Harapan Damai Amerika-Iran Memudar, Wall Street Berakhir di Zona Merah
Wednesday, April 22, 2026       04:32 WIB
  • Wall Street turun karena kekhawatiran konflik Timur Tengah.
  • Indeks utama melemah meski energi menguat.
  • Investor cermati geopolitik dan arah kebijakan the Fed.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melorot pada perdagangan Selasa, setelah penguatan di awal sesi menguap akibat meningkatnya kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah yang menutupi optimisme terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 293,18 poin atau 0,59% menjadi 49.149,38, sementara S&P 500 melemah 45,13 poin atau 0,63% ke posisi 7.064,01, dan Nasdaq Composite Index menyusut 144,43 poin atau 0,59% jadi 24.259,96, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (21/4) atau Rabu (22/4) pagi WIB.
Sebelumnya, indeks berbasis luas S&P 500 sempat menguat hingga 0,4% pada awal sesi perdagangan.
Ketidakpastian meningkat setelah seorang pejabat senior Iran menyatakan negaranya bersedia menghadiri pembicaraan dengan Amerika Serikat di Pakistan, asalkan Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancaman. Namun, Iran menegaskan menolak negosiasi yang bertujuan memaksakan penyerahan.
Sentimen pasar semakin tertekan menjelang penutupan perdagangan, setelah muncul laporan Wakil Presiden AS, JD Vance, membatalkan perjalanan ke Pakistan untuk menghadiri pembicaraan damai. Kondisi ini memupus harapan investor yang sebelumnya mendorong reli saham dalam beberapa pekan terakhir dengan ekspektasi tercapainya kesepakatan damai.
Manajer Portofolio GLOBALT Investments, Thomas Martin, menyebut pasar saat ini dihadapkan pada dua kekuatan utama, yakni prospek penyelesaian konflik Iran dan kinerja fundamental ekonomi serta perusahaan yang relatif solid. Namun, ketidakpastian terkait Iran menjadi faktor penentu yang sulit diprediksi.
Data ekonomi terbaru dari Departemen Perdagangan menunjukkan penjualan ritel Amerika meningkat lebih dari ekspektasi sepanjang Maret karena perang dengan Iran mendongkrak harga bensin dan menyebabkan lonjakan rekor penerimaan di SPBU .
Penjualan ritel melonjak 1,7% bulan lalu, peningkatan terbesar sejak Maret 2025, setelah kenaikan 0,7% yang direvisi ke atas pada Februari dan melampaui perkiraan 1,4% dari sejumlah ekonom yang disurvei  Reuters. 
Di tengah tekanan geopolitik, optimisme terhadap kecerdasan buatan dan kinerja perusahaan tetap memberikan penopang pasar. Data dari London Stock Exchange Group memperkirakan pertumbuhan laba kuartal pertama sekitar 14%.
Bank investasi JPMorgan Chase bahkan menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500, didorong prospek laba berbasis teknologi dan AI. Sementara itu, Amazon mengumumkan rencana investasi hingga USD25 miliar di perusahaan AI Anthropic, menegaskan komitmen belanja besar di sektor tersebut. Saham Amazon ditutup naik 0,66%.
Sektor energi menjadi satu-satunya penguat utama di indeks S&P 500, melesat 1,31% seiring lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah.
Dari sisi emiten, UnitedHealth Group melambung 7% setelah menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui ekspektasi pasar pada kuartal pertama, memberikan kontribusi terbesar terhadap penguatan indeks Dow.
Sebaliknya, saham Apple merosot 2,52% setelah perusahaan mengumumkan bahwa CEO Tim Cook akan menyerahkan kepemimpinan kepada kepala divisi perangkat keras, John Ternus.
Perhatian investor juga tertuju pada proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai Chairman Federal Reserve. Dalam sidang di Senat, Warsh menegaskan tidak memberikan janji kepada Presiden Donald Trump terkait pemangkasan suku bunga, serta menekankan independensi bank sentral.
Namun, proses tersebut menghadapi hambatan politik. Senator Partai Republik, Thom Tillis, berjanji akan memblokir konfirmasi Warsh hingga Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan terhadap Chairman Fed saat ini, Jerome Powell, yang dinilai dapat mengancam independensi lembaga tersebut.
Kebuntuan ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Amerika, terutama setelah Trump menyatakan akan memecat Powell jika tidak mengundurkan diri saat masa jabatannya berakhir pada Mei.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun mendominasi perdagangan, dengan rasio 2,67 banding 1 di New York Stock Exchange dan 2,53 banding 1 di Nasdaq.
Indeks S&P 500 mencatat 50 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham menyentuh level terendah, sementara Nasdaq membukukan 144 saham tertinggi baru dan 62 terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 18,08 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 18,4 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Unitedhealth Group (6,96%)
-Cisco Systems Inc (2,31%)
-Chevron Corp (1,50%)
Saham berkinerja terburuk
-Merck & Company Inc (-3,87%)
-Honeywell International Inc (-3,25%)
-Sherwin-Williams Co (-2,72%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Northern Trust Corporation (8,04%)
-HP Inc (7,66%)
-Unitedhealth Group (6,96%)
Saham berkinerja terburuk
-Tractor Supply Company (-11,69%)
-FMC Corporation (-8,53%)
-Northrop Grumman Corporation (-6,98%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Faraday Future Intelligent Electric Inc (85,52%)
-Electro-Sensors Inc (74,60%)
-Republic Power Group Ltd (58,47%)
Saham berkinerja terburuk
-Hub Cyber Security Ltd (-54,41%)
-Linkage Global Inc (-31,12%)
-Sow Good Inc (-30,30%)

Sumber : Admin