- Bursa Eropa turun tipis, tertahan harapan pembukaan Selat Hormuz namun dibayangi konflik AS-Iran.
- Sektor utama melemah dan volatilitas naik, di tengah perdagangan sepi libur Paskah.
- Fokus pasar bergeser ke risiko perlambatan ekonomi, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga ECB.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berhasil memangkas kerugian pada perdagangan Kamis setelah muncul harapan pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz. Meski demikian, sentimen pasar tetap tertahan oleh ancaman Presiden AS Donald Trump yang berjanji akan melanjutkan serangan terhadap Iran.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,18% atau 1,06 poin menjadi 596,63, setelah merosot hingga 1,6% pada awal sesi perdagangan, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (2/4) atau Jumat (3/4) dini hari WIB.
Bursa regional utama berakhir variatif. Indeks DAX Jerman melemah 0,56% atau 130,81 poin jadi 23.168,08 dan CAC Pransis menyusut 0,24% atau 18,88 poin ke posisi 7.962,39, sedangkan FTSE 100 Inggris menguat 0,69% atau 71,50 poin menjadi 10.436,29.
Perdagangan juga berlangsung relatif sepi karena pasar Eropa memasuki akhir pekan panjang libur Paskah. Bursa Norwegia dan Denmark ditutup untuk memperingati Kamis Putih, sementara seluruh indeks utama akan libur pada Jumat Agung, 3 April, dan Senin Paskah, 6 April.
Dari sisi geopolitik, Iran dilaporkan tengah menyusun protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas di Selat Hormuz. Langkah ini memicu harapan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut dapat segera dibuka kembali.
Jika terealisasi, pembukaan Selat Hormuz akan memungkinkan kembali distribusi minyak global melalui jalur tersebut, sehingga berpotensi meredakan tekanan inflasi akibat gangguan pasokan energi.
Namun, optimisme tersebut dibayangi oleh pernyataan Trump yang menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran "dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan." Pernyataan ini membuat investor tetap berhati-hati terhadap eskalasi konflik.
Ekonom ING menilai dampak ekonomi dari krisis ini tidak hanya bergantung pada seberapa tinggi harga energi melompat, tetapi juga pada berapa lama harga tersebut bertahan di level tinggi.
Di pasar sektoral, saham teknologi Eropa melorot sekitar 1%, sementara sektor pertambangan melemah 0,9%. Saham perbankan bahkan turun lebih dalam, yakni 1,1%, menjadikannya salah satu penekan utama indeks.
Kepala Riset Ekuitas State Street, Marija Veitmane, menyebut fokus pasar mulai bergeser. Jika sebelumnya investor khawatir terhadap lonjakan inflasi, kini perhatian mulai beralih pada risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat menekan valuasi saham.
Volatilitas pasar juga meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Indeks volatilitas STOXX tercatat melesat 1,5 poin ke level 28,5, mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di kalangan investor.
Analis Julius Baer menilai guncangan awal pada pasar energi global kini berkembang menjadi fase yang lebih kompleks, ditandai dengan dinamika yang berubah cepat, ketidakpastian tinggi, serta meningkatnya risiko eskalasi konflik.
Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar masih memperkirakan adanya tiga kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun, berdasarkan data yang dihimpun LSEG . Proyeksi ini berubah signifikan dibandingkan sebelum konflik, ketika investor memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa.
Sementara itu, pada level perusahaan, saham Stellantis melambung 4,1% setelah laporan menyebutkan emiten tersebut tengah menjajaki opsi produksi kendaraan listrik di Kanada bersama mitra asal China, Zhejiang Leapmotor Technology. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin