- Pekan lalu IHSG turun tajam 6,61% akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta capital outflow besar yang mendorong rupiah melemah ke Rp17.315/USD
- Secara teknikal IHSG sudah oversold sehingga berpeluang rebound jangka pendek, namun tren utama masih bearish dengan risiko turun ke bawah support jika tekanan berlanjut
- Investor disarankan fokus pada manajemen risiko dan saham berfundamental kuat, dengan pilihan trading seperti , , dan ETF
Ipotnews - Perdagangan dan trading saham pekan ini hanya akan berlangsung empat hari, karena libur bersama Hari Buruh setelah selama sepekan lalu (periode 20-24 April 2026) Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) mencatatkan pelemahan 6,61 persen dan akhirnya indeks ditutup pada level 7.129 pada Jumat, 24 April 2026.
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ), Brigita Kinari, penurunan signifikan ini dipicu eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar global, sehingga memicu lonjakan harga minyak mentah dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global yang berkepanjangan.
"Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi drastis hingga menyentuh all-time low di Rp17.315/USD akibat derasnya aliran modal keluar yang masif dari pasar keuangan domestik," kata Brigita di Jakarta, Senin (27/4).
Selain itu, ujar Brigita, kembali munculnya tekanan dari MSCI yang mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026 menambah partisipasi investor asing untuk melakukan aksi jual bersih secara masif, sehingga akumulasi net sell asing mencapai Rp42,8 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date).
Tekanan jual tersebut secara spesifik menyasar saham-saham berkapitalisasi besar (blue chips) dan market movers yang menyebabkan kapitalisasi pasar BEI anjlok 6,59 menjadi Rp12.736 triliun pada akhir pekan lalu dari Rp13.635 triliun pada penutupan perdagangan Jumat (17/4).
Secara sektoral, lanjut dia, mayoritas indeks mengalami pelemahan yang dalam, dengan sektor teknologi dan keuangan mencatatkan penurunan paling signifikan akibat sensitivitasnya terhadap fluktuasi kurs dan tingkat suku bunga. Secara keseluruhan, pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu mencerminkan dominasi sentimen risk-off di tengah ketidakpastian makroekonomi. Penurunan harga pada saham-saham utama seperti , , , dan menjadi pemberat utama (laggards) bagi indeks.
"Selama stabilitas geopolitik global belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan belum adanya sentimen positif domestic, maka investor disarankan untuk tetap konservatif, memperhatikan level support psikologis berikutnya, serta memantau pergerakan yield obligasi dan harga komoditas energi sebagai indikator risiko lanjutan," papar Brigita.
Menyoal tentang potensi pergerakan market pada pekan ini (27-30 April 2026), Brigita memperkirakan bahwa indeks utama Wall Street, yakni S&P 500, Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite masih berada dalam tekanan, seiring belum tercapainya kesepakatan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sepanjang pekan lalu.
Kebuntuan tersebut memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan risiko eskalasi konflik, khususnya yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi. Sentimen negatif terutama berasal dari meningkatnya risiko disrupsi pasokan energi global, mengingat kawasan Timur Tengah terutama jalur strategis Selat Hormuz memegang peran kunci dalam distribusi minyak dunia.
"Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek," ujar Brigita.
Pada sisi lain, ekspektasi terhadap arah kebijakan Federal Reserve AS kembali bergeser ke arah lebih hawkish, sejalan dengan risiko inflasi berbasis energi yang tetap tinggi. Hal ini tercermin dari yield US Treasury yang bertahan di level elevated, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi aset berisiko, khususnya saham growth yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Secara keseluruhan, kondisi global mendorong investor untuk kembali mengadopsi sikap risk-off. Dalam jangka pendek, aliran dana berpotensi beralih ke aset safe-haven, seperti dolar AS maupun komoditas energi sebagai instrumen lindung nilai. Dengan volatilitas yang diperkirakan tetap tinggi, arah pergerakan pasar akan sangat ditentukan perkembangan lanjutan terkait geopolitik, serta rilis data makroekonomi yang membentuk ekspektasi kebijakan moneter ke depan.
Sementara itu dari domestik, ungkap Brigita, ada dua katalis utama yang berkembang, yaitu realisasi penyesuaian harga BBM non-subsidi dan tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang mencetak rekor terlemah (all-time low) di level Rp17.315 per dolar AS. Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya lini Pertamax dan Dex Series yang efektif sejak 18 April 2026 mencerminkan respons terhadap harga energi global yang masih elevated, sekaligus upaya menjaga kredibilitas fiskal.
Pasar mulai mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi jangka pendek, terutama pada komponen transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli serta margin sektor berbasis konsumsi. Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah mendorong Bank Indonesia untuk memperkuat bauran kebijakan stabilisasi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 April 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.
"Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi," ucap Brigita.
Secara keseluruhan, lanjut dia, kombinasi penyesuaian harga energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat mencerminkan stance otoritas yang defensif dan pre-emptive dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Namun, pasar diperkirakan tetap bergerak hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal.
"Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestic, serta keberlanjutan aliran dana asing," imbuhnya.
Terkait proyeksi IHSG , Brigita memperkirakan, IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah, seiring dengan adanya sentimen global yang didominasi aksi risk-off dan tekanan pada nilai tukar rupiah yang memicu outflow modal asing.
Secara teknikal, jelas dia, pasca penutupan akhir pekan (24/04) di level 7.129, saat ini IHSG berada di area oversold, setelah berhasil menutup gap pada kisaran 7.308-7.346. Kondisi ini membuka peluang terjadinya technical rebound jangka pendek ---meskipun ruang penguatannya diprediksi terbatas--- mengingat struktur tren jangka pendek yang masih dalam fase bearish.
"Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di level 6.917," jelas Brigita.
Dia menambahkan, dari sisi sektoral, rotasi diperkirakan berlangsung lebih selektif. Sektor energi diprediksi tetap menjadi penopang yang didorong harga komoditas yang tetap elevated di tengah tensi geopolitik global. Sektor transportasi dan logistik juga berpotensi menunjukkan resiliensi di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, meskipun sektor siklikal dan konglomerasi cenderung tertekan oleh sentimen makro, namun kondisi harga yang sudah deeply oversold mulai membuka peluang akumulasi bertahap secara selektif.
"Dalam menghadapi kondisi ini, investor disarankan untuk menerapkan strategi defensive dengan mengedepankan disiplin risiko, serta memprioritaskan saham-saham yang memiliki kekuatan relatif (relative strength) dan katalis fundamental yang kuat di tengah fluktuasi pasar yang masih tinggi," imbau Brigita.
Merespons dinamika market yang ada, IPOT yang telah dilengkapi fitur LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator) dengan data akumulasi dan distribusi saham secara real-time dan dirancang untuk investor ritel, merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:
1. Buy (Entry: 805, Target Price (TP): 900, Stop Loss (SL): 765). secara price structure masih bergerak uptrend diatas EMA5 hingga EMA50 dan dalam sepekan terakhir mengalami foreign inflow sebesar 4.8 B memberikan sign positif pergerakan uptrend masih berlanjut.
2. Buy (Entry: 945, Target Price (TP): 1045, Stop Loss (SL): 890). berhasil bergerak konsiten uptrend dan bertahan diatas area psikologis 760 didukung oleh foreign inflow sebesar 200.3B sejak awal April. Kenaikan harga ammonia global juga menjadi katalis positif bagi saham .
3. Buy (Entry: 404, Target Price (TP): 442, Stop Loss (SL): 388). berpotensi melanjutkan uptrend nya dengan bertahan diatas EMA50 serta membentuk candle Doji, dengan volume transaksi diatas rata-rata 20 hari.
4. Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (). Produk ETF terdiversifikasi pada saham-saham consumer dan domestic-driven yang menjadi backbone perputaran ekonomi. Di tengah kondisi pasar yang diwarnai oleh tekanan foreign outflow, khususnya pada sektor perbankan dan berada dalam fase wait and see menjadikan pergerakan pasar lebih ditopang oleh kekuatan domestik. Dengan sentimen tersebut, ETF dapat menjadi alternatif investasi defensif yang tetap menawarkan peluang imbal hasil menarik dan tidak bergantung pada siklus global.(Budi/AI)
Sumber : Admin