- Saham emerging market Asia bergerak bervariasi, sementara mayoritas mata uang Asia melemah seiring penguatan dolar AS.
- IHSG menguat 1,2% didorong langkah reformasi regulasi, namun secara mingguanberpotensi mencatat penurunan terdalam dalam 11 bulan.
- Rupiah melemah dan volatilitas pasar diperkirakan berlanjut hingga ada kejelasan lanjutan dari MSCI .
Ipotnews - Menjelang akhir perdagangan periode Januari 2025, Jumat (30/1), indeks saham negara-negara emerging market Asia bergerak bervariasi. Semnetara itum sebaguan besar mata uang EM Asia bergerak melemah.
Indeks saham acuan Indonesia menguat kembali, setelah regulator dan pemerintah mengumumkan reformasi regulasi, serta menjamin peningkatan transparansi pasar serta tata kelola perusahaan yang lebih baik.
Mayoritas mata uang Asia melemah seiring penguatan dolar AS, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengumumkan calon ketua Federal Reserve pilihannya.
Laman Reuters mengumumkan, selepas pukul 15:00 WIB, indeks MSCI mata uang emerging market turun 0,2%, sedangkan indeks saham EM Asia MSCI anjlok 1,5%.
Saham-saham di Jakarta melaju, mengangkat IHSG sebesar 1,2% setelah OJK mengambil langkah untuk meredakan kekhawatiran penyedia indeks MSCI terkait kepemilikan saham dan transparansi perdagangan. MSCI sebelumnya membarikan peringatan akan potensi penurunan status Indonesia menjadi " frontier market ".
Namun secara mingguan, IHSG bersiap mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 11 bulan setelah anjlok 8,3% sepanjang Rabu dan Kamis kemirin.
"Respons Indonesia yang cepat dan terkoordinasi menegaskan komitmen regulator yang kuat serta kematangan pasar yang kian meningkat," kata Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Indonesia.
Menurut Andrey, langkah-langkah seperti kejelasan soal free float , pengungkapan pemilik manfaat akhir ( ultimate beneficial owners ), serta ambang batas free float 15%, menunjukkan bahwa otoritas telah berupaya menutup celah kredibilitas tanpa mengganggu stabilitas pasar.
"Meski pengumuman ini mendukung pemulihan IHSG , kami melihat volatilitas pasar kemungkinan masih berlanjut hingga MSCI merilis panduan yang lebih jelas terkait metodologi barunya untuk Indonesia," imbuhnya seperti dikutip Reuters.
Rupiah melemah 0,2% dan menuju penurunan bulanan ketiga berturut-turut, seiring munculnya peringatan MSCI yang menambah kekhawatiran terhadap lanskap ekonomi Indonesia, termasuk independensi bank sentral dan persoalan fiskal.
Di tempat lain, Trump mengatakan akan mengumumkan pilihannya untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell pada Jumat ini. Mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh dikabarkan telahmengunjungi Gedung Putih.
"Peralihan kejutan ke Warsh membuat pasar lengah, memicu pembalikan posisi secara luas lintas aset--termasuk logam mulia, aset kripto, dan saham - sementara dolar AS kembali menguat," ujar Christopher Wong, ahli strategi mata uang di OCBC .
Mata uang Asia yang sempat mencatat penguatan tajam di awal tahun berpotensi menghadapi hambatan dalam jangka pendek. Perubahan posisi yang cepat meningkatkan risiko konsolidasi atau koreksi sesekali, tambah Wong.
Faktor-faktor mulai dari keinginan Washington terhadap mata uang yang lebih lemah hingga kebijakan Trump yang tidak menentu, sebelumnya menekan dolar pada awal bulan ini, sehingga mendongkrak mata uang kawasan.
Ringgit Malaysia turun 0,3%, namun bersiap mencatat kenaikan bulanan hampir 3%, terbaik sejak September 2024 - ditopang fundamental ekonomi yang kuat dan prospek pertumbuhan yang optimistis, serta pelemahan dolar secara luas.
Dolar Singapura melemah 0,3% pada hari itu, tetapi diperkirakan membukukan kenaikan bulanan terbaik sejak Juni 2025.
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan mencatat kinerja bulanan terbaik dalam hampir tiga dekade. Sedangkan indeks saham TAIEX Taiwan ditutup melemah namun tetap mencatat bulan terbaik sejak masa pandemi. Kenaikan kedua pasar didukung reli berbasis kecerdasan buatan (AI). (Reuters)
Asia stock indexes and currencies at 0735 GMT
Country | FX RIC | FX Daily % | FX YTD % | Index | Stock Daily % | Stock YTD % |
Japan | JPY | -0.55 | +1.77 | N225 | -0.01 | 5.93 |
China | CNY | +0.02 | +0.56 | SSEC | -0.96 | 3.76 |
India | INR | +0.06 | -2.21 | NSEI | -0.51 | -3.22 |
Indonesia | IDR | -0.24 | -0.69 | JKSE | 1.20 | -3.66 |
Malaysia | MYR | -0.30 | +3.02 | KLSE | 0.35 | 3.38 |
Philippines | PSP | +0.00 | -0.23 | PSEI | 1.70 | 4.56 |
South Korea | KRW | -0.58 | -0.19 | KOSPI | 0.06 | 23.97 |
Singapore | SGD | -0.25 | +1.44 | STI | -0.38 | 5.70 |
Taiwan | TWD | -0.43 | -0.08 | TAIEX | -1.45 | 10.70 |
Thailand | THB | -0.60 | +0.13 | SETI | -0.43 | 5.21 |
Sumber : admin