- Bursa Eropa melemah di akhir 2025, namun mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 2021 dengan kenaikan STOXX 600 sekitar 16,7%.
- Sektor bank dan pertahanan unggul, didorong penurunan suku bunga, stimulus Jerman, dan pergeseran dana dari saham AS.
- Investor diversifikasi ke Eropa, sementara media jadi sektor terlemah akibat tekanan iklan dan disrupsi AI.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melemah tipis pada hari perdagangan terakhir 2025, Rabu, namun tetap menutup tahun dengan kinerja terbaik sejak 2021.
Penurunan suku bunga, dorongan fiskal dari Jerman, serta pergeseran investasi dari saham teknologi Amerika Serikat yang bernilai tinggi menjadi faktor utama penguatan pasar sepanjang tahun.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 turun 0,1 persen atau 0,59 poin menjadi 592,19 pada perdagangan terakhir, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Rabu (31/12) atau Kamis (1/1) dini hari WIB.
Pelemahan tersebut nyaris tidak mengurangi pencapaian sepanjang 2025, dengan indeks membukukan kenaikan tahunan 16,66 persen. Sebagai perbandingan, indeks S&P 500 di Wall Street diperkirakan menutup tahun dengan lonjakan sekitar 17 persen.
Sektor perbankan dan pertahanan menjadi pemenang utama dalam reli pasar Eropa tahun ini. Saham perbankan mendorong indeks acuan lebih tinggi, dengan sektor tersebut melesat 67 persen sepanjang 2025, kinerja terbaik sejak 1997. Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya aktivitas merger dan akuisisi, lingkungan regulasi yang lebih ramah, serta kondisi ekonomi yang relatif stabil.
Saham pertahanan juga mencatat serangkaian rekor baru sepanjang tahun, meski mengalami koreksi sejak Oktober. Secara keseluruhan, sektor ini melejit sekitar 56,5 persen pada 2025, didukung komitmen negara-negara Eropa untuk meningkatkan belanja militer.
Investor terlihat memperluas penempatan dana mereka di luar Amerika Serikat, mencari peluang di Eropa yang dinilai lebih murah. Ketidakpastian kebijakan perdagangan dari Gedung Putih serta sinyal ekonomi AS yang tidak merata mendorong investor melakukan diversifikasi portofolio.
Di sisi lain, sektor media menjadi yang terlemah sepanjang 2025 dengan penurunan sekitar 15 persen. Lesunya permintaan iklan, ketidakpastian makroekonomi, serta disrupsi akibat kecerdasan buatan menekan pertumbuhan laba.
Meski demikian, J.P. Morgan menilai kinerja buruk tersebut juga dipicu oleh kekhawatiran investor yang berlebihan dan pengabaian terhadap sejumlah area yang sebenarnya masih menunjukkan kekuatan.
Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson, mengatakan pelemahan dolar AS dan volatilitas politik di Amerika Serikat mendorong investor mencari nilai di pasar lain dan melakukan diversifikasi dari risiko terkait kecerdasan buatan.
Menurutnya, hal tersebut menguntungkan pasar Eropa melalui proses penyeimbangan ulang yang lebih berhati-hati.
Hewson memperkirakan pembaruan pasar Eropa akan berlanjut hingga awal 2026, meski volatilitas masih akan mewarnai perdagangan.
Pada perdagangan Rabu, sebagian besar sektor berakhir di zona merah. Indeks ritel turun 0,3 persen, sementara sektor barang pribadi, rumah tangga, dan barang mewah masing-masing menguat 0,2 persen.
Aktivitas perdagangan tetap sepi menjelang libur Tahun Baru. Bursa di Jerman, Italia, dan Swiss tutup, sementara pasar di Prancis, Spanyol, dan Inggris hanya beroperasi dengan jam perdagangan terbatas.
Pada akhir sesi Rabu, FTSE 100 Inggris turun 0,09 persen atau 9,33 poin menjadi 9.931,38 dan CAC Prancis menyusut 0,23 persen atau 18,65 poin ke posisi 8.149,50.
Secara keseluruhan, mayoritas pasar utama Eropa menutup 2025 di zona hijau, dengan Spanyol mencuri perhatian. Indeks IBEX Madrid melambung hampir 50 persen, jauh meninggalkan bursa regional lainnya.
Prancis tertinggal, dengan indeks CAC 40 hanya naik sekitar 10,4 persen, terendah di antara bursa besar Eropa akibat gejolak politik, meningkatnya kekhawatiran fiskal, dan lonjakan imbal hasil obligasi.
Indeks DAX Jerman melejit sekitar 23 persen, didukung berbagai kebijakan pemerintah mulai dari stimulus fiskal hingga belanja infrastruktur.
Sementara itu, indeks FTSE 100 menguat sekitar 22 persen dan mencatatkan kenaikan untuk tahun kelima berturut-turut. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin