AI News - Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan akan beroperasi dalam rentang 6.500-6.700 pada perdagangan Jumat 11 September 2026, dengan tekanan jual yang masih dominan dan lima saham utama dijagokan sebagai peluang beli pada koreksi.
Poin Penting
- Rentang perkiraan IHSG pada Jumat 11 September 2026: 6.500-6.700.
- Level support utama berada di 6.500, dengan potensi turun ke 6.400-6.460 bila terobos.
- Lima saham rekomendasi beli pada koreksi: , , , , .
- Penjualan ritel Indonesia naik 1,1 % YoY pada Juli 2026, dipimpin makanan-minuman (+2,4 %) dan pakaian (+2,8 %).
- Defisit APBN tercatat Rp 235,6 triliun atau 0,91 % PDB hingga Juli 2026, sementara belanja negara naik 18,62 % YoY.
Mengapa IHSG Diperkirakan Akan Menguji Support di 6.500?
Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa IHSG menutup pada level 6.589,34, turun 1,33 % setelah sempat menyentuh 6.712 pada sesi awal, dan kini berada di bawah rata-rata pergerakan lima (MA5) dan sepuluh (MA10) hari. Indikator MACD serta Stochastic RSI membentuk death cross, menandakan momentum bearish yang kuat. Penurunan tersebut mendorong perkiraan pengujian level MA20 di 6.525 dan selanjutnya support utama di 6.500; jika support ini pecah, IHSG dapat melanjutkan penurunan ke kisaran 6.400-6.460. Sementara itu, analis MNC Sekuritas menambahkan bahwa area support terdekat berada di kisaran 6.561-6.476, memperkuat pandangan bahwa tekanan jual masih berlanjut.
Apa Dampak Penurunan IHSG Terhadap Rekomendasi Saham?
Berdasarkan riset MNC Sekuritas, saham (Chandra Daya Investasi Tbk) direkomendasikan untuk dibeli pada range 695-705 rupiah dengan target 730-760 rupiah, sementara (United Tractors Tbk) diusulkan pada 25.800-26.225 rupiah dengan target 27.400-27.925 rupiah, keduanya mengadopsi strategi buy on weakness. Phintraco Sekuritas menyoroti lima saham lain-, , , , dan -yang dipilih karena fundamental relatif kuat dan potensi rebound ketika pasar menguat kembali. Dengan IHSG diproyeksikan menguji support, investor diimbau memilih saham yang memiliki valuasi menarik pada level harga terendah, sehingga potensi upside dapat dimaksimalkan jika indeks kembali naik.
Bagaimana Perkembangan Penjualan Ritel Mempengaruhi Sentimen Pasar?
Investor.id melaporkan bahwa penjualan ritel Indonesia tumbuh 1,1 % YoY pada Juli 2026, didorong oleh kenaikan 2,4 % di sektor makanan-minuman dan 2,8 % di sektor pakaian, mengembalikan tren negatif tiga bulan sebelumnya. Namun, penjualan suku cadang otomotif melambat tajam menjadi 5,1 % dibanding 18,8 % pada periode yang sama, dan kategori bahan bakar, peralatan komunikasi, serta produk rekreasi masih mengalami penurunan. Penurunan bulanan sebesar 0,1 % MoM pada Agustus 2026 menandakan konsumen masih cenderung berfokus pada barang konsumsi pokok. Data ini menambah konteks bagi pasar saham, dimana sektor konsumer dapat memperoleh dukungan sementara sektor otomotif dan energi mengalami tekanan.
Apa Risiko Defisit APBN Bagi Stabilitas Pasar Saham?
Phintraco Sekuritas menginformasikan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) mencapai Rp 235,6 triliun atau 0,91 % PDB hingga Juli 2026, sementara belanja pemerintah naik 18,62 % secara tahunan menjadi Rp 1.969 triliun. Pemerintah menargetkan defisit total 2026 sebesar Rp 734,3 triliun atau 2,85 % PDB, memberi ruang fiskal bila kondisi eksternal tetap terkendali. Namun, analis memperingatkan bahwa harga minyak yang tetap tinggi atau manajemen anggaran yang kurang efisien dapat memperlebar kesenjangan fiskal, menimbulkan kekhawatiran investor terkait likuiditas dan kebijakan moneter di masa depan.
Sumber : AI News