Investor Asing Jual Bersih Rp3,38 Triliun di BEI, IHSG Naik 0,34% pada Pekan 20-24 Juli 2026
Monday, July 27, 2026       15:10 WIB

AI News - Investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 3,38 triliun pada minggu perdagangan 20-24 Juli 2026, sementara Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) tetap menguat tipis 0,34% menjadi 6.196,43 pada penutupan pekan, meski volume perdagangan harian melonjak signifikan.

Poin Penting

  • Net sell asing minggu 20-24 Juli 2026: Rp 3,38 triliun.
  • IHSG ditutup pada level 6.196,43, naik 0,34%.
  • Bank Mandiri tercatat sebagai saham dengan penjualan terbesar: Rp 854,7 miliar.
  • Rata-rata volume harian naik 66,88% menjadi 43,68 miliar lembar.
  • Rata-rata nilai transaksi harian meningkat 41,21% menjadi Rp 19,76 triliun.

Mengapa Saham Bank Jumbo Menjadi Target Utama Penjualan Asing?


Investor asing menargetkan saham perbankan berkapitalisasi besar karena mereka mencatatkan penjualan bersih terbesar pada minggu tersebut, dengan Bank Mandiri menelan Rp 854,7 miliar, diikuti Astra International Rp 497,2 miliar, dan Bank Central Asia Rp 310,5 miliar, menurut CNBC Indonesia. Penjualan intensif ini mencerminkan penyesuaian portofolio terhadap risiko kredit dan eksposur sektor keuangan yang dipicu oleh ketidakpastian makro global. Laporan Katadata mencatat bahwa selain penjualan, investor asing juga melakukan pembelian terbatas pada (Rp 263,7 miliar), BRI (Rp 180 miliar), dan kembali pada (Rp 152,3 miliar), menandakan strategi rotasi alih aset. Kombinasi penjualan besar dan pembelian selektif memperdalam tekanan pada indeks keuangan, meski tidak cukup untuk menurunkan IHSG secara keseluruhan. Hal ini berarti sektor perbankan tetap menjadi fokus utama arus keluar modal asing.

Apa Dampak Penjualan Asing Terhadap Indeks Sektor Keuangan dan Gerakan IHSG ?


Laporan Katadata mengungkapkan bahwa penjualan bersih asing menurunkan indeks sektor keuangan sebesar 2,08%, menjadikannya salah satu sektor terdalam koreksinya selama pekan. Sementara itu, sektor properti dan real estat mencatat kenaikan tertinggi 6,55% dan sektor energi naik 4,99%, memberikan dukungan utama bagi IHSG yang tetap naik 0,34% menjadi 6.196,43. Kontribusi poin indeks menunjukkan bahwa saham menambah 15,29 poin, diikuti dengan 7,72 poin, sedangkan mengurangi 28,57 poin dan mengurangi 17,65 poin, menurut Katadata. Dengan tekanan negatif pada saham perbankan, penguatan dibantu oleh saham-saham kapitalisasi besar lainnya yang meningkatkan nilai indeks secara keseluruhan. Oleh karena itu, meskipun sektor keuangan tertekan, diversifikasi sektor memperkecil dampak penjualan asing pada IHSG .

Bagaimana Peningkatan Volume dan Nilai Transaksi Harian Mempengaruhi Likuiditas Pasar?


Data BEI yang dirujuk Katadata memperlihatkan bahwa rata-rata volume transaksi harian pada pekan 20-24 Juli melonjak 66,88% menjadi 43,68 miliar lembar, naik dari 26,17 miliar minggu sebelumnya. Nilai transaksi harian juga meningkat 41,21% menjadi Rp 19,76 triliun, mengindikasikan aliran dana yang signifikan meskipun ada tekanan jual bersih. Kenaikan frekuensi transaksi harian sebesar 14,4% ke 2,67 juta kali memperkuat likuiditas pasar, memungkinkan investor domestik menyesuaikan posisi dengan lebih cepat. Aktivitas ini tercermin pada saham-saham dengan nilai transaksi tertinggi seperti (Rp 8,49 triliun) dan (Rp 6,70 triliun), menandakan konsentrasi likuiditas pada saham-saham likuid dan berkapitalisasi besar. Dengan likuiditas yang kuat, pasar dapat menyerap net sell asing tanpa mengalami volatilitas berlebih.

Apa Arti Aktivitas Foreign Buy Terhadap Posisi Net Sell secara Keseluruhan?


Meskipun demikian, informasi Katadata menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 3,38 triliun, sementara total penjualan selama pekan tercatat Rp 32,53 triliun, masih lebih tinggi dibandingkan pembelian sebesar Rp 29,15 triliun. Pada hari Jumat saja, net sell mencapai Rp 1,36 triliun, menegaskan tekanan jual harian yang signifikan. Namun, pembelian selektif pada saham-saham seperti (Rp 263,7 miliar), BRI (Rp 180 miliar), dan (Rp 152,3 miliar) menunjukkan minat pada perusahaan dengan fundamental kuat. Selain itu, konglomerat Prajogo Pangestu seperti Barito Pacific (Rp 192 miliar) dan Petrindo Jaya Kreasi (Rp 110,1 miliar) juga menarik minat pembeli asing, menyeimbangkan sebagian arus keluar. Secara kumulatif sejak awal tahun, nilai jual bersih asing mencapai Rp 79,09 triliun, menandakan tekanan berkelanjutan meski terdapat peluang beli terbatas.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News