Bursa Pagi: Asia Mengawali 2026 dengan Bergerak Lamban, IHSG Diprediksi Menguat
Friday, January 02, 2026       08:28 WIB
  • Bursa saham Asia membuka perdagangan awal 2026 dengan pergerakan lamban dan cenderung bervariasi, di tengah masih tutupnya sejumlah pasar utama seperti Jepang dan China daratan.
  • Ekonomi Singapura mencatat pertumbuhan kuat pada kuartal IV dan sepanjang 2025, sementara indeks ASX 200 Australia bergerak mendatar dengan kenaikan tipis.
  • Di dalam negeri, IHSG diperkirakan menguat didukung optimisme awal tahun dan sinyal teknikal positif, meski tetap dibayangi aksi jual asing.

Ipotnews - Membuka sesi perdagangan tahun 2026, Jumat (2/1), bursa saham Asia bergerak lamban. Sejumlah pasar Asia masih tutup karena libur, termasuk Jepang dan China daratan. Pasar Korea Selatan akan dibuka satu jam lebih lambat, yakni pukul 10.00 waktu setempat.
Pasar diperkirakan akan bergerak bervariasi, berusaha mengawali Tahun Baru 2026 dengan meninggalkan tren penurunan indeks acuan pada sesi penutupan bursa saham Wall Street pada penutupan pasar 2025.
Ekonomi Singapura tumbuh 5,7% secara tahunan pada kuartal keempat 2025, terutama didorong oleh pertumbuhan kuat sektor manufaktur. Angka ini lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 4,3% yang telah direvisi pada kuartal sebelumnya.
Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pesan Tahun Barunya menyampaikan bahwa ekonomi Singapura mencatatkan pertumbuhan tahunan 4,8% sepanjang 2025, lebih kuat dari perkiraan.
Indeks ASX 200, Australia mengawali sesi perdagangan hari ini dengan bergerak mendatar. Indeks berlanjut dengan kenaikan tipis 0,02% di posisi 8.715,90 pada pukul 8:15 WIB.
Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka lebih lambat dengan mencetak rekor baru. Kospi naik 0,21% setelah menyentuh rekor tertinggi di level 4.239,88, dan Kosdaq melonjak 1,32%.
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) diperkirakan akan membuka hari pertama perdagangan tahun 2026 dengan menguat, setelah mengakhiri sesi perdagangan tahun lalu dengan menguat tipis 0,03 persen ke level 8.646. Harga ETF saham Indonesia,  iShares MSCI Indonesia ETF    ( EIDO ), di New York Stocks Exchange menguat 0,16% menjadi USD18,70.
Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini berpeluang melanjutkan tren penguatan, namun dibayangi berlanjutnya aksi jual asing. Optimisme awal tahun menjadi katalis positif, tanpa indikasi jenuh beli atau tekanan jual signifikan. Pembentukan pola  bullish flag  mengawali 2026 dengan indikasi bullish continuation
Analis Indo Premier berpendapat, IHSG mencatatkan performa tahunan terbaik sejak 2014 dengan kenaikan 22% yoy didukung tingginya partisipasi investor domestik meredam derasnya outflow asing dipasar saham domestik. Asing tercatat melakukan  netsell  di pasar reguler senilai total Rp43,2 triliun tahun ini (vs. Rp29 Triliun tahun 2024) dengan dominasi outflow di saham-saham perbankan  bigcap  dengan indeks Primbank10 turun 11% yoy.
Pergeseran group konglomerasi di akhir tahun 2025 terlihat mengarah ke Grup Bakrie denga rata-rata kenaikan harga saham hingga 100% sepanjang Desember lalu. Jika sejarah adalah panduan, potensi reli lanjutan mungkin akan terjadi di awal tahun dengan data menunjukkan Januari sebagai bulan terbaik bagi emiten grup ini.
Amerika Serikat dan Eropa
Bursa saham Wall Street menutup sesi perdagangan tahun 2025 dengan melemah, sekaligus mematahkan ekspektasi "Santa Claus rally". Namun secara keseluruhan pasar pulih signifikan dari gejolak April akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Reli pasar mulai meluas ke sektor lain, tak hanya di sektor teknologi tekait AI, di tengah lonjakan harga komoditas seperti emas dan perak. Analis menilai 2026 berpotensi lebih volatil.
Wall Street menutup 2025 dengan kinerja tahunan yang kuat. Secara tahunan indeks Dow Jones dan S&P 500 melesat 12,97% dan 16,39%, Nasdaq melejit 20,36% berkat euforia AI. Alphabet menjadi pemimpin kelompok saham  big cap,  melambung 65,4% sepanjang tahun. Namun pada akhir perdagangan 2025, saham sektor energi dan teknologi menjadi penekan utama pasar. Saham Microsoft merosot 0,8%. EQT Corp anjlok 1,9%.
  • S&P 500 melorot 0,74% (-50,74 poin) ke posisi 6.845,50.
  • Nasdaq Composite merosot 0,76% (-177,09 poin) ke level 23.241,99.
  • Dow Jones Industrial Average turun 0,63% (-303,77 poin) ke 48.063,29.

