Dolar Melemah Saat Harga Minyak Turun, Yen Menguat Setelah Pernyataan Jepang
Saturday, September 26, 2026       06:59 WIB
  • Dolar melemah 0,3%, tetapi masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.
  • Harga minyak turun lebih dari 2%, sehingga mengurangi tekanan terhadap dolar.
  • Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat menjadi sekitar 66% untuk pertemuan Oktober.

Ipotnews - Dolar AS melemah pada Jumat (25/9) akhir pekan ini seiring harga minyak turun. Tetapi masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut karena meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Sementara itu, yen menguat setelah Jepang mengatakan Tokyo dan Washington tetap teguh pada sikap yang mendasari intervensi bersama pada Juli.
Dolar berada di jalur untuk mengakhiri kenaikan selama empat hari berturut-turut setelah harga minyak mentah anjlok lebih dari 2%.
Harga minyak global melemah karena potensi gencatan senjata antara AS dan Iran mengalahkan kekhawatiran pasokan akibat meningkatnya serangan pejuang Houthi terhadap Arab Saudi. Meski demikian, harga minyak masih bertahan di atas USD100 per barel, sehingga tekanan terhadap inflasi tetap meningkat.
Komentar dari pejabat bank sentral yang menyoroti kekhawatiran inflasi dan mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut setelah kenaikan 25 basis poin pekan lalu telah meningkatkan ekspektasi pasar terhadap jalur kebijakan moneter yang lebih agresif dan mendorong lonjakan imbal hasil Treasury AS.
"Kita telah melihat reli dolar yang cukup agresif selama beberapa hari terakhir dan mungkin pergerakannya sudah agak berlebihan, sehingga sekarang hanya mengambil sedikit jeda. Jadi, saya tidak akan mengatakan bahwa dolar benar-benar melemah secara material hari ini," kata Eugene Epstein, kepala perdagangan dan produk terstruktur di Moneycorp di Stamford, Connecticut.
"Ini hanya kombinasi dari berbagai faktor tersebut. Bukan hanya sedikit peningkatan peluang kenaikan suku bunga kedua sebelum akhir tahun, tetapi juga kenaikan imbal hasil obligasi secara umum dan pasar yang mulai sedikit khawatir terhadap hal tersebut. Jadi, itulah yang mendorong dolar menguat secara keseluruhan."
Indeks Dolar AS
Indeks dolar AS, yang mengukur nilai dolar terhadap lima mata uang lainnya, turun 0,3% menjadi 100,95 dan berada di jalur untuk mencatat penurunan persentase harian terbesar dalam sekitar tiga pekan.
Euro menguat 0,15% menjadi USD1,1396, tetapi masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut, yang menjadi rentetan penurunan terpanjang sejak awal tahun.
Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan Oktober mencapai sekitar 66%, menurut CME FedWatch, naik dari sekitar 58% sepekan sebelumnya.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan pada Jumat bahwa dirinya semakin khawatir inflasi yang selama bertahun-tahun berada di atas target bank sentral sebesar 2% akan membuat masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa tekanan harga akan kembali ke target tersebut.
Dari sisi data, pesanan baru barang modal produksi AS meningkat lebih besar dari perkiraan pada Agustus dan data bulan sebelumnya direvisi naik secara tajam. Hal tersebut menunjukkan bahwa belanja bisnis kemungkinan kembali mencatat pertumbuhan kuat pada kuartal ini seiring pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan.
Dalam laporan terpisah, University of Michigan melalui Survei Konsumennya menyatakan bahwa Indeks Sentimen Konsumen naik tipis menjadi 48,1 dari pembacaan sebelumnya sebesar 47,8. Angka tersebut berada di atas estimasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 47,6.
Poundsterling menguat 0,23% menjadi USD1,3246, didukung komentar hawkish dari Gubernur Bank of England Andrew Bailey. Namun, poundsterling masih berada dekat level terendah dalam tiga bulan yang dicapai pada Kamis.
Yen Menguat
Yen menguat 1,06% menjadi 157,13 per dolar dan berada di jalur untuk mengakhiri penurunan selama empat hari berturut-turut. Penguatan tersebut juga menjadi kenaikan harian terbesar yen terhadap dolar sejak 7 September.
Mata uang Jepang menguat setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan Presiden AS Donald Trump menyampaikan kekhawatirannya mengenai pelemahan yen dalam pertemuan tingkat tinggi dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada awal pekan ini.
Katayama dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent melakukan pembicaraan melalui telepon pada Jumat dan menegaskan kembali bahwa undervaluasi yen merupakan hal yang menjadi perhatian serta kedua negara berniat memperkuat kerja sama, menurut pernyataan Kementerian Keuangan Jepang.
Meski demikian, yen masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut setelah pasar menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan pada pekan lalu ke level tertinggi dalam 31 tahun serta panduan terbaru bank sentral tersebut masih belum cukup hawkish.
Di tempat lain, dolar menguat 0,11% menjadi 6,723 terhadap yuan China offshore, setelah pertemuan Trump dan Xi di Washington berakhir dengan menampilkan diplomasi personal, tetapi tidak menghasilkan terobosan besar dalam hubungan ekonomi.
(reuters)

Sumber : admin