Harga Minyak Melejit, Bursa Wall Street Tersungkur Jelang Keputusan The Fed
Friday, September 11, 2026       04:17 WIB
  • S&P 500 turun 0,58%, Nasdaq -0,65%, Dow -0,60%.
  • Brent melonjak lebih dari 6% ke USD107.
  • Peluang kenaikan suku bunga Fed naik menjadi 70%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street tersungkur, Kamis, setelah data harga produsen Amerika Serikat periode Agustus dan lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pekan depan. Kenaikan imbal hasil US Treasury turut membuat saham menjadi kurang menarik.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup turun 0,58% atau 44,66 poin menjadi 7.591,7, Nasdaq Composite Index melemah 0,65% atau 171,61 poin ke posisi 26.081,73, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,60% atau 316,56 poin jadi 52.064,10, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di New York, Kamis (10/9) atau Jumat (11/9) pagi WIB.
Saham perusahaan semikonduktor berkapitalisasi besar turut tertekan. Nvidia merosot 2,3%, sementara Micron Technology anjlok 4,7%. Kedua saham tersebut menjadi pemberat utama S&P 500.
Sebaliknya, saham Apple melonjak 3,6%, sehari setelah raksasa teknologi itu meluncurkan iPhone baru dengan harga mulai USD1.999.
Tekanan terhadap pasar semakin besar setelah harga minyak mentah Brent melambung lebih dari 6% menjadi sekitar USD107 per barel. Gangguan jalur pasokan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah akibat perang AS-Israel dengan Iran meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan Rabu pekan depan.
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun melesat ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Imbal hasil surat utang 30 tahun mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari 19 tahun, sedangkan yield tenor dua tahun menyentuh level puncak dalam lebih dari dua tahun.
Analis Baird, Ross Mayfield, mengatakan kenaikan imbal hasil di sisi pendek kurva terjadi karena pasar memperkirakan the Fed kemungkinan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Sementara di sisi panjang, imbal hasil meningkat akibat persoalan utang dan defisit serta inflasi yang masih sulit turun.
"Imbal hasil yang lebih tinggi berdampak negatif bagi pasar saham. Kondisi ini menurunkan valuasi dan membuat biaya operasional bisnis serta biaya hidup konsumen menjadi lebih mahal," kata Mayfield.
Data yang dirilis Kamis menunjukkan indeks harga produsen (PPI) Amerika meningkat sesuai ekspektasi pada Agustus secara bulanan, didorong pemulihan harga produk energi. Investor selanjutnya akan mencermati data indeks harga konsumen (CPI) Agustus yang akan dirilis Jumat.
S&P 500 kehilangan sekitar 2% dalam empat sesi perdagangan terakhir, mencatat penurunan empat hari terdalam sejak Juni.
Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor material menjadi penekan terbesar dengan kerugian 1,45%, diikuti sektor teknologi informasi yang melemah 0,91%.
Volume perdagangan di bursa Wall Street relatif tinggi dengan sekitar 15,1 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 14,9 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang the Fed menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin, pekan depan, mencapai 70%, melompat dari sekitar 64% sebelum data Kamis dirilis, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Setelah penurunan terbaru, S&P 500 kini sekitar 3% di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat lonjakan sekitar 11% sepanjang 2026.
Penurunan S&P 500 dalam beberapa sesi terakhir, di tengah prospek laba perusahaan yang tetap kuat, membuat indeks acuan tersebut diperdagangkan pada sekitar 19 kali estimasi laba. Valuasi tersebut merupakan yang termurah sejak April 2025, ketika pengumuman tarif "Liberation Day" oleh Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar global.
Pada perdagangan individual, saham Macy's ambles 4,7%. Operator department store yang tengah menghadapi tekanan tersebut menaikkan proyeksi tahunan, tetapi peningkatannya dinilai belum cukup untuk memenuhi ekspektasi investor.
Saham American Eagle Outfitters anjlok 14% ke level terendah sejak Oktober setelah perusahaan pakaian tersebut mempertahankan proyeksi penjualan sebanding tahunan di tengah belanja konsumen diskresioner yang masih berfluktuasi.
Di S&P 500, jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 2 banding 1. S&P 500 mencatat delapan saham yang mencapai level tertinggi baru dan 28 saham yang mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq membukukan 44 saham dengan level tertinggi baru dan 215 saham dengan level terendah baru. (Reuters/CNBC/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Apple Inc (3,58%)
-Walt Disney Company (1,57%)
-Verizon Communications Inc (0,46%)
Saham berkinerja terburuk
-International Business Machines (-2,47%)
-Nvidia Corporation (-2,26%)
-Amgen Inc (-2,25%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Skyworks Solutions Inc (9,79%)
-Qorvo Inc (6,77%)
-Charter Communications Inc (4,98%)
Saham berkinerja terburuk
-Cooper Companies Inc (-14,67%)
-Baker Hughes Co (-6,66%)
-Freeport-McMoran Copper & Gold Inc (-6,59%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Lion Group Holding Ltd (1.802,68%)
-Tenon Medical Inc (117,21%)
-Digital Brands Group Inc (81,07%)
Saham berkinerja terburuk
-MKDWELL Tech Inc (-48,48%)
-CDT Equity Inc (-42,54%)
-Lexaria Bioscience Corp (-38,64%)

Sumber : Admin