- Gencatan senjata Iran-AS menekan harga minyak dan menguatkan rupiah.
- Emas tetap reli karena bank sentral global meningkatkan pembelian.
- Peluang penurunan suku bunga The Fed makin besar akibat meredanya inflasi energi.
Ipotnews - Kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan, langsung mengguncang pasar energi global. Dibukanya kembali jalur Selat Hormuz membuat pasokan minyak dunia kembali berjalan normal setelah sempat terganggu oleh memanasnya konflik di kawasan.
Dampak paling cepat terlihat pada harga minyak yang segera terkoreksi. Pasar menilai kembalinya arus transportasi energi melalui Selat Hormuz menghapus risiko lonjakan harga minyak dalam jangka pendek, memberikan sentimen positif bagi stabilitas ekonomi global.
Pergerakan nilai tukar rupiah juga turut merespons kabar baik tersebut dengan menguat hampir 100 poin seiring melemahnya Dolar AS. Ia melihat ruang penguatan masih akan terus terbuka selama masa gencatan senjata berlangsung.
"Penguatan rupiah hari ini sangat wajar karena gencatan senjata membuka peluang ekspor dari Timur Tengah kembali normal," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada awak media, Rabu (8/4).
Di pasar komoditas, harga emas dunia juga bergerak naik meskipun tensi geopolitik mereda. Investor global membaca kondisi ini sebagai jeda sementara, bukan penyelesaian permanen, sehingga bank sentral tetap meningkatkan pembelian emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian.
Ibrahim memproyeksikan tren kenaikan emas akan berlanjut kuat pada tahun ini. Ia menjelaskan bahwa berbagai faktor seperti ketegangan geopolitik, politik AS, dan kebijakan bank sentral global membuat emas tetap diminati.
"Target emas menuju USD5.000 bahkan hingga USD6.000 masih sangat mungkin tercapai," ujarnya.
Di pasar domestik, kenaikan harga emas dunia diperkirakan mendorong harga logam mulia lokal mendekati level Rp 3 juta per gram. Ibrahim menyebut tren ini akan terus menguat jika pembelian emas oleh bank sentral global semakin agresif.
Dalam waktu yang sama, perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) dimana Ketua The Fed Jerome Powell disebut mendekati akhir masa jabatannya, dan diproyeksikan akan digantikan oleh Kevin Walsh. Pergantian kepemimpinan ini membuka ruang lebih besar bagi perubahan kebijakan moneter. Menurut Ibrahim, gencatan senjata memberikan katalis tambahan bagi peluang penurunan suku bunga.
"Dengan harga minyak dan bensin di Amerika turun, inflasi bisa kembali stabil, dan itu membuka peluang The Fed menurunkan suku bunga," katanya.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin