kini mencerminkan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga oleh the Fed, turun dari sekitar 75% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Analis Quilter, Lindsay James, mengatakan fundamental ekonomi AS yang tetap kuat mendorong the Fed mengadopsi sikap yang lebih hawkish dalam beberapa pekan terakhir. Namun, menurutnya, tekanan inflasi yang mulai mereda serta ketidakpastian kebijakan yang masih membayangi pemerintahan saat ini membuka kemungkinan bahwa kenaikan suku bunga tambahan tidak akan terjadi.
Kenaikan pasar Eropa dipimpin sektor kesehatan yang melesat 3,3%. Saham produsen farmasi Bayer melambung 8,9% setelah perusahaan mengumumkan konsolidasi bisnis Roundup di Amerika Serikat ke dalam unit baru bernama Ruveon. Langkah tersebut menyusul kemenangan hukum penting yang berhasil menggagalkan ribuan gugatan di pengadilan negara bagian terkait tuduhan bahwa herbisida Roundup menyebabkan kanker.
Sektor yang berorientasi pada konsumen juga mencatat kinerja positif. Indeks barang pribadi dan rumah tangga melompat 2%, sementara sektor makanan dan minuman menguat 2,2%. Saham-saham pertahanan turut menanjak dengan indeks kedirgantaraan dan pertahanan melonjak 3,1%.
Di sisi lain, sektor teknologi menjadi satu-satunya yang berakhir di wilayah negatif dengan penurunan 2,1%. Saham Soitec merosot 4,2%, sedangkan Aixtron anjlok sekitar 10%, menjadi saham dengan kinerja terburuk di STOXX 600. Pelemahan ini terjadi setelah saham-saham yang terkait AI mengalami aksi jual tajam di bursa Asia maupun Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Analis AJ Bell, Daniel Coatsworth, menilai investor mulai mempertanyakan apakah seluruh sentimen positif terkait belanja AI telah sepenuhnya tercermin dalam valuasi saham pemasok teknologi.
Menurutnya, saham-saham tersebut telah mencatat reli yang sangat kuat sehingga memicu kekhawatiran bahwa ruang kenaikan harga mulai terbatas.
Dari kawasan Eropa, data yang dirilis pada Rabu menunjukkan inflasi zona euro pada Juni meningkat lebih rendah dari ekspektasi. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, juga menyatakan risiko terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi kini lebih seimbang dibandingkan beberapa pekan lalu.
Meski demikian, data yang dihimpun LSEG memperlihatkan pelaku pasar masih memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin lagi sebelum akhir tahun.
Di tingkat emiten, saham perusahaan katering asal Prancis, Sodexo, melejit 7,4% setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan organik sepanjang tahun, didukung kinerja kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi.
Sementara itu, Goldman Sachs menyatakan hambatan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Uni Eropa bukan berasal dari membengkaknya defisit perdagangan dengan China, melainkan hilangnya pangsa pasar perusahaan-perusahaan Eropa akibat meningkatnya daya saing negara tersebut. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin