Dolar AS Tersungkur, Harapan Damai Iran Ubah Arah Pasar Global
Saturday, May 30, 2026       07:12 WIB
  • Dolar AS melemah dan bersiap mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut setelah muncul harapan bahwa AS dan Iran akan memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
  • Meski inflasi AS meningkat ke level tertinggi dalam tiga tahun dan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, dolar gagal menguat signifikan karena investor menunggu kepastian perkembangan geopolitik.
  • Yen Jepang tetap berada dekat level kritis 160 per dolar AS meskipun pemerintah Jepang telah menggelontorkan 11,7 triliun yen untuk intervensi pasar valuta asing dalam sebulan terakhir.

Ipotnews - Dolar AS melemah terhadap mata uang utama pada Jumat (29/5) dan berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta melonggarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa ia akan membuat keputusan final pada Jumat terkait kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Kesepakatan yang diusulkan tersebut akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memungkinkan lalu lintas pelayaran kembali normal melalui jalur perairan strategis tersebut, sementara para negosiator melanjutkan pembahasan berbagai isu sensitif, termasuk program nuklir Iran, menurut empat sumber yang berbicara kepada Reuters.
Pada awal konflik, dolar AS sempat menguat karena didukung permintaan aset safe haven dan relatif terbatasnya dampak inflasi energi terhadap ekonomi Amerika Serikat. Namun, sebagian penguatan tersebut kemudian terkikis karena ketidakpastian mengenai arah perkembangan konflik membebani sentimen investor.
Euro naik 0,12% menjadi 1,16620 dolar AS dan berada di jalur kenaikan mingguan. Poundsterling menguat 0,18% terhadap dolar AS menjadi 1,3466 dolar AS, sekaligus mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.
"Kita masih belum memiliki jawaban atas banyak hal dan itu menciptakan perbedaan pandangan atau kurangnya konsensus maupun narasi yang jelas, terutama bagi bank sentral," kata Juan Perez, Direktur Perdagangan di Monex USA, Washington. "Karena itulah kondisi tersebut tercermin dalam minimnya pergerakan dolar AS secara keseluruhan."
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, bergerak datar di level 98,92 dan berada di jalur pelemahan mingguan.
Data pada Kamis menunjukkan inflasi Amerika Serikat meningkat pada laju tercepat dalam tiga tahun pada April, didorong oleh kenaikan harga energi akibat perang Iran. Data tersebut semakin memperkuat pandangan para ekonom bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga jauh ke tahun depan.
"Pasar saham mengabaikan berbagai isu terkait gangguan ekonomi dan hal yang sama juga terjadi di pasar mata uang. Jika melihat ekspektasi suku bunga berdasarkan data CME dan kontrak berjangka, seluruhnya mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga," kata Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.
"Tidak ada yang terlihat di depan selain potensi kenaikan suku bunga. Namun, Anda tidak melihat tingkat suku bunga dolar yang lebih tinggi."
Waspada Intervensi Yen
Yen Jepang diperdagangkan pada level 159,27 per dolar AS, tetap berada di dekat level psikologis 160 yang secara historis sering memicu intervensi dari otoritas Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi pada Jumat bahwa pemerintah menghabiskan 11,7 triliun yen (73,5 miliar dolar AS) untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing selama satu bulan terakhir guna mendukung yen. Langkah tersebut mengonfirmasi dugaan yang sebelumnya telah diyakini banyak pelaku pasar.
Dolar Australia menguat 0,31% menjadi 0,71840 dolar AS. Dolar Selandia Baru (kiwi) naik hampir 0,85% menjadi 0,5985 dolar AS setelah menyentuh level terkuatnya dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan tersebut memperpanjang reli yang terjadi setelah Bank Sentral Selandia Baru mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga.
(reuters)

Sumber : admin