- Yen melemah ke level terendah dalam empat dekade setelah kenaikan imbal hasil obligasi AS memperkuat dolar dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Pelaku pasar menilai otoritas Jepang semakin dekat untuk melakukan intervensi demi menahan pelemahan yen.
- Fokus investor kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang dapat menentukan arah kebijakan suku bunga.
Ipotnews - Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama pada perdagangan Rabu, didorong lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Penguatan tersebut mendorong yen Jepang melemah hingga 162,77 per dolar AS, level terendah dalam sekitar 40 tahun.
Posisi yen kini jauh melampaui level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang beberapa bulan lalu untuk menopang nilai tukar mata uangnya. Analis Wells Fargo, Chidu Narayanan, menilai pasar semakin mendekati kemungkinan intervensi baru dari Kementerian Keuangan Jepang guna menjaga kredibilitas kebijakan nilai tukar.
Pelaku pasar juga melihat libur nasional di AS pada Jumat sebagai peluang bagi pemerintah Jepang untuk melakukan pembelian yen. Kondisi likuiditas pasar yang lebih tipis dinilai dapat memperbesar dampak intervensi tersebut terhadap pergerakan mata uang.
Di pasar valuta asing secara umum, dolar memperoleh dukungan setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak sekitar 9 basis poin pada perdagangan Selasa sebelum ditutup naik 4,8 basis poin. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun juga meningkat menjadi sekitar 4,17%.
Seiring penguatan dolar, euro turun 0,07% menjadi US$1,1413, sedangkan pound sterling melemah 0,09% ke US$1,3252. Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama juga bertahan menguat di 101,24.
Pergerakan tersebut terjadi menjelang rilis data nonfarm payrolls AS yang akan dipublikasikan pada Kamis. Sebelumnya, data menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS naik ke level tertinggi dalam dua tahun pada Mei, meskipun laju perekrutan yang masih lemah menekan kepercayaan konsumen terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
Analis National Australia Bank (NAB), Ray Attrill, mengatakan ketahanan pasar tenaga kerja AS masih menjadi alasan utama mengapa Federal Reserve belum memiliki urgensi untuk memangkas suku bunga.
Ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter juga meningkat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai 67%, melonjak dari sekitar 20,5% sebulan sebelumnya.
Investor juga menantikan pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam Forum Bank Sentral Eropa di Portugal. Meski demikian, pelaku pasar memperkirakan Warsh tidak akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga dalam waktu dekat.
Sementara itu, dolar Australia turun 0,18% ke US$0,6907, sedangkan dolar Selandia Baru melemah 0,04% menjadi US$0,5674.(Reuters)
Sumber : Admin