Fitch: WIKA Picu Lonjakan Default Obligasi Korporasi Indonesia di 2025
Wednesday, February 18, 2026       13:58 WIB
  • Keterlambatan pembayaran bunga dan pokok obligasi menjadi penyebab utama lonjakan default obligasi korporasi domestik di 2025.
  • Peningkatan default mencapai Rp8,8 triliun mencerminkan risiko di pasar obligasi korporasi masih signifikan, meski aktivitas penerbitan tetap berjalan.
  • Fitch memproyeksikan, penerbitan obligasi korporasi non-keuangan pada 2026 sekitar Rp70-80 triliun, lebih rendah dari 2025.

Ipotnews - Keterlambatan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk () dalam membayar bunga dan pokok obligasi menjadi faktor utama peningkatan nilai gagal bayar (default) surat utang domestik korporasi di Indonesia untuk Tahun Buku 2025.
Berdasarkan laporan Fitch Ratings yang dikirim Direktur PT Fitch Ratings Indonesia, Felita melalui surat elektronik, total pokok obligasi domestik yang mengalami gagal bayar melonjak menjadi Rp8,8 triliun atau tertinggi sejak 2020.
Felita menyampaikan, kasus keterlambatan pembayaran oleh - termasuk yang terjadi usai proses restrukturisasi melalui pengadilan -berkontribusi pada peningkatan jumlah kepailitan korporasi di sepanjang 2025.
Peningkatan surat utang gagal bayar itu menunjukkan risiko kredit di segmen obligasi korporasi masih signifikan meskipun pasar tetap aktif. Sementara itu, Fitch memproyeksikan, penerbitan surat utang domestik korporasi non-keuangan pada 2026 bisa mencapai Rp70 triliun sampai Rp80 triliun.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi di sepanjang 2025 yang mencapai Rp97 triliun, namun tetap ditopang tingkat bunga lebih rendah dan kebutuhan refinancing yang lebih kecil karena hanya sedikit obligasi jatuh tempo.
Selain itu, korporasi juga diperkirakan tetap lebih memilih penerbitan di pasar domestik dibandingkan luar negeri, seiring dengan upaya mengurangi risiko nilai tukar di tengah volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Felita menyebutkan, penerbitan tenor panjang diperkirakan berlanjut, karena korporasi berupaya mengunci biaya pendanaan yang lebih rendah. Instrumen sukuk diproyeksikan terus bertumbuh, sejalan dengan permintaan investor yang kuat dan potensi pasar yang besar. (Budi/AI)

Sumber : admin