Data Tenaga Kerja AS Meledak, Dolar Langsung Perkasa di Pasar Global
Saturday, June 06, 2026       07:10 WIB
  • Dolar AS menguat lebih dari 1% dalam sepekan setelah data ketenagakerjaan Mei menunjukkan penambahan 172.000 lapangan kerja, jauh di atas perkiraan pasar.
  • Yen melemah hingga menembus level 160 per dolar, memicu peringatan dari pemerintah Jepang mengenai kemungkinan intervensi pasar.
  • Kebuntuan negosiasi AS-Iran dan ketegangan Timur Tengah menjaga harga minyak di atas 90 dolar AS per barel, meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman.

Ipotnews - Dolar AS menguat pada Jumat (5/6) akhir pekan ini. Greenback berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 1% setelah perekonomian Amerika Serikat kembali mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang kuat pada bulan Mei.
Jumlah tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) bertambah 172.000 pekerjaan bulan lalu, menurut laporan ketenagakerjaan yang banyak diperhatikan dari Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis pada Jumat. Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan penambahan 85.000 pekerjaan setelah kenaikan 115.000 pekerjaan yang dilaporkan pada April.
Data tersebut mendorong dolar menguat tajam terhadap yen, yang sepanjang pekan ini terus menguji batas psikologis 160 yen per dolar. Pergerakan tersebut memicu peringatan keras dari pejabat Jepang, sementara ketegangan di Timur Tengah terus mendukung permintaan terhadap aset safe haven.
Yen terakhir tercatat melemah 0,08% terhadap dolar menjadi 160,150 per dolar. Mata uang Jepang itu menuju pelemahan mingguan keempat berturut-turut terhadap dolar setelah menghapus keuntungan yang diperoleh dari intervensi pemerintah pada akhir April dan awal Mei.
Level 160 yen per dolar sebelumnya pernah memicu intervensi pasar, dan kedekatannya dengan level tersebut mendorong Menteri Keuangan Satsuki Katayama kembali mengeluarkan peringatan. Ia mengatakan Jepang siap merespons kapan saja dan berhak mengambil "tindakan tegas" terhadap volatilitas yang berlebihan.
Bank Sentral Jepang secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga bulan ini karena kenaikan biaya impor energi menambah tekanan harga. Pasar uang juga menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga kedua sebelum akhir tahun.
Investor secara luas memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini, berdasarkan alat FedWatch milik CME.
"Ambang batas untuk perubahan kebijakan The Fed sangat tinggi, dan saya tidak melihat data ini cukup untuk mengubahnya," kata Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex. "Saya masih melihat peluang yang cukup besar untuk kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, tetapi kita harus menunggu perkembangan selanjutnya."
Euro melemah setelah rilis data ketenagakerjaan AS dan terakhir turun 0,75% ke level 1,152 dolar AS, meskipun terdapat ekspektasi hingga tiga kali kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa tahun ini. Sementara itu, poundsterling turun 0,64% menjadi 1,33 dolar AS.
"Dari perspektif euro, berlanjutnya harga energi yang tinggi masih menjadi hambatan bagi aktivitas ekonomi di kawasan tersebut," kata Jeremy Stretch, Kepala Divisi Valuta Asing G10 di CIBC Capital Markets.
Permintaan Dolar
Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan, sementara kembali memanasnya konflik pada pekan ini membuat harga minyak tetap berada di atas 90 dolar AS per barel, sehingga meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Iran kembali menegaskan dukungannya kepada sekutunya di Lebanon, Hizbullah, dan menuntut Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Hal ini menunjukkan kompleksitas yang dihadapi dalam upaya mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.
Iran menjadikan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sebagai syarat bagi setiap kesepakatan damai dengan Washington untuk mengakhiri perang kawasan yang kini memasuki bulan keempat serta membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
"Kita kembali ke titik awal terkait upaya melanjutkan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran," kata David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation, dalam sebuah catatan riset. "Namun, seperti yang terjadi sejak akhir Maret, investor memilih untuk mengabaikan konflik yang sedang berlangsung dengan asumsi bahwa perang ini akan segera berakhir."
Dolar menjadi mata uang dengan kinerja paling menonjol di pasar valuta asing pekan ini, menguat 0,63% terhadap sekeranjang mata uang utama dan sekitar 1,3% dalam satu bulan terakhir. Penguatan tersebut didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat yang kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta permintaan aset safe haven di tengah kekhawatiran dampak kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz terhadap negara-negara pengimpor seperti kawasan euro, Jepang, dan China.
Di pasar kripto, Bitcoin berada di jalur penurunan mingguan sebesar 19% setelah menyentuh level terendah sejak Februari. Bitcoin terakhir tercatat turun 6,63% ke level 59.373 dolar AS.
(reuters)

Sumber : admin