- Dolar AS mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juni, sementara yen melemah ke level terendah dalam lebih dari dua bulan meski Jepang siap melakukan intervensi.
- Kenaikan harga minyak akibat konflik Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Pasar masih memperkirakan ECB berpeluang menaikkan suku bunga pada September, sedangkan peluang BOJ menaikkan suku bunga pekan depan nyaris tidak ada.
Ipotnews - Dolar Amerika Serikat (AS) mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juni, didorong oleh kenaikan harga minyak. Sementara itu, yen Jepang bersiap membukukan pelemahan mingguan terbesar dalam lebih dari dua bulan. Mata uang tersebut masih berada di dekat level terendah dalam 40 tahun dan pemerintah Jepang terus berupaya menopangnya.
Upaya verbal pemerintah Jepang untuk mendukung yen belum memberikan hasil yang berarti. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali menegaskan pada Jumat bahwa pemerintah siap mengambil tindakan di pasar valuta asing jika diperlukan.
Sejumlah analis menilai intervensi lanjutan dari otoritas Jepang kemungkinan hanya akan memberikan dampak sementara, seperti yang terjadi pada intervensi sebelumnya, kecuali diikuti langkah yang lebih terkoordinasi, termasuk kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh Bank of Japan (BOJ).
Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Kamis turut mendorong BOJ untuk menaikkan suku bunga dengan memperingatkan bahwa volatilitas nilai tukar yang berlebihan tidak diinginkan. Namun demikian, berdasarkan data pasar, peluang kenaikan suku bunga oleh BOJ pada rapat kebijakan pekan depan kini praktis sudah tidak diperhitungkan oleh pelaku pasar.
Analis Strategi Valas dan Suku Bunga Macquarie Group, Thierry Wizman, mengatakan penguatan dolar terhadap yen bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, yen merupakan mata uang dengan imbal hasil rendah yang saat ini menghadapi tekanan akibat lonjakan harga minyak.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat yen menjadi sasaran utama pelaku pasar. Karena itu, pasangan dolar terhadap yen terus menguat sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari, seiring kenaikan harga minyak.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama, naik tipis 0,01% ke level 101,46 dan menguat sekitar 0,7% sepanjang pekan. Kinerja tersebut menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam lima pekan.
Terhadap yen, dolar melemah tipis 0,02% ke level 163,81. Namun secara mingguan dolar masih menguat hampir 0,9%, yang menjadi penguatan mingguan terbesar terhadap yen sejak 15 Mei. Pada Kamis, dolar sempat menyentuh level 163,98, tertinggi terhadap yen sejak November 1986.
Dalam beberapa hari terakhir, dolar terus menguat setelah serangan terbaru dalam perang Iran mendorong kenaikan harga minyak dan kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) berpotensi menaikkan suku bunga.
Ekonomi Amerika Serikat juga dinilai lebih tahan terhadap guncangan harga energi dibandingkan Eropa maupun Jepang, sehingga turut memperkuat posisi dolar.
Harga minyak mentah AS turun 3,47% menjadi US$88,99 per barel, sedangkan Brent turun 4,12% menjadi US$96,48 per barel, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan di US$102 per barel.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan meningkat menjadi 35,8%, naik dari 12,8% sepekan sebelumnya. Sebelumnya, data inflasi AS yang lebih rendah pada Juni sempat memunculkan harapan bahwa The Fed akan menunda kenaikan suku bunga. Namun, memanasnya konflik Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Kepala Ekonom AS J.P. Morgan, Michael Feroli, memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Meski demikian, ia memperkirakan setidaknya akan ada dua anggota komite yang menyampaikan pandangan lebih agresif karena mulai kehilangan kesabaran terhadap inflasi yang masih berada di atas target.
Sementara itu, euro melemah 0,06% ke level US$1,1369 dan turun hampir 0,6% sepanjang pekan. Pelemahan tersebut terjadi sehari setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga, namun tetap membuka peluang kenaikan suku bunga pada September.
Kepala Ekonom ECB Philip Lane mengatakan bank sentral masih menilai lonjakan inflasi saat ini berada pada kategori menengah, sehingga tetap memerlukan respons kebijakan, tetapi belum membutuhkan langkah yang terlalu agresif. ECB juga optimistis inflasi dapat kembali ke target 2% dalam sekitar satu tahun. Berdasarkan data pasar, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga ECB pada September mencapai sekitar 70,8%.
(reuters)
Sumber : admin