- Bursa Eropa jatuh akibat ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga minyak.
- Saham teknologi, pertahanan, dan perbankan kompak melemah.
- Inflasi dan potensi kenaikan suku bunga ECB menekan sentimen pasar.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa tersungkur, Selasa, setelah memudarnya harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu kenaikan harga minyak serta memperburuk sentimen risiko global.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup merosot 1,01% atau 6,16 poin menjadi 606,63, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Selasa (12/5) atau Rabu (13/5) dini hari WIB.
Seluruh bursa utama di kawasan Eropa bergerak di zona merah, dengan DAX Frankfurt memimpin penurunan setelah menyusut 1,62% atau 395,35 poin jadi 23.954,93. Sementara, FTSE 100 Inggris turun tipis 0,04% atau 4,11 poin ke posisi 10.265,32 dan CAC 40 Prancis berkurang 0,95% atau 76,46 poin menjadi 7.979,92.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz terus membayangi pasar keuangan Eropa. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi perhatian utama investor karena berperan penting dalam distribusi minyak dunia. Ancaman terhadap pasokan energi dinilai dapat memperbesar tekanan ekonomi akibat lonjakan harga minyak mentah.
Sektor teknologi menjadi penyumbang pelemahan terbesar setelah anjlok 3,1%. Penurunan ini mengikuti aksi jual besar-besaran pada saham kecerdasan buatan dan produsen chip di Wall Street. Padahal, dalam beberapa pekan terakhir saham teknologi global sempat mengalami reli kuat dan menjadi salah satu sektor dengan kinerja terbaik di Eropa.
Kepala Makro Lombard Odier Investment Managers, Florian Ielpo, mengatakan kenaikan harga minyak kembali menunjukkan tingginya ketergantungan energi Eropa terhadap kawasan luar.
Menurutnya, ketergantungan tersebut memberikan tekanan lebih besar terhadap perusahaan-perusahaan Eropa dibandingkan wilayah lain. Ielpo juga menilai kondisi itu menjadi pengingat bahwa Eropa tidak hanya bergantung pada energi, tetapi juga pada aspek militer dan keamanan, sehingga membuat kawasan tersebut berada dalam "belenggu ketergantungan".
Tekanan inflasi turut menjadi perhatian pasar. Estimasi final menunjukkan inflasi Jerman naik menjadi 2,9% pada April. Sementara di Amerika Serikat, inflasi konsumen tercatat meningkat dalam laju yang stabil untuk bulan kedua berturut-turut.
Situasi geopolitik semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi "bertahan hidup". Pernyataan itu muncul setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri konflik dan justru mengajukan sejumlah tuntutan baru yang oleh Trump disebut sebagai "omong kosong".
Saham sektor pertahanan juga terus berada dalam tekanan. Indeks sektor tersebut melorot 1,8% dan mencatat pelemahan selama empat hari berturut-turut.
Dari Inggris, ketidakpastian politik turut memperburuk sentimen pasar. Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi desakan untuk mundur setelah Partai Buruh mengalami salah satu kekalahan terburuk dalam pemilu lokal pekan lalu.
Sejumlah bank kakap Inggris ikut terseret turun. Saham Barclays melemah 3%, sedangkan Lloyds anjlok 4%.
Di sektor asuransi, saham Munich Re jatuh 6% setelah perusahaan reasuransi asal Jerman itu melaporkan pendapatan bisnis properti dan kecelakaan kuartal pertama yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Sementara itu, pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), Joachim Nagel, menyatakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga apabila lonjakan harga minyak akibat perang Iran mulai mengganggu ekspektasi inflasi di zona euro.
Pelaku pasar uang kini memperkirakan ECB akan melakukan tiga kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Di tengah tekanan pasar yang luas, beberapa saham masih mampu mencatat penguatan. Intertek melonjak 6,4% setelah perusahaan ekuitas swasta asal Swedia, EQT, mengajukan proposal akuisisi final senilai 9,4 miliar poundsterling atau sekitar USD12,7 miliar terhadap emiten pengujian produk asal Inggris tersebut.
Saham Bayer juga melompat 3,6% setelah perusahaan farmasi dan kimia asal Jerman itu membukukan laba operasional kuartalan yang melampaui perkiraan analis. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin