Inflasi Indonesia 2026 Diproyeksikan 3,0% Sambil Terancam Naik Akibat Harga Minyak Brent US$90
Monday, July 20, 2026       19:44 WIB

AI News - Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memperkirakan inflasi tahun 2026 tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia 2,5% +/- 1%, namun lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus US$90 per barel meningkatkan risiko inflasi melampaui proyeksi tersebut, sambil memicu kenaikan tajam pada saham migas di Bursa Efek Indonesia.

Poin Penting

  • Harga minyak Brent mencapai US$90,08 per barel pada pukul 05.10 WIB Senin 20 Juli 2026, naik 2,73 % dalam hari itu.
  • Harga minyak WTI tercatat US$84,68 per barel, naik 2,65 % pada pukul 06.43 WIB.
  • SSI memproyeksikan inflasi 2026 sebesar 3,0 %, berada dalam kisaran target BI 2,5 % +/- 1 % namun berisiko melampaui angka tersebut karena tekanan minyak.
  • Saham naik 4,03 % menjadi Rp1.420 per lembar pada pukul 09.21 WIB, mencatat kenaikan 13,15 % dalam seminggu.
  • Ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah serta potensi blokade Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Bagaimana Kenaikan Harga Minyak Brent Mempengaruhi Proyeksi Inflasi Indonesia pada 2026?


Kenaikan harga minyak Brent ke level ambang US$90 per barel meningkatkan kemungkinan inflasi Indonesia melampaui proyeksi 3,0 % yang diperkirakan SSI untuk tahun 2026. Lonjakan tersebut menambah tekanan pada biaya transportasi, logistik, serta produksi barang, sementara pelemahan rupiah yang berkelanjutan memperburuk efek kenaikan harga impor. SSI mencatat bahwa meski intervensi pemerintah pada pangan dan subsidi LPG dapat menahan tekanan jangka pendek, dampak berkelanjutan dari harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi pada sektor-sektor tersebut. Dengan inflasi target Bank Indonesia berada pada 2,5 % +/- 1 %, risiko melampaui batas ini menandakan perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat jika tekanan harga tidak terkendali.

Apa Penyebab Utama Lonjakan Harga Minyak Dunia pada Senin 20 Juli 2026?


Lonjakan harga minyak dunia pada Senin 20 Juli 2026 dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran yang memperburuk ketegangan di Selat Hormuz. Harga Brent naik 3,05 % menjadi US$90,79 per barel dan WTI naik 2,65 % menjadi US$84,68 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan melalui jalur strategis tersebut. Selain itu, laporan UKMTO tentang kapal terbakar di perairan Oman menambah ketidakpastian pasokan, sementara OPEC + tetap berkomitmen pada disiplin produksi, yang belum mampu meredam sentimen risiko. Kombinasi faktor geopolitik, ancaman blokade laut, dan persediaan minyak global yang berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir menjadi motor penggerak utama kenaikan harga.

Bagaimana Reaksi Saham Sektor Migas di Bursa Efek Indonesia Terhadap Kenaikan Harga Minyak?


Saham sektor migas di Bursa Efek Indonesia bereaksi positif, dengan PT Energi Mega Persada Tbk melaju 4,03 % menjadi Rp1.420 per lembar pada pukul 09.21 WIB, serta mencatat kenaikan 13,15 % dalam seminggu terakhir. Saham Apexindo Pratama Duta naik 2,92 % menjadi Rp141, Medco Energi Internasional naik 2,44 % menjadi Rp1.260, dan saham-saham lain seperti , , serta masing-masing mencatat kenaikan di atas 1 %. Penguatan ini mencerminkan ekspektasi investor bahwa harga jual minyak yang lebih tinggi akan meningkatkan margin laba perusahaan migas, sementara premi risiko yang meningkat akibat ketegangan geopolitik juga memperkuat sentimen beli. Karena pasar menilai pasokan global tetap ketat, aksi beli teknikal dan penutupan posisi short menambah tekanan bullish pada saham-saham energi.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News