- IHSG menguat sekitar 2,8% pekan ini, didukung pertumbuhan ekonomi 5,29% dan inflasi Juli yang melandai ke 2,88%.
- Harga minyak turun tajam seiring harapan pembukaan Selat Hormuz, mendorong penguatan rupiah dan obligasi Indonesia.
- Investor perlu mencermati kesepakatan Hormuz, penunjukan Gubernur BI, dan data inflasi AS.
Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan pertama Agustus 2026, Jumat (7/8) dengan melaju 1,0% ke level 6.410, melonjak hampir 175 poin dari penutupan akhir pekan sebelumnya di posisi 6.236. Kendati demikian, investor asing masih mencatatkan arus keluar ekuitas senilai USD30 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat sejumlah peristiwa penting sepanjang pekan, antara lain;
.jpg)
Apa yang terjadi sepanjang pekan?
Ashmore mencatat, sektor dengan kinerja terbaik adalah Basic Materials dan Energy yang masing-masing melompat 6,43% dan 4,60%.
Aset dengan kinerja terbaik pekan ini adalah harga emas (+6,44%) dan indeks Nasdaq (+3,84%). Sebaliknya, harga minyak mentah (-7,85%) dan batu bara (-4,49%) mengalami koreksi.
Di Amerika Serikat, Indeks PMI Manufaktur ISM naik menjadi 55,6, jauh di atas ekspektasi dan menjadi level terkuat dalam beberapa waktu terakhir. Sementara itu, PMI Jasa relatif stabil di level 54,4, menunjukkan perekonomian masih mempertahankan momentum meski lowongan pekerjaan turun menjadi 7,36 juta dari 7,54 juta.
"Kombinasi aktivitas ekonomi yang solid dan pasar tenaga kerja yang secara bertahap mendingin mendukung keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga," tulis Ashmore.
PMI manufaktur Kanada juga melampaui ekspektasi di level 53,5, sementara surplus perdagangan melebar menjadi CAD3,86 miliar, menunjukkan posisi eksternal yang lebih kuat.
Di Eropa, surplus perdagangan Jerman menyempit menjadi EUR15,4 miliar dari EUR19,3 miliar, di bawah ekspektasi. Sementara itu, penjualan ritel turun 0,2% YoY setelah sebelumnya tumbuh 2,1%, mengindikasikan melemahnya permintaan eksternal dan konsumen yang semakin berhati-hati.
Indeks PMI konstruksi Inggris jauh membaik menjadi 44,7 dari 38,4. Meski masih berada di zona kontraksi, penurunan tersebut jauh lebih ringan dari perkiraan. Sementara itu, pertumbuhan harga rumah melambat menjadi 0,1%, menunjukkan pasar properti masih lesu akibat tingginya biaