Bursa Wall Street Terjerembab, Konflik Timur Tengah Perburuk Ketakutan Inflasi
Wednesday, March 04, 2026       05:49 WIB
  • Wall Street melorot akibat kekhawatiran konflik Timur Tengah berkepanjangan picu inflasi; Dow -0,83%, S&P 500 -0,94%, Nasdaq -1,02%, dan VIX naik hampir 10%.
  • Lonjakan harga minyak serta ancaman gangguan Selat Hormuz meningkatkan tekanan inflasi dan imbal hasil obligasi AS.
  • Aksi jual meluas (rasio saham turun dominan), meski pasar sempat memangkas kerugian di akhir sesi.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah tajam pada perdagangan Selasa, seiring kekhawatiran investor bahwa konflik Timur Tengah dapat berlangsung lebih lama dan memicu lonjakan inflasi global.
Aksi jual terjadi secara luas di berbagai sektor, sementara indeks volatilitas Cboe Volatility Index mencatat level penutupan tertinggi sejak November, melambung 2,13 poin atau 9,93 persen menjadi 23,57. Meski demikian, indeks utama Wall Street berhasil memangkas sebagian kerugian dari posisi terendah intraday, setelah sebelumnya sempat tertekan lebih dari 2 persen.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melorot 403,51 poin atau 0,83 persen menjadi 48.501,27, S&P 500 melemah 64,99 poin atau 0,94 persen jadi 6.816,63, sedangkan Nasdaq Composite Index terkoreksi 232,17 poin atau 1,02 persen ke posisi 22.516,69, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (3/3) atau Rabu (4/3) pagi WIB.
Secara teknikal, S&P 500 ditutup di bawah rata-rata pergerakan (moving average) 100 hari untuk pertama kalinya sejak 20 November, yang dinilai sebagai sinyal negatif (bearish).
Investor mencermati dampak konflik yang telah memasuki hari keempat terhadap inflasi, terutama setelah harga minyak melanjutkan lompatan tajam. Pasukan Israel dan Amerika Serikat menggempur target di Iran, memicu serangan balasan Iran di kawasan Teluk serta meluasnya konflik ke Lebanon.
Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services, mengatakan pasar mulai memperkirakan konflik akan berlangsung lebih lama dari ekspektasi sebelumnya dan berpotensi mengganggu infrastruktur energi.
Kekhawatiran meningkat setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz--jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Sejumlah produsen minyak dan gas di Timur Tengah juga menghentikan produksi, sehingga mendorong kenaikan tarif pengiriman global serta harga minyak dan gas alam.
"Investor bergulat dengan volatilitas dan berita, dan mereka melihat portofolio mereka dan berkata, wah, ini bisa menjadi lebih buruk...Ini adalah ketakutan akan memburuknya situasi," kata Oliver Pursche, Vice President Wealthspire Advisors di Westport, Connecticut. "Tetapi saran kami kepada klien adalah untuk mundur selangkah dan menunggu dan melihat."
Presiden AS Donald Trump menyatakan telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan finansial bagi perdagangan maritim di kawasan Teluk. Dia juga membuka kemungkinan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz jika diperlukan.
Lonjakan harga minyak dikhawatirkan memicu tekanan inflasi tambahan dan mempersulit kebijakan bank sentral yang sebelumnya sudah menghadapi dampak kenaikan harga akibat tarif perdagangan. Imbal hasil US Treasury menguat untuk sesi kedua berturut-turut.
Meski indeks utama melemah, pasar menunjukkan ketahanan relatif dengan memangkas sebagian kerugian di sesi akhir. Jed Ellerbroek, Manajer Portofolio Argent Capital, menilai reaksi pasar sejauh ini masih tergolong moderat dan menunjukkan toleransi risiko investor masih bertahan.
Sektor perangkat lunak justru mencatat penguatan, dengan indeks software dan layanan S&P 500 melesat 1,6 persen.
Saham Blackstone anjlok 3,8 persen setelah dana kredit andalannya, BCRED, mengalami lonjakan permintaan penarikan dana (redemption).
Secara keseluruhan, saham yang turun mendominasi di Bursa Efek New York ( NYSE ) dengan rasio 4,1 banding 1 terhadap saham yang naik. Tercatat 137 saham mencetak level tertinggi baru dan 167 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, 1.262 saham menguat dan 3.540 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap naik 2,81 banding 1. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-International Business Machines (2,51%)
-Verizon Communications Inc (1,78%)
-Salesforce Inc (1,62%)
Saham berkinerja terburuk
-Caterpillar Inc (-3,95%)
-Nike Inc (-2,64%)
-Boeing Co (-2,45%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Best Buy Co Inc (7,01%)
-Target Corporation (6,74%)
-Akamai Technologies Inc (4,55%)
Saham berkinerja terburuk
-Micron Technology Inc (-7,99%)
-Newmont Goldcorp Corp (-7,76%)
-NRG Energy Inc (-7,70%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Mobix Labs Inc (521,47%)
-Turbo Energy SA (110,22%)
-Edesa Biotech Inc (89,91%)
Saham berkinerja terburuk
-Iterum Therapeutics PLC (-46,81%)
-Scworx Corp (-45,08%)
-Hitek Global (-32,80%)

Sumber : Admin