IHSG Berpeluang Menembus Level Psikologis 9.000 Pada 2026
Wednesday, December 31, 2025       09:25 WIB
  • Proyeksi IHSG 2026: IHSG berpeluang menguji level psikologis 9.000 seiring masuknya pasar ke fase broadening bull market, di mana penguatan diperkirakan lebih merata lintas sektor.
  • Katalis Domestik Utama: Implementasi Agreement on Reciprocal Tariff (ART) RI-AS, kualitas laba perbankan (penurunan provisi), serta dampak kebijakan fiskal baru seperti PPN 12% dan Bea Keluar Emas 10% akan menjadi faktor penentu arah pasar.
  • Faktor Global Penopang & Risiko: Penerapan pajak minimum global 15%, meluasnya adopsi AI ke sektor non-teknologi, serta stabilitas harga minyak (~US$60/barel) dan emas akan memengaruhi sentimen, khususnya pada saham energi dan tambang.

Ipotnews - Memasuki tahun 2026, pasar saham Indonesia diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan yang signifikan, seiring potensi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) yang diperkirakan dapat menguji level psikologis 9.000.
Optimisme tersebut didorong oleh ekspektasi fase broadening bull market, di mana penguatan tidak lagi terfokus pada sektor tertentu, melainkan menyebar lebih merata ke berbagai sektor ekonomi.
Community Lead PT IndoPremier Sekuritas, David Kurniawan Soebekti, menilai bahwa karakter pasar pada 2026 akan berbeda dibandingkan periode sebelumnya yang cenderung sektoral.
"Memasuki tahun 2026, pasar diprediksi akan memasuki fase Broadening Bull Market atau penguatan yang lebih merata ke berbagai sektor, tidak hanya terpusat pada sektor tertentu saja,"
kata David saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp Selasa sore (30/12).
Dari sisi proyeksi teknikal dan fundamental, David menyebut IHSG memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi sepanjang 2026. "Analis memproyeksikan IHSG berpeluang menguji level psikologis 9.000," ungkapnya, sembari menekankan bahwa realisasi target tersebut akan sangat bergantung pada kombinasi faktor domestik dan global.
Di dalam negeri, salah satu katalis utama yang menjadi perhatian pasar adalah arah diplomasi dagang Indonesia dengan Amerika Serikat. Implementasi Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dinilai akan menjadi penentu bagi kinerja sejumlah sektor strategis. "Kesepakatan bebas tarif untuk kelapa sawit dan kopi dengan timbal balik akses mineral kritis akan sangat menentukan arah sektor perkebunan dan tambang," jelas David.
Namun demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati tantangan kebijakan fiskal yang mulai berlaku. Penyesuaian tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% serta penerapan Bea Keluar Emas sebesar 10% berpotensi memberikan tekanan terhadap margin emiten dan daya beli masyarakat. "Penyesuaian pajak ini perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi margin keuntungan perusahaan dan konsumsi domestik," katanya.
Sektor perbankan juga diperkirakan tetap menjadi barometer penting bagi pergerakan IHSG . Menurut David, fokus investor akan tertuju pada kualitas laba bank-bank besar, khususnya setelah lonjakan beban pencadangan sepanjang 2025. "Kemampuan bank dalam menekan provisi akan menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan laba yang berkelanjutan di 2026," ujarnya.
Sementara dari sisi global, penerapan pajak minimum global sebesar 15% sesuai kesepakatan OECD diproyeksikan mulai berdampak nyata. Aturan ini akan mempengaruhi bagaimana Indonesia merancang insentif bagi perusahaan multinasional. Selain itu, efek lanjutan adopsi kecerdasan buatan (AI) juga dinilai mulai terasa lebih luas. "Penggunaan AI diprediksi tidak hanya terbatas di sektor teknologi, tetapi mulai merembes ke sektor non-teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional," tutur David.
Faktor geopolitik dan pergerakan harga komoditas tetap menjadi variabel penting dalam peta pasar 2026. Stabilitas harga minyak di kisaran US$60 per barel serta keberlanjutan tren harga emas diperkirakan akan berpengaruh langsung terhadap kinerja emiten energi dan tambang. "Harga komoditas yang relatif stabil akan menjadi penopang sentimen, terutama bagi saham-saham berbasis sumber daya alam," ungkap David.
Dengan kombinasi katalis positif dan tantangan struktural tersebut, pasar saham Indonesia memasuki 2026 dengan peluang sekaligus risiko yang perlu dicermati secara selektif oleh investor.(Adhitya/AI)

Sumber : admin