- IHSG berpeluang cetak ATH pada periode 5-9 Januari 2026, didorong oleh January Effect, akumulasi investor asing, serta rilis data ekonomi domestik (neraca perdagangan, inflasi dan CCI) yang diproyeksikan positif.
- Sentimen global tetap mendukung, dengan Wall Street berpotensi melanjutkan penguatan pasca kinerja solid 2025, meski risiko eksternal seperti tensi geopolitik dan potensi profit taking tetap perlu diantisipasi.
- IPOT merekomendasikan strategi January Effect melalui saham , , , serta ETF , yang didukung tren teknikal bullish, volume transaksi kuat dan aliran dana asing.
Ipotnews - Pada perdagangan di periode 5-9 Januari 2026, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) tetap berpotensi untuk melanjutkan pola penguatan yang didukung January Effect dan berlanjutnya akumulasi investor asing, serta rilis data ekonomi domestik yang diproyeksikan memberi sentimen positif bagi pasar.
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ), Hari Rachmansyah di Jakarta, Senin (5/1), selama sepekan ke depan pergerakan IHSG berpotensi menguat dan membentuk rekor all time high (ATH), didukung sejumlah rilis data ekonomi domestik yang saat ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Dia menyebutkan, beberapa indikator penting yang akan dirilis meliputi neraca perdagangan, inflasi dan Consumer Confidence Index. Konsensus pasar memperkirakan bahwa neraca perdagangan Indonesia tetap solid dan inflasi berada dalam level terkendali.
Hari menyatakan, kondisi tersebut diharapkan bisa memperkuat sentimen positif pasar dan mencerminkan stabilitas makroekonomi maupun daya beli yang tetap terjaga. "Meski demikian, pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arah kebijakan global. Namun secara keseluruhan, peluang penguatan masih terbuka," ujarnya.
Secara teknikal, lanjut dia, IHSG akan bergerak di kisaran 8.725-8.780, seiring terjaganya momentum bullish. Investor dan trader dapat memanfaatkan peluang pada sejumlah saham yang bergerak menguat (uptrend) dan didukung oleh volume transaksi yang kuat, serta aliran dana asing.
"Meski demikian, manajemen risiko tetap perlu diperhatikan, mengingat dalam kondisi pasar yang cenderung bullish, potensi aksi profit taking tetap terbuka," tutur Hari.
Dia menambahkan, pada periode 5-9 Januari 2026, Wall Street tetap berpeluang menguat, seiring adanya optimisme pasar pasca kinerja solid di sepanjang 2025. Sektor teknologi tetap menjadi penggerak utama, tercermin dari kenaikan S&P 500 lebih dari 16 persen, Nasdaq sebesar 20 persen dan Dow Jones 13% untuk sepanjang 2025.
"Ke depan reli diperkirakan lebih seimbang dengan potensi rotasi ke sektor non-teknologi, termasuk bank regional. Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan," Papar Hari.
Merespons dinamika market tersebut, kata Hari, IPOT merekomendasikan strategi investasi pada beberapa saham yang ditopang oleh sentimen "January Effect", yaitu:
1. Buy (Entry: 505, Target Price (TP): 620 dan Stop Loss (SL): 490). Secara teknikal, saham masih berada dalam tren naik (uptrend) yang ditandai dengan pergerakan harga yang konsisten di atas garis EMA-5 hingga EMA-50, mencerminkan momentum beli yang tetap terjaga. Penguatan pada perdagangan Jumat, di mana harga berhasil bertahan di atas level psikologis 500, menjadi konfirmasi lanjutan atas kekuatan tren tersebut. Kondisi ini membuka peluang bagi saham untuk melanjutkan kenaikan menuju area resist berikutnya di area 620.
2. Buy (Entry: 1500, Target Price (TP): 1830 dan Stop Loss (SL): 1400). Penguatan saham pada perdagangan Jumat lalu memberikan sinyal bahwa saham ini masih berpotensi melanjutkan tren naik, tercermin dari pergerakan harga yang tetap bertahan di atas area EMA-5 hingga EMA-50. Secara teknikal, kondisi tersebut membuka peluang bagi untuk kembali menguji area resist di kisaran 1.830 dalam waktu dekat. Potensi penguatan pada pekan ini juga didukung oleh aksi akumulasi investor asing yang tercatat mencapai sekitar Rp32 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga menjaga sentimen positif dan momentum kenaikan saham .
3. Buy (Entry: 3930, Target Price (TP): 4230 dan Stop Loss (SL): 3800). Saham masih menunjukkan potensi penguatan setelah berhasil menembus area all time high, yang menandakan kelanjutan tren bullish. Momentum kenaikan ini turut didukung oleh aksi akumulasi investor asing yang mencapai sekitar Rp113 miliar pada pekan sebelumnya, mencerminkan minat beli yang kuat. Dengan dukungan aliran dana asing tersebut, dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan selama sentimen pasar dan momentum teknikal tetap terjaga.
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (). Power Fund Series (PFS) ETF menarik untuk dicermati karena portofolionya diisi oleh saham-saham berdividen yang relevan di tengah mulai maraknya pembagian dividen interim oleh sejumlah emiten. Kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja , seiring meningkatnya daya tarik saham-saham berdividen sebagai sumber pendapatan sekaligus penopang volatilitas. Dengan sentimen tersebut, ETF dapat menjadi alternatif investasi defensif yang tetap menawarkan peluang imbal hasil di tengah dinamika pasar.(Budi/AI)
Sumber : admin