- STOXX 600 turun 0,19%, ditekan sektor teknologi, ritel, serta melemahnya harga emas dan tembaga.
- Ritel Inggris terpuruk, dipicu lemahnya belanja konsumen dan peringatan laba sejumlah peritel besar.
- Saham pertahanan menguat, mencetak rekor di tengah dorongan peningkatan belanja militer AS.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona merah, Kamis, tertekan aksi jual di sektor teknologi serta laporan kinerja yang mengecewakan dari sejumlah peritel besar. Pelemahan harga emas dan tembaga turut memperburuk sentimen pasar secara keseluruhan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah 0,19% atau 1,16 poin menjadi 603,83, mencatatkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (8/1) atau Jumat (9/1) dini hari WIB.
Koreksi ini sekaligus mendinginkan reli awal 2026, setelah indeks tersebut membuka tahun dengan serangkaian rekor tertinggi. Kondisi tersebut menegaskan bahwa musim laporan keuangan berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi selera risiko investor.
Sektor teknologi menjadi penekan terbesar bagi indeks, dengan penurunan mencapai 2,2%. Saham ritel juga terkoreksi 0,6%, mengakhiri tren penguatan empat hari beruntun. Di sisi lain, saham perusahaan tambang merosot 1,6% seiring melemahnya harga emas dan tembaga.
Di tengah tekanan luas tersebut, indeks saham dirgantara dan pertahanan STOXX justru mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Penguatan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyerukan peningkatan belanja pertahanan, yang memicu minat beli pada saham-saham sektor tersebut.
Di luar pergerakan indeks utama, saham Puma melambung 8,5% menyusul laporan yang menyebutkan perusahaan olahraga asal China, Anta Sports Products, mengajukan tawaran untuk membeli 29% saham Puma dari keluarga Pinault asal Prancis.
Bursa regional utama berakhir variatif. Indeks DAX Jerman naik tipis 0,02% atau 5,20 poin menjadi 25.127,46 dan CAC Prancis menguat 0,12% atau 9,55 poin jadi 8.243,47, sedangkan FTSE 100 Inggris berkurang 0,04% atau 3,52 poin ke posisi 10.044,69.
Kinerja Ritel Mengecewakan
Tekanan paling nyata terlihat di sektor ritel Inggris. Pembaruan kinerja terbaru menunjukkan konsumen masih berada dalam kondisi rapuh: belanja kebutuhan pokok relatif stabil, namun pengeluaran untuk pakaian dan hadiah Natal cenderung ditahan.
Saham Associated British Foods anjlok 14% ke level terendah sejak April, setelah pemilik merek Primark itu memperingatkan penurunan laba tahunan.
Sentimen negatif juga menular ke Greggs, yang menyatakan kepercayaan konsumen masih lemah, sehingga sahamnya melorot 6,5%. Sementara itu, Tesco merosot 6,7% usai melaporkan penjualan kuartal ketiga.
Berbeda dengan mayoritas peritel, Marks & Spencer justru melesat 5%. Perusahaan tersebut melaporkan permintaan Natal yang solid untuk lini makanan premium, meski penjualan fesyen dan perlengkapan rumah tangga mengalami pelemahan.
Pergerakan pasar ini terjadi menjelang dimulainya musim laporan keuangan pertama pada 2026. Investor kini mencermati apakah peritel mampu bertahan di tengah kombinasi menantang berupa kelelahan akibat inflasi dan perubahan pola belanja konsumen.
Di sisi lain, perkembangan berita terkait Venezuela masih terus mengalir ke pasar. Meski pelaku pasar tampak semakin kebal terhadap isu tersebut, aliran berita yang konsisten tetap menambah lapisan ketidakpastian, membuat sebagian investor bimbang antara memanfaatkan koreksi atau justru mengurangi risiko.
"Investor saat ini menghadapi kombinasi risiko makroekonomi dan geopolitik yang sudah akrab. Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, ketidakpastian fiskal, serta hiruk-pikuk kebijakan mendorong posisi yang lebih defensif. Sementara itu, absennya katalis jangka pendek yang jelas mengurangi keyakinan untuk terus mengejar kenaikan pasar," ujar Daniela Hathorn, analis Capital.com. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin