Harga Emas Dunia Diproyeksikan Uji Resistance US$4.429 pada Pekan Depan
Monday, September 21, 2026       03:27 WIB

AI News - Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa harga emas dunia akan menguji level resistance pertama di US$4.429 per ounce pada perdagangan pekan berikutnya, dengan potensi melanjutkan kenaikan ke US$4.533 jika momentum tetap kuat.

Poin Penting

  • Harga spot emas pada 18 September 2026 tercatat US$4.383,45 per ounce, naik 0,97% (42,06 poin) dalam satu hari.
  • Resistance teknikal pertama: US$4.429 per ounce; resistance kedua: US$4.533 per ounce.
  • Support teknikal pertama: US$4.333 per ounce; support kedua: US$4.250 per ounce.
  • Jika rupiah melemah melewati Rp18.000 per dolar, harga emas Antam dapat mencapai Rp2.820.000 per gram.
  • Harga minyak mentah diperkirakan berada di kisaran US$90,30-US$102,50 per barel pekan depan.

Mengapa Harga Emas Diperkirakan Menguji Level Resistance pada Pekan Depan?


Menurut Kontan, kenaikan harga spot emas menjadi US$4.383,45 per ounce-naik 0,97% pada 18 September-menunjukkan momentum bullish yang mendekati zona resistance US$4.429, sementara level resistance kedua berada di US$4.533. Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga 25 basis poin lagi sebelum akhir tahun, memperkuat permintaan safe-haven pada logam mulia. Di sisi lain, intervensi politik Donald Trump yang mendorong potensi pemotongan suku bunga lebih dari 100 basis poin menciptakan sentimen pasar yang menyeimbangkan tekanan kenaikan suku bunga, sehingga pembeli emas kembali aktif. Kombinasi faktor teknikal, kebijakan moneter, dan sentimen geopolitik menjadikan pekan depan periode krusial bagi emas untuk menguji batas atas tersebut.

Apa Dampak Eskalasi Geopolitik dan Politik Amerika Serikat Terhadap Pergerakan Harga Emas?


Investor.id melaporkan bahwa konflik di Timur Tengah kini berpindah dari Selat Hormuz ke Laut Merah, dengan kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke Riyadh, memicu permintaan minyak mentah yang mendorong harga ke kisaran US$90,30-US$102,50 per barel. Ketegangan ini, bersama dengan persaingan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik menjelang pemilu sela November, meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, kebijakan Federal Reserve yang didukung oleh 16 dari 18 deputi untuk meningkatkan suku bunga 25 basis poin menambah tekanan pada dolar, namun intervensi Trump terhadap Kevin Warsh untuk menurunkan suku bunga lebih dari 100 basis poin menimbulkan reaksi positif pasar emas. Kombinasi lonjakan harga minyak, inflasi akibat gasolina US$6,5 per galon, dan dinamika politik AS menegaskan peran emas sebagai aset pelindung nilai dalam situasi geopolitik yang bergejolak.

Bagaimana Pergerakan Harga Emas Memengaruhi Nilai Tukar Rupiah dan Harga Emas Antam?


Menurut data Investor.id, bila nilai tukar rupiah kembali melewati Rp18.000 per dolar, tekanan inflasi impor akan meningkatkan permintaan logam mulia, mendorong harga Antam ke level sekitar Rp2.820.000 per gram. Saat ini, emas Antam ditutup pada Rp2.764.000 per gram, dengan support di kisaran Rp2.744.000-Rp2.620.000 dan resistance di antara Rp2.784.000-Rp2.820.000. Kenaikan harga emas dunia ke atas US$4.429 per ounce secara langsung memperlemah rupiah, karena investor beralih ke aset safe-haven, sehingga memperkuat korelasi antara pergerakan harga komoditas global dan pasar domestik. Akibatnya, investor ritel di Indonesia dapat mengharapkan kenaikan nilai emas fisik mereka, sementara pelaku pasar valuta asing harus menyesuaikan strategi hedging terhadap potensi depresiasi rupiah.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News