Bursa Eropa Merah usai Serangan AS di Iran, Pasar Mulai Ragu Perdamaian Terwujud
Wednesday, May 27, 2026       04:20 WIB
  • Bursa Eropa melemah akibat ketidakpastian konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak.
  • STOXX 600, DAX, dan CAC turun, sementara FTSE 100 naik tipis.
  • Pasar memperkirakan ECB masih akan menaikkan suku bunga tahun ini.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona merah, Selasa, setelah meningkatnya keraguan terhadap prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran menekan sentimen investor. Kekhawatiran muncul menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat di wilayah selatan Iran, yang disebut Washington sebagai tindakan defensif.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,57 persen atau 3,62 poin menjadi 628,01, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Selasa (26/5) atau Rabu (27/5) dini hari WIB.
Pelemahan ini terjadi sehari setelah indeks tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 27 Februari, atau sehari sebelum konflik dimulai, dan sempat mendekati rekor tertinggi sepanjang masa seiring optimisme bahwa perdamaian di kawasan Timur Tengah dapat segera tercapai.
Namun, perkembangan terbaru terkait serangan tersebut serta pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyatakan negosiasi kesepakatan dengan Iran kemungkinan masih membutuhkan "beberapa hari", meredam ekspektasi pasar. Investor kini mencermati berbagai sinyal yang berpotensi menunjukkan eskalasi konflik lebih lanjut.
Ketidakpastian geopolitik mendorong harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 4 persen. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi di kawasan euro yang sangat bergantung pada impor minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Sebagian besar bursa utama Eropa bergerak di area negatif. Indeks DAX Jerman melorot 0,80 persen atau 204,21 poin ke posisi 25.184,89 dan CAC Prancis menyusut 1,03 persen atau 85,15 poin jadi 8.173,11. Indeks FTSE 100 Inggris menjadi pengecualian dengan kenaikan 0,24 persen atau 25,13 poin menjadi 10.491,39, didukung penyesuaian perdagangan setelah pasar Inggris libur pada Senin.
Meski demikian, penguatan indeks Inggris tertahan oleh kejatuhan saham raksasa energi BP sebesar 4 persen setelah perusahaan secara mendadak memberhentikan Chairman Albert Manifold.
Tekanan juga datang dari sektor otomotif. Saham produsen mobil sport mewah Ferrari anjlok 8,4 persen setelah perusahaan meluncurkan mobil listrik penuh pertamanya. Langkah tersebut dilakukan ketika sejumlah pesaing seperti Porsche dan Lamborghini justru mulai mengurangi ambisi kendaraan listrik (EV) karena lemahnya permintaan pasar.
Penurunan saham Ferrari menjadi yang terbesar sejak Oktober dan turut membebani sektor otomotif serta suku cadang Eropa yang terkoreksi 1,9 persen.
Pelaku pasar juga menyoroti komentar anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB), Isabel Schnabel, yang menyatakan bank sentral masih perlu menaikkan suku bunga pada Juni, bahkan jika pembicaraan damai dengan Iran menghasilkan kesepakatan.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Berdasarkan data yang dihimpun LSEG , pasar saat ini memperkirakan sekitar 90 persen peluang ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juni, disertai potensi sedikitnya dua kali kenaikan tambahan masing-masing 25 basis poin hingga akhir tahun.
Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, menilai pasar kemungkinan terlalu melebihkan sejauh mana pengetatan suku bunga akan dilakukan bank sentral dan belum sepenuhnya memperhitungkan dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Menurut dia, meski suku bunga dapat tetap berfluktuasi dalam jangka pendek seiring respons bank sentral terhadap risiko inflasi, perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) berpotensi menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan arah pasar ke depan. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin