- IHSG dibuka melemah tipis di level 5.640, namun pada pukul 09.05 WIB indeks berbalik menguat 0,61% ke level 5.677 dengan 326 emiten naik dan tujuh sektor bergerak positif.
- Wall Street kompak menguat dengan Dow Jones mencetak ATH, sementara pasar obligasi Indonesia mencatat inflow asing USD1,2 miliar pada Juni 2026 di tengah ekuitas yang masih sepi.
- BI diperkirakan menaikkan suku bunga ke 6% untuk menjaga rupiah dan inflasi, pemerintah dorong KPR subsidi tenor panjang, serta rekomendasi saham unggulan , , dan dari IPOT .
Ipotnews - Pembukaan IHSG pada pagi ini, Rabu (1/7), dibuka melemah tipis pada level 5.640 atau turun 3 poin dari sesi penutupan perdagangan kemarin yang melemah signifikan 3,05 persen di level 5.643.
Kemudian pada pukul 09.05 WIB, indeks indeks berbalik arah dengan menguat 0,61 persen atau 34 poin ke level 5.677 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.705 di zona hijau serta terendah di level 5.638 di zona merah.
Sebanyak 326 emiten menguat, 160 emiten melemah dan 473 emiten stabil. Frekuensi transaksi mencapai 93,25 ribu kali dengan nilai Rp 822,3 miliar serta kapitalisasi pasar mencapai Rp9,96 triliun.
Tujuh sektor bergerak menguat dan empat sektor lainnya melemah yaitu sektor transportasi -0,39 persen ke level 1.592, industri -0,04 persen menjadi 1.419, konsumer non primer -0,32 persen menjadi 641 dan sektor properti -0,08 persen menjadi 701.
Untuk sektor yang menguat yaitu sektor infrastruktur 0,74 persen menjadi 1.695, konsumer primer 0,92 persen menjadi 847, teknologi 0,05 persen menjadi 6.254.
Selanjutnya sektor bahan baku 1,05 persen menjadi 1.409, sektor keuangan 0,17 persen ke level 1.280, energi 0,71 persen ke level 2.593 dan kesehatan 0,52 persen menjadi 1.409.
Mengulas pasar global, David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ) menjelaskan bahwa Indeks Wall Street pada perdagangan terakhir kompak menguat, dengan Dow Jones bahkan mencetak rekor All Time High (ATH). Kenaikan saham teknologi dan membaiknya data ekonomi Amerika Serikat menjadi pendorong utama, meski negara tersebut masih diliputi konflik dengan Iran.
Di sisi komoditas, harga minyak mentah dunia terkoreksi 1,25 persen ke level USD69,5 per barel, emas turun 0,17 persen ke level USD4.088,38 per troy ounce, sementara batubara naik 1,53 persen menjadi USD129,65 per ton.
Sementara kabar dari dalam negeri, pasar obligasi Indonesia mencatat inflow signifikan, khususnya tenor 10 tahun. Pada Juni 2026 investor asing masuk hingga USD1,2 miliar. Kondisi ini terjadi ketika pasar ekuitas nasional belum banyak diminati, namun obligasi justru menjadi daya tarik.
Kemudian Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga di level tinggi, dengan kemungkinan kenaikan satu kali lagi sebesar 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 6 persen.
"Kebijakan BI adalah untuk mengamankan nilai tukar rupiah dan menahan laju inflasi agar tidak naik signifikan," kata David dalam sesi IPOT Live via IG.
Kabar positif lainnya datang dari sektor properti dimana pemerintah menetapkan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan tenor panjang hingga 40 tahun. Skema ini diyakini akan menekan cicilan bulanan dan mendorong kinerja perusahaan properti untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sekaligus memperkuat peran perbankan yang fokus pada pembiayaan KPR.
"Ini akan mendorong kinerja perusahaan sektor properti untuk kelas MBR dan juga perbankan yang fokus membiayai KPR," katanya.
Untuk rekomendasi saham hari ini, Ia menyarankan tiga emiten unggulan yaitu sebagai berikut :
Pertama, dengan rekomendasi Buy, entry level 4.160, target 4.450, dan stop loss 4.050.
Kedua, dengan rekomendasi Buy, entry level 6.800, target 7.250, dan stop loss 6.600.
Ketiga, dengan rekomendasi Buy on Weakness, entry level 450 - 460, target 500, dan stop loss 430.(Marjudin/AI)
Sumber : Admin