AI News - Harga emas spot dunia naik 0,4 % menjadi US$4.361,89 per ons pada perdagangan Selasa 22 September, didorong oleh penurunan harga minyak mentah yang meredakan kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, menjelang pidato Presiden Donald Trump di Majelis Umum PBB.
Poin Penting
- Emas spot diperdagangkan pada US$4.361,89 per ons, naik 0,4 %.
- Harga minyak mentah turun lebih dari 9 % selama empat sesi berurutan.
- Perak naik 0,8 % menjadi US$66,56 per ons.
- Austan Goolsbee menyatakan Fed tidak dapat mengabaikan guncangan pasokan berulang.
- Presiden Donald Trump akan berbicara di Majelis Umum PBB dan membuka peluang pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Mengapa Harga Emas Naik di Tengah Penurunan Harga Minyak?
Menurut IQPlus, penurunan tajam harga minyak mentah-yang mencatat penurunan lebih dari 9 % selama empat sesi terakhir-mengurangi tekanan inflasi sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve berkurang, menguatkan emas sebagai aset lindung nilai dan mendorong harga spot naik 0,4 % menjadi US$4.361,89 per ons. EmitenNews menambahkan bahwa penurunan energi juga menurunkan biaya produksi dan mengubah aliran modal ke logam mulia, terlihat dari kenaikan harga perak sebesar 0,8 % menjadi US$66,56 per ons. Penurunan minyak menurunkan risiko inflasi yang biasanya menekan suku bunga, sehingga investor beralih ke emas yang lebih menguntungkan ketika suku bunga rendah. Kombinasi faktor geopolitik, seperti upaya diplomasi di Timur Tengah, memperkuat sentimen positif bagi komoditas safe-haven. Akibatnya, pasar melihat emas sebagai opsi perlindungan yang lebih menarik dibandingkan aset berbunga.
Apa Dampak Kenaikan Emas Terhadap Harga Emas Batangan di Indonesia?
EmitenNews melaporkan bahwa penguatan harga emas dunia biasanya memicu penyesuaian naik pada harga emas batangan Antam di dalam negeri, karena produsen menyesuaikan harga jual untuk mencerminkan pasar internasional. Kenaikan spot ke US$4.361,89 per ons memberikan dasar bagi Antam untuk menaikkan harga jualnya, menjaga daya tarik logam mulia bagi investor domestik yang mencari perlindungan nilai di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global. Selain itu, pergerakan positif logam mulia seperti perak dan platinum memperluas persepsi risiko pasar, sehingga investor lokal cenderung meningkatkan alokasi pada portofolio emas. Dampaknya adalah potensi peningkatan volume penjualan emas batangan, yang dapat berkontribusi pada pendapatan deviasi perusahaan serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar konsumen logam mulia utama di Asia Tenggara. Namun, keputusan penetapan harga akhir tetap tergantung pada kebijakan Antam dan regulasi pemerintah terkait.
Bagaimana Pernyataan Pejabat The Fed Mempengaruhi Sentimen Pasar Emas?
Berdasarkan data dari EmitenNews, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menegaskan bahwa bank sentral tidak dapat mengabaikan guncangan pasokan yang berulang, sementara Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem mengindikasikan bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan masih diperlukan untuk mencapai target inflasi. Pernyataan ini menciptakan ketidakpastian kebijakan moneter meski harga minyak telah meredam tekanan inflasi, sehingga investor tetap mengandalkan emas sebagai aset safe-haven. Meskipun penurunan minyak menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga, komentar Fed yang menyoroti risiko pasokan dan kemungkinan pengetatan lebih lanjut menahan optimisme pasar, menjaga permintaan emas pada level tinggi. Kombinasi antara data energi yang melonggarkan inflasi dan sinyal Fed yang hati-hati menghasilkan dinamika pasar di mana emas tetap mendapat dukungan kuat, sementara yen dan dolar terus dipantau untuk mengukur dampak selanjutnya.
Sumber : AI News