Bursa saham utama Eropa ditutup melemah pada akhir 2025, namun mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 2021 didorong penurunan suku bunga, stimulus Jerman, dan pergeseran dana dari saham AS. Investor global melalukan diversifikasi ke saham Eropa didorong ketidakpastian kebijakan dan sinyal ekonomi AS yang labil. Sepanjang 2025, DAX Jerman dan FTSE 100 Inggris melejit 23% dan 22%, CAC Prancis melesat 10,4%.
Indeks STOXX 600 melemah 0,1% menjadi 592,19 pada perdagangan terakhir. Sebagian besar sektor berakhir di zona merah. Bursa saham Jerman dan sebagai pasar Eropa sudah tutup menyambut tahun baru. Indeks ritel turun 0,3%. Sektor barang pribadi, rumah tangga, dan barang mewah menguat 0,2%. Namun STOXX 600 melesat 16,7% sepanjang 2025. Sektor perbankan (+67%) dan pertahanan (+56,5%) menjadi pemimpin reli pasar Eropa tahun ini, sedangkan sektor media (-15%) menjadi sektor terlemah.
  • FTSE 100 Inggris turun tipis 0,09% (-9,33 poin) di 9.931,38.
  • CAC Prancis susut 0,23% (-18,65 poin) menjadi 8.149,50.
  • DAX Jerman turun 0,57% (-139,29 poin) ke 24.490,41.

Nilai Tukar Dolar AS
Kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia berakhir menguat pada penutupan pasar 2025, setelah rilis data klaim pengangguran AS yang lebih baik dari perkiraan. Klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun 16.000 menjadi 199.000 jauh di bawah estimasi 220.000. Namun sepanjang 2025, dolar membukukan penurunan tahunan terdalam sejak 2017.Indeks dolar (DXY) naik 0,13% menjadi 98,5.
Dolar tertekan pemangkasan suku bunga, kekhawatiran fiskal, dan ketidakpastian kebijakan Gedung Putih. Kekhawatiran independensi The Fed ikut menekan dolar. The Fed diperkirakan bersikap lebih hati-hati, dengan proyeksi hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 meski pasar memperkirakan lebih agresif. Sepanjang 2025, dolar telah anjlok lebih dari 9%. Euro dan poundsterling melonjak 13% dan 7%. Yen mendatar, gagal memanfaatkan pelemahan dolar pada 2025,
Kurs spot dolar

Currency

Value

Change

% Change

Euro (EUR-USD)

1.1745

0.00

0.01%

Yen (USD-JPY)

156.45

0.26

0.17%

Poundsterling (GBP-USD)

1.3473

0.00

0.01%

Rupiah (USD-IDR)

16,687

7.00

0.04%

Yuan (USD-CNY)

6.9890

0.01

0.10%

Sumber : Bloomberg.com, 31/12/2025 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea berakhir turun pada penutupan pasar 2025. Minyak membukukan penurunan tahunan hampir 20% akibat kekhawatiran kelebihan pasokan global. Brent (-19%) dan WTI (-20%) catatkan penurunan tahunan terbesar sejak 2020, dipicu kenaikan produksi OPEC + dan stabilitas pasokan shale AS, yang diwarnai perang, kenaikan tarif,serta sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela.
Data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, namun persediaan bensin dan distilat melonjak di atas perkiraan. Meski konflik geopolitik dan sanksi sempat menopang harga, namun dampaknya tertahan oleh prospek permintaan global yang lemah dan tarif AS. Analis memperkirakan pasokan masih akan melebihi permintaan pada 2026, dan harga berpotensi turun ke kisaran USD50 per barel.
  • Harga Brent berjangka turun 48 sen (-0,8%) ke USD60,85 per barel.
  • Harga WTI berjangka turun 53 sen (-0,9%) ke USD57,42 per barel.

Harga emas dan perak di bursa berjangka AS pada akhir perdagangan 2025 ditutup melemah. Harga emas spot turun tipis, tapi perak anjlok tajam setelah sempat menembus level USD80 per ounce. Investor mengambil untung menyusul reli tahunan yang bersejarah. Tekanan harga bertambah setelah CME Group kembali menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka logam mulia. Sepanjang 2025, harga emas melambung lebih dari 64% dan perak hampir 150%, menjadi kinerja terbaik sejak 1979.
Kenaikan harga emas didorong pemangkasan suku bunga AS, ketegangan tarif, serta permintaan ETF dan bank sentral. Lonjakan harga perak dipicu oleh kombinasi pasokan yang terbatas, tingginya permintaan dari India, kebutuhan industri, serta kebijakan tarif. Ketidakpastian geopolitik juga menjadi faktor pendukung harga. Pasar masih meragukan kesepakatan damai Rusia-Ukraina, Indikator risiko geopolitik global tetap di level tinggi.
  • Harga emas spot melemah 0,1% menjadi USD4.339,89 per ounce.
  • Harga perak spot ambles 5,6% ke level USD72,15 per ounce,

(AFP, CNBC , Reuters)