- Bursa Eropa stagnan di tengah pantauan konflik Timur Tengah dan laporan keuangan.
- Lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik tekan prospek ekonomi.
- Teknologi naik, sektor keuangan dan maskapai melemah.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa nyaris tidak berubah pada akhir perdagangan Kamis, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan menuju kemungkinan penyelesaian konflik di Timur Tengah serta gelombang terbaru laporan kinerja perusahaan.
Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun tipis 0,05% atau 0,32 poin menjadi 616,95, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (16/4) atau Jumat (17/4) dini hari WIB.
Pergerakan bursa regional variatif, dengan DAX Jerman menguat 0,36% atau 87,77 poin jadi 24.154,47 dan FTSE 100 Inggris naik 0,29% atau 30,41 poin ke posisi 10.589,99, sedangkan CAC Prancis melemah 0,14% atau 11,87 poin menjadi 8.262,70.
Pemerintah Jerman dilaporkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 hingga setengahnya dan menurunkan estimasi pertumbuhan untuk 2027. Pada saat bersamaan, proyeksi inflasi justru dinaikkan akibat lonjakan harga minyak, menurut sumber yang dikutip Reuters.
Optimisme pasar sempat meningkat dengan munculnya harapan bahwa konflik Iran dapat segera berakhir. Namun, Teheran memperingatkan, masa depan program nuklirnya masih belum menemukan titik terang, sehingga ketidakpastian tetap membayangi.
Indeks STOXX 600 hampir berhasil memulihkan seluruh kerugian sejak konflik pecah. Meski demikian, kekhawatiran masih bertahan terkait dampak kenaikan harga minyak yang berkepanjangan terhadap ekonomi Eropa, yang sangat bergantung pada impor energi.
Chief Investment Strategist BNP Paribas Wealth Management, Stephan Kemper, menilai pergerakan pasar saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil di Eropa. Dia menekankan bahwa sektor industri yang lebih luas justru cenderung tertekan oleh kenaikan harga energi.
Menurutnya, semakin lama konflik berlangsung, pasar akan mulai menyadari bahwa dampaknya tidak hanya soal apakah jalur strategis seperti Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi juga seberapa besar kerusakan ekonomi yang sudah terjadi dan potensi gangguan terhadap skenario pertumbuhan yang diharapkan.
Di tengah musim laporan keuangan perusahaan Eropa yang sedang berlangsung, investor mencari petunjuk penting terkait sejauh mana ketidakpastian geopolitik memengaruhi kinerja korporasi.
Secara sektoral, saham teknologi dan energi menjadi penopang utama indeks dengan kenaikan masing-masing 1,5 persen dan 0,7 persen.
Perusahaan perangkat lunak mencatat penguatan, dipimpin SAP Jerman yang melesat 3,5 persen, sementara Dassault Systemes dan Capgemini melonjak lebih dari 2,5 persen.
Sebaliknya, saham sektor keuangan menjadi pemberat utama dengan penurunan sekitar 1 persen. Saham pertahanan juga melorot 1,8 persen, dipicu kejatuhan Safran sebesar 3,4 persen dan Rolls-Royce -2,4 persen.
Sektor perjalanan dan rekreasi turut tertekan. Maskapai Ryanair anjlok 6,4 persen. Lufthansa Jerman menjadi maskapai besar pertama yang menghentikan sebagian penerbangan akibat tingginya biaya bahan bakar jet. Sementara itu, easyJet Inggris melaporkan pemesanan tiket yang tertinggal dibandingkan tahun lalu. Saham Lufthansa dan easyJet masing-masing merosot 3,4 persen dan 5 persen.
Pada pergerakan saham individu, produsen cokelat asal Swiss, Barry Callebaut, ambles 15,6 persen setelah memangkas proyeksi laba operasional setahun penuh.
Sebaliknya, perusahaan taruhan Entain melambung 6 persen setelah mencatat kenaikan pendapatan permainan bersih sebesar 3 persen pada kuartal pertama.
Sementara itu, Intertek melejit 9 persen setelah perusahaan pengujian produk tersebut menolak proposal akuisisi dari firma ekuitas Swedia EQT AB. Manajemen menilai tawaran sebesar 51,5 pound per saham tersebut masih jauh di bawah nilai wajar perusahaan. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin