- STOXX 600 cetak rekor menembus 600 poin pertama kali, terdorong naiknya saham pertahanan.
- Geopolitik memanas angkat sektor pertahanan, energi, dan teknologi, meski saham defensif melemah.
- Bursa Eropa menguat luas, dipimpin Jerman, dengan fokus investor pada minyak dan kebijakan bank sentral.
Ipotnews - Indeks acuan ekuitas Eropa mencetak tonggak sejarah baru dengan menembus level 600 untuk pertama kalinya pada perdagangan Senin, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global setelah serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela yang mendorong minat investor pada saham-saham sektor pertahanan.
Kenaikan pascalibur ini mencerminkan keyakinan pasar bahwa belanja pertahanan akan meningkat secara struktural dalam jangka panjang, meski sektor tersebut sempat melemah akibat spekulasi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Sentimen tersebut kembali menguat seiring memburuknya risiko geopolitik di sejumlah kawasan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup menguat 0,94% atau 5,62 poin ke level rekor 601,76, menandai pertama kalinya berada di atas ambang psikologis 600 poin, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Senin (5/1) atau Selasa (6/1) dini hari WIB.
Indeks sektor pertahanan melonjak 4,1% dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga bulan terakhir.
Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, Danni Hewson, menilai pencapaian tersebut menunjukkan optimisme investor di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, meski instabilitas geopolitik terus membayangi, investor tetap percaya pada arah pergerakan pasar keuangan.
Namun, penguatan pasar tertahan oleh pelemahan sejumlah saham defensif berkapitalisasi besar. Saham Nestle dan Unilever masing-masing anjlok hampir 3%, sehingga menekan kinerja indeks secara keseluruhan. Sektor makanan dan minuman Eropa pun tercatat melorot 1,4%.
Di sisi lain, indeks energi Eropa naik 0,8% seiring lonjakan harga minyak sekitar 1%. Kenaikan tersebut terjadi ketika pelaku pasar menilai potensi dampak terhadap aliran minyak global menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Sektor teknologi dan sumber daya dasar turut melesat masing-masing 3,7% dan 2,3%, mencerminkan sentimen positif terhadap saham-saham siklikal.
Di Jerman, indeks saham utama juga mencetak rekor tertinggi, dipimpin oleh produsen persenjataan Rheinmetall yang sahamnya melambung 9,3%. Indeks DAX Jerman ditutup menguat 1,34% atau 329,35 poin menjadi 24.868,69.
Bursa regional utama lainnya juga menghijau. Indeks FTSE 100 Inggris meningkat 0,54% atau 53,43 poin jadi 10.004,57 dan CAC Prancis bertambah 0,20% atau 16,29 poin ke posisi 8.211,50.
Meski demikian, analis memperingatkan bahwa dampak pasokan minyak Venezuela terhadap pasar energi global dalam waktu dekat kemungkinan terbatas. Vice President Atlantic Council Global Energy Center, Landon Derentz, menyatakan sekalipun dengan asumsi paling optimistis, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merehabilitasi sektor energi negara tersebut.
Selain terus mencermati perkembangan di Venezuela, investor juga mengalihkan perhatian pada kebijakan bank sentral serta data ekonomi terbaru untuk mencari petunjuk mengenai seberapa cepat penurunan suku bunga dapat dilakukan.
Saham-saham pertambangan seperti Glencore, Rio Tinto, dan Anglo American turut menguat, terkatrol kenaikan harga tembaga.
Sementara itu, saham ASML , pemasok terbesar peralatan produksi chip komputer di dunia, melonjak 6,8% setelah analis Bernstein menaikkan rekomendasi emiten tersebut menjadi "outperform" dari sebelumnya "market perform" serta meningkatkan target harga menjadi 1.300 euro dari 800 euro. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin