- Dolar AS melemah untuk hari kedua berturut-turut setelah data inflasi dan turunnya harga minyak meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, meski masih mencatat kenaikan mingguan.
- Pasar tetap memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, sementara yen bertahan di level yang meningkatkan risiko intervensi pemerintah Jepang.
- Harga minyak turun hampir 10% sepanjang pekan seiring meningkatnya arus kapal tanker melalui Selat Hormuz, sedangkan inflasi inti Tokyo yang menguat memberikan dukungan bagi yen.
Ipotnews - Dolar AS melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Jumat (26/6) akhir pekan ini setelah data ekonomi terbaru dan penurunan harga minyak sedikit meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Meskipun yen masih berada pada level yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan intervensi.
Meski mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir, mata uang dolar AS masih mencatat kenaikan sepanjang pekan dan berada di jalur menuju kenaikan persentase bulanan terbesar sejak Juli setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan pada awal pekan.
Data pada Kamis yang menunjukkan salah satu indikator utama inflasi Amerika Serikat sesuai dengan perkiraan para ekonom serta penurunan harga minyak sekitar 4% pada Jumat sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga.
Berdasarkan data LSEG , pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sekitar 25 basis poin pada tahun ini. Data inflasi yang lebih rendah dari kekhawatiran pasar pada Kamis turut memicu pelemahan dolar.
Dolar mengawali pekan dengan kenaikan selama tiga hari berturut-turut, melanjutkan tren penguatan yang dimulai pada pekan sebelumnya setelah pernyataan kebijakan Federal Reserve, yang pertama di bawah Ketua baru Kevin Warsh, secara luas dipandang bernada hawkish oleh para pelaku pasar.
"Bukan hanya karena Warsh dan sejumlah data baru, tetapi dolar juga memang telah berada dalam tren bullish sejak Januari," kata Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet, New York. "Jadi sedikit koreksi bukanlah sesuatu yang mengejutkan."
Sentimen Konsumen
Pada Jumat, Survei Konsumen Universitas Michigan menunjukkan Indeks Sentimen Konsumen naik menjadi 49,5 pada bulan ini, sedikit di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 50,0, dari 44,8 pada Mei, meskipun kekhawatiran terhadap inflasi masih tetap ada.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama, turun 0,19% menjadi 101,32, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Sementara itu, euro naik 0,18% menjadi US$1,1389.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan pada Jumat bahwa bank sentral mungkin masih perlu menaikkan suku bunga di tengah inflasi yang masih meluas.
Pada Kamis, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan bahwa meskipun tekanan inflasi diperkirakan akan mereda tahun ini, tingkat inflasi masih terlalu tinggi, sehingga ia menunda perkiraan waktu pencapaian target inflasi The Fed sebesar 2%.
Harga minyak mentah AS turun 3,6% menjadi US$69,33 per barel dan Brent melemah menjadi US$72,02 per barel atau turun 4,34% pada hari itu. Keduanya berada di jalur penurunan mingguan hampir 10% seiring semakin banyak kapal tanker minyak yang keluar dari Selat Hormuz.
Poundsterling menguat 0,09% menjadi US$1,3203, namun masih berada di jalur pelemahan mingguan kedua berturut-turut.
Terhadap yen Jepang, dolar turun tipis 0,02% menjadi 161,74. Jika menembus level 161,96, mata uang Jepang tersebut akan mencapai titik terlemahnya sejak 1986. Sepanjang pekan, dolar masih menguat 0,29% terhadap yen dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.
Data pada Jumat menunjukkan inflasi inti di Tokyo meningkat pada Juni, sehingga memberikan tambahan dukungan bagi yen.
Analis Wells Fargo menyatakan bahwa strategi jangka pendek yang menarik adalah mengambil posisi jual terhadap dolar AS melawan yen menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pekan depan, mengingat adanya risiko intervensi pemerintah Jepang, karena "otoritas dapat memanfaatkan data ketenagakerjaan AS yang lemah atau bahkan sedikit lebih rendah dari perkiraan."
Meski demikian, mereka menegaskan bahwa strategi tersebut hanya untuk jangka pendek dan tetap merekomendasikan posisi beli dolar setelah awal Juli.
(reuters)
Sumber : admin