- Bursa Eropa terjerembab akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan lonjakan ketidakpastian.
- Saham bank, industri dan pariwisata melemah; energi, pertahanan dan pelayaran menguat.
- Fokus pasar beralih ke risiko geopolitik dan gangguan pasokan energi global.
Ipotnews -- Bursa ekuitas Eropa mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, mencatat kinerja harian terburuk dalam tiga bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual global aset berisiko, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup anjlok 1,65% atau 10,49 poin menjadi 623,36, level terendah dalam lebih dari dua pekan, hanya beberapa hari setelah mencetak rekor tertinggi pada sesi Jumat, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Senin (2/3) atau Selasa (3/3) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman merosot 2,42% atau 611,86 poin jadi 24.672,40, FTSE 100 Inggris menyusut 1,20% atau 130,44 poin ke posisi 10.780,11 dan CAC Prancis kehilangan 2,17% atau 186,43 poin menjadi 8.394,32.
Ketegangan meningkat setelah serangan pada akhir pekan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran konflik akan meluas dan melibatkan lebih banyak negara di area tersebut.
Meski Pentagon berupaya meredam kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan terjebak dalam konflik berkepanjangan, Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan CNN menyatakan bahwa "gelombang besar" dalam perang masih akan terjadi.
Lonjakan ketidakpastian tersebut tercermin pada indeks volatilitas STOXX, yang melejit ke level tertinggi sejak pertengahan November.
Head of Global Investment Strategy Wells Fargo Investment Institute, Paul Christopher, memperkirakan konflik ini akan berlangsung singkat namun berdampak besar. Dia menilai pasar cenderung bergerak ke arah penghindaran risiko (risk aversion), meski biasanya sentimen akan pulih jika konflik mereda dan pasokan minyak tetap terjaga.
Sektor perbankan menjadi yang paling terpukul, dengan penurunan sebesar 3,2%. Saham-saham unggulan seperti HSBC , Santander, dan Allianz terkoreksi antara 3% hingga 5%.
Indeks saham Spanyol, yang didominasi sektor keuangan, mencatat penurunan harian terdalam sejak gejolak tarif pada April lalu. Sementara itu, indeks Jerman mengalami penurunan terburuk sejak Agustus.
Sektor industri dan konsumsi non-primer, termasuk perusahaan barang mewah, masing-masing melorot sekitar 1% dan 3%. Investor mulai memperhitungkan potensi gangguan rantai pasok, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada ekspor.
Di sisi lain, sektor energi justru mencatatkan kinerja positif dan menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Kenaikan ini mengikuti lonjakan harga minyak yang sempat melejit hingga 13% setelah serangan Iran mengganggu jalur pengiriman melalui Selat Hormuz--jalur vital bagi lebih dari 20% pasokan minyak global.
Harga gas alam Eropa bahkan meroket hingga 50% setelah eksportir LNG utama, QatarEnergy, menghentikan produksi. Saham perusahaan energi seperti Shell, BP, dan TotalEnergies melambung antara 2% hingga 3%.
Sebaliknya, sektor perjalanan dan pariwisata terpukul keras akibat kenaikan harga energi, penutupan wilayah udara, serta penghentian rute ke Timur Tengah--yang merupakan jalur penting penerbangan global. Saham Lufthansa menyusut 5,2%, sementara IAG (induk British Airways) dan Air France-KLM masing-masing merosot 5,5% dan 9%.
Konflik ini juga mendorong ekspektasi peningkatan permintaan alat pertahanan. Saham perusahaan seperti BAE Systems dan Leonardo menguat, dengan sektor pertahanan secara keseluruhan naik 0,3%.
Saham perusahaan pelayaran turut menguat seiring meningkatnya ekspektasi tarif pengiriman akibat terbatasnya kapasitas kapal. Maersk melambung 7,9%, sementara Hapag-Lloyd melompat 6,4%.
Gejolak geopolitik ini terjadi saat pasar global baru mulai pulih dari ketidakpastian sepanjang Februari, yang dipengaruhi isu belanja kecerdasan buatan, kekhawatiran tarif perdagangan, serta ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.
Untuk pekan ini, perhatian pelaku pasar terhadap data ekonomi seperti inflasi konsumen dan produsen diperkirakan berkurang, seiring dominasi sentimen geopolitik. Meski demikian, survei terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur di zona euro tumbuh pada laju tercepat dalam hampir empat tahun pada bulan lalu. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin