Janji OJK Redam Tekanan Jual IHSG, Asing tetap Soroti Tantangan Makro
Thursday, January 29, 2026       15:26 WIB
  • Tekanan jual saham Indonesia mulai mereda setelah regulator mengumumkan langkah merespons kekhawatiran MSCI .
  • OJK akan menggandakan ketentuan free float menjadi 15%, sementara IHSG memangkas penurunan ke 1,7% dan rupiah melemah ke 16.770 per dolar AS.
  • Meski sentimen sedikit membaik, pasar masih dibayangi risiko penurunan peringkat MSCI dan arus keluar dana asing.

Ipotnews - Tekanan jual saham-saham Indonesia mulai mereda, Kamis siang (29/1), setelah regulator mengumumkan sejumlah langkah untuk meredam kekhawatiran investor. IHSG dihantam aksi jual besar-besaran mulai kemarin hingga sesi pagi tadi, dipicu risiko penurunan status pasar menjadi  frontier market , di tengah sentimen pasar yang sudah rapuh.
Menjawab kekhawatiran yang disampaikan penyedia indeks MSCI , Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan menggandakan ketentuan  free float  bagi perusahaan tercatat menjadi 15% sebagai bagian dari responsnya.
Laman Reuters melaporkan, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) memangkas pelemahan dan diperdagangkan dengan menurun 1,7% setelah sebelumnya sempat terjungkal hingga 8%. Perdagangan saham sempat mengalami penghentian sementara pada sesi perdagangan kemarin setelah ambles 7,4%.
Nilai tukar rupiah melemah 0,4% ke level 16.770 per dolar AS, mendekati rekor terendah pekan lalu di 16.985.
Dalam konferensi pers, Ketua Mahendra Siregar mengatakan komunikasi dengan MSCI sejauh ini berjalan positif. Menurutnya, OJK menunggu respons atas langkah-langkah yang diusulkan, yang diharapkan dapat segera diterapkan sehingga permasalahan terselesaikan pada Maret.
"Ini adalah proses yang berkelanjutan, bukan sekadar satu pengumuman," kata Mohit Mirpuri, manajer portofolio di SGMC Capital, Singapura. "Yang ingin dilihat investor adalah keselarasan dan niat, dan itu sudah disampaikan dengan jelas," imbuhnya seperti dikutip Reuters.
"Kejelasan kebijakan biasanya datang setelah volatilitas, bukan sebelumnya. Aksi jual dua hari terakhir bersifat cukup  indiscriminative  dan secara historis Anda tidak menunggu segalanya tampak sempurna sebelum masuk kembali," ungkap Mirpuri
Bank investasi Goldman Sachs dan UBS menurunkan rekomendasi saham Indonesia sehari setelah MSCI menyoroti masalah transparansi dan memperingatkan kemungkinan penurunan status dari  emerging market  ke  frontier market .
Penurunan peringkat oleh MSCI - salah satu penyedia indeks pasar terbesar yang menjadi acuan investasi pasif bernilai miliaran dolar - akan memaksa para pengelola dana yang melacak indeks tersebut untuk menjual saham.
Manajer investasi aktif, yang kinerjanya diukur terhadap indeks acuan, kemungkinan juga harus melakukan penjualan.
Peringatan MSCI muncul di tengah arus keluar modal asing akibat kekhawatiran terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin memperlebar defisit fiskal dan meningkatkan keterlibatan negara di pasar keuangan.
Penunjukan keponakannya, Thomas Djiwandono, untuk menduduki jabatan di Bank Indonesia bulan ini - setelah pemecatan mendadak Menteri Keuangan yang disegani pasar, Sri Mulyani Indrawati, tahun lalu - telah mengguncang kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal dan mendorong rupiah ke level terendah sepanjang sejarah.
"Peringatan MSCI datang pada saat yang tidak tepat," kata Gary Tan, manajer portofolio Allspring Global Investments yang berbasis di Singapura. Ia merujuk pada serangkaian berita makro yang negatif dan pelemahan rupiah.
"Hal ini memicu respons khas 'jual dulu, bertanya kemudian' dari investor pasif dan yang berbasis  benchmark , sehingga menghasilkan koreksi tajam dalam jangka pendek," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya terkesan oleh sinyal dari regulator yang menunjukkan kesediaan untuk berinteraksi secara konstruktif dengan MSCI dan meningkatkan transparansi pasar.
Sumber-sumber pialang menggambarkan peringatan MSCI sebagai "tamparan keras" bagi otoritas pasar, seraya menambahkan bahwa arus masuk modal asing akan mengering jika MSCI menandai Indonesia sebagai "tidak layak investasi" atau tidak transparan.
Goldman Sachs memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi " underweight ", memperingatkan potensi arus keluar dana antara USD2,2 miliar hingga USD7,8 miliar jika terjadi penurunan peringkat MSCI . Kendati demikian, para strategis menilai skenario tersebut kecil kemungkinannya. UBS menurunkan rekomendasinya menjadi "netral".
Penurunan status ke  frontier market -  sejauh ini analis masih menilai tidak mungkin terjadi - akan menempatkan Indonesia sejajar dengan Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, dan Vietnam.
MSCI menyatakan telah membekukan pembaruan atas entri Indonesia dalam produknya sembari berkomunikasi dengan otoritas untuk menyelesaikan "risiko investabilitas" terkait kurangnya kejelasan mengenai kepemilikan saham, perdagangan, dan pembentukan harga di pasar.
"Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat ini sebagai titik masuk," ungkap para ahli strategi Goldman. "Indonesia menghadapi tantangan makro, termasuk konsumsi swasta yang melemah, pertumbuhan kredit yang melambat, serta defisit fiskal yang meningkat dan mendekati batas legal 3% dari PDB," imbuh mereka.
Menurut data LSEG , investor asing menjual saham Indonesia senilai Rp13,96 triliun (USD834 juta) sepanjang 2025 - tahun terburuk untuk arus keluar sejak 2020 - dengan aksi jual berlanjut pada Januari. (Reuters)

Sumber : admin