Bursa Eropa Terpukul Yield Tinggi, Saham AI Justru Jadi Penyelamat
Wednesday, September 30, 2026       03:31 WIB
  • STOXX 600 turun 0,09% tertekan kenaikan yield obligasi.
  • Saham teknologi naik 2,5% didorong optimisme AI.
  • Lindt anjlok 8,7%, Julius Baer naik 7,2%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona merah, Selasa, setelah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi menekan selera risiko investor dan mengimbangi penguatan saham teknologi yang terdorong optimisme baru terhadap prospek kecerdasan buatan (AI).
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,09% atau 0,60 poin menjadi 638,08 setelah sempat menguat pada awal perdagangan, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Selasa (29/9) atau Rabu (30/9) dini hari WIB.
Sebagian besar indeks utama di kawasan Eropa juga berguguran. Indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,45% atau 48,17 poin jadi 10.636,71 dan CAC 40 Prancis menyusut 0,53% atau 42,61 poin ke posisi 8.035,87, sedangkan DAX Jerman naik 0,10% atau 24,79 poin menjadi 25.399,21.
Yield obligasi global masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Pertumbuhan ekonomi yang kuat serta tingginya biaya energi diperkirakan mendorong kenaikan suku bunga global.
Namun, harga minyak berbalik anjlok hampir 2% setelah sebelumnya mengalami kenaikan. Perekonomian Eropa dinilai sangat rentan terhadap lonjakan harga energi karena ketergantungannya terhadap impor bahan bakar.
Sebagian besar sektor dalam STOXX 600 melemah. Saham perbankan yang memiliki bobot besar dalam indeks melorot 0,5%. Sementara itu, sektor energi serta makanan dan minuman menjadi penekan terbesar dengan masing-masing terkoreksi 1,4%.
"Risiko inflasi jangka pendek masih cenderung meningkat karena harga energi tetap tinggi, sehingga obligasi dengan tenor panjang memiliki sedikit perlindungan terhadap potensi gejolak berikutnya," kata Laura Cooper, Head of Macro Credit Nuveen.
Menurut Cooper, saham masih mampu menghadapi kenaikan yield apabila didorong ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pasalnya, kinerja laba perusahaan yang solid dapat mengimbangi dampak kenaikan tingkat diskonto.
Di tengah tekanan pasar secara umum, saham teknologi justru menjadi sektor dengan kinerja terbaik. Indeks sektor teknologi melonjak 2,5% ke level tertinggi dalam sebulan.
Saham perusahaan semikonduktor AT&S Austria Technologie & Systemtechnik dan Soitec masing-masing melesat lebih dari 9%.
Penguatan tersebut terjadi di tengah kembali menguatnya optimisme terhadap prospek AI setelah Anthropic, salah satu perusahaan pengembang AI terkemuka, mengungkapkan ambisi besar untuk menjadikan teknologi tersebut sebagai pendorong transformasi ekonomi global.
Menurut prospektus penawaran umum perdana (IPO) Anthropic yang dilihat  Reuters,  perusahaan tersebut bertaruh besar bahwa AI akan mengubah perekonomian dunia secara lebih mendalam dibandingkan industrialisasi, listrik, maupun internet. IPO itu diperkirakan dapat memberikan valuasi lebih dari USD2 triliun bagi perusahaan AI tersebut.
"Itu adalah visi dan proyeksi mengenai sejauh mana Anthropic meyakini AI akan menjadi game changer bagi perekonomian di seluruh dunia yang tampaknya telah mengangkat permintaan terhadap saham-saham teknologi Eropa," kata Susannah Streeter, Chief Investment Strategist Wealth Club.
Sebelumnya, saham teknologi sempat tertekan setelah sejumlah eksekutif dari raksasa AI pada awal bulan ini menyerukan agar pengembangan teknologi tersebut dilakukan dengan laju yang lebih lambat. Kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan AI turut membebani sektor tersebut, di tengah tekanan tambahan dari kenaikan yield obligasi.
Di pasar saham individual, Lindt menjadi saham dengan penurunan terbesar dalam STOXX 600 setelah perusahaan cokelat asal Swiss tersebut memangkas proyeksi penjualan 2026 untuk kedua kalinya sepanjang tahun ini. Saham Lindt anjlok 8,7%.
Sebaliknya, saham Julius Baer melambung 7,2% setelah regulator keuangan Swiss, FINMA, menutup proses penegakan hukum terkait pinjaman utang swasta serta hubungan nasabah dengan dua warga Rusia yang berstatus "politically exposed".
Saham Legrand juga melompat 6% setelah perusahaan asal Prancis yang bergerak di bidang infrastruktur kelistrikan dan digital untuk bangunan tersebut menaikkan target kinerja jangka menengahnya.
Di sisi kebijakan moneter, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde, Senin, mengatakan respons yang terukur terhadap kebijakan moneter masih tepat. Pernyataan tersebut disampaikan meski ECB telah menaikkan suku bunga dua kali sepanjang tahun ini.
Lagarde menilai lonjakan inflasi sejauh ini belum menghasilkan efek putaran kedua yang signifikan, sehingga bank sentral masih dapat merespons tekanan harga secara terukur. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin