- Bursa Eropa turun karena kekhawatiran konflik dan pasokan energi.
- Banyak sektor melemah, energi justru naik.
- Risiko inflasi dan ekonomi global meningkat.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melemah, Kamis, setelah mencatat reli terkuatnya dalam lebih dari empat tahun, seiring pelaku pasar kembali berhati-hati terhadap rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi global.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melorot 0,15% atau 0,91 poin menjadi 612,59 poin, meski sempat memangkas penurunan awal setelah muncul laporan bahwa Israel dan Lebanon kemungkinan segera memulai negosiasi langsung, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (9/4) atau Jumat (10/4) dini hari WIB.
Bursa utama kawasan juga berguguran. Indeks DAX Jerman merosot 1,14% atau 273,64 poin jadi 23.806,99, CAC 40 Prancis turun 0,22% atau 18,07 poin ke posisi 8.245,80, dan FTSE 100 Inggris berkurang 0,05% atau 5,40 poin ke posisi 10.603,48.
Pada sesi sebelumnya, pasar Eropa sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua pekan, memicu optimisme bahwa pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz--jalur vital perdagangan energi dunia--dapat kembali beroperasi.
Namun optimisme tersebut cepat memudar. Israel dilaporkan masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon, sementara Teheran belum mencabut blokade hampir total di selat tersebut. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi konflik yang berkepanjangan.
Analis City Index, Fiona Cincotta, menilai reli sebelumnya terlalu berlebihan mengingat gencatan senjata yang masih bersifat sementara. Dia menekankan bahwa fokus utama pasar tetap pada akses dan stabilitas di Selat Hormuz. Selama jalur itu belum sepenuhnya terbuka, risiko ekonomi tetap tinggi dan pasar cenderung bersikap defensif.
Sejak konflik memanas pada Februari, pasar Eropa berada di bawah tekanan karena tingginya ketergantungan kawasan tersebut terhadap impor energi, terutama minyak.
Dari sisi sektoral, industri menjadi penekan terbesar dengan penurunan 0,5%. Perusahaan teknologi dan manufaktur kakap seperti Siemens merosot 2,1%, sementara Airbus anjlok 2,5%.
Saham sektor perjalanan, perbankan, dan teknologi juga bergerak negatif setelah mencatat kenaikan signifikan pada sesi sebelumnya. Tekanan khusus terlihat pada saham teknologi, mengikuti pelemahan di Wall Street. Raksasa perangkat lunak Jerman SAP ambles 6,8%, mencapai level terendah sejak Januari 2024.
Survei kuartalan dari Citi menunjukkan pertumbuhan anggaran IT diperkirakan melambat menjadi 2,6% dalam 12 bulan ke depan. Ketidakpastian makroekonomi disebut berpotensi menunda proyek-proyek besar perusahaan.
Sektor barang mewah juga ikut melemah 0,7%, dengan LVMH turun 3%. Sebaliknya, sektor energi justru menguat hampir 2% seiring kenaikan harga minyak pada hari tersebut.
Investor juga mencermati data resmi yang menunjukkan inflasi di Amerika Serikat meningkat secara bulanan. Lonjakan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah diperkirakan tercermin dalam angka inflasi global dalam waktu dekat.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh European Central Bank setelah pengumuman gencatan senjata. Meski demikian, pasar masih memperkirakan ada dua kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Sementara itu, kelompok lobi industri Eropa yang mencakup perusahaan minuman beralkohol dilaporkan meminta India untuk memberikan pengecualian terhadap bea impor 10% bagi botol kaca dan kaleng aluminium, sebagai upaya meringankan tekanan biaya di tengah ketidakpastian global. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin