AI News - Pada Senin 12 Oktober 2026, harga emas mundur sekitar 0,55 % menjadi kira-kira US$4.170 per ons, dipicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, sambil investor menantikan rilis CPI AS pada 14 Oktober untuk menilai arah kebijakan The Fed.
Poin Penting
- Harga emas spot turun sekitar 0,55 % menjadi kira-kira US$4.170 per ons pada Senin 12 Oktober 2026.
- Dolar AS berada di level tertinggi dalam 1,5 tahun, menekan logam mulia.
- Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 87,7 %.
- Harga minyak mendekati level tertinggi dua pekan setelah serangan di Arab Saudi.
- Rilis CPI AS dijadwalkan pada Rabu 14 Oktober 2026, diikuti PPI dan data penjualan ritel pada Kamis.
Mengapa Harga Emas Turun di Tengah Penguatan Dolar dan Kenaikan Minyak?
Penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam satu setengah tahun serta lonjakan harga minyak menurunkan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Dolar yang kuat meningkatkan biaya peluang bagi investor yang harus membayar lebih dalam mata uang dolar untuk membeli logam mulia, sementara harga minyak yang naik mendorong ekspektasi inflasi lebih tinggi. Menurut IDX Channel, harga emas spot pada sesi Senin 12 Oktober 2026 turun 0,55 % menjadi US$4.171,65 per ons, sedangkan Investor.id mencatat penurunan 0,54 % ke US$4.169,10 per ons. CME FedWatch memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember sebesar 87,7 %, menambah tekanan bearish pada logam mulia. Kombinasi faktor tersebut menjelaskan dominasi penjual dalam pasar emas hari itu.
Apa Implikasi Rilis Data Inflasi AS Terhadap Harga Emas Selanjutnya?
Data inflasi AS yang dirilis pada Rabu 14 Oktober 2026 menjadi penentu utama arah pergerakan emas ke depan. Jika indeks harga konsumen (CPI) menunjukkan penurunan tekanan inflasi, emas dapat memperoleh dukungan, namun Jim Wyckoff, analis American Gold Exchange, memperkirakan laporan tersebut belum akan menampilkan tanda pelonggaran, sebagaimana disampaikan dalam laporan Investor.id yang mengutip Reuters. Wyckoff menambahkan bahwa ketidakmampuan data inflasi untuk melonggarkan tekanan dapat memperpanjang tren bearish yang sedang berlangsung. Selain CPI, agenda minggu itu juga mencakup indeks harga produsen (PPI) dan data penjualan ritel pada Kamis, yang dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter. Oleh karena itu, pelaku pasar menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk menilai respons kebijakan selanjutnya.
Bagaimana Probabilitas Kenaikan Suku Bunga The Fed Mempengaruhi Daya Tarik Emas?
Probabilitas tinggi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember menurunkan daya tarik emas sebagai aset safe-haven. CME FedWatch Tool memperkirakan peluang kenaikan mencapai 87,7 %, yang berarti suku bunga dapat tetap atau naik, meningkatkan imbal hasil obligasi dan aset berbunga lainnya. Dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, biaya peluang memegang emas tanpa hasil menjadi lebih besar, sehingga investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan return lebih tinggi. Kondisi ini memperkuat sentimen bearish yang sudah terbentuk pada sesi perdagangan Senin. Analisis ini sejalan dengan pandangan pasar yang secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat hingga akhir tahun.
Apa Dampak Eskalasi Konflik Timur Tengah Terhadap Sentimen Pasar Logam Mulia?
Eskalasi konflik di Timur Tengah menambah ketidakpastian bagi pasar komoditas, termasuk emas. Serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi, sebagaimana dilaporkan IDX Channel, menimbulkan kekhawatiran atas pasokan energi dan mendorong harga minyak naik mendekati level tertinggi dua pekan. Kenaikan minyak berpotensi memperkuat ekspektasi inflasi global, yang pada gilirannya dapat meningkatkan tekanan pada logam mulia jika tidak diimbangi oleh kebijakan moneter yang lebih longgar. Sementara itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyambut ekspor diesel Rusia serta gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina turut memengaruhi dinamika pasar energi. Semua faktor ini membuat investor tetap berhati-hati dan menahan posisi beli emas hingga data ekonomi AS memberikan kejelasan lebih lanjut.
Sumber : AI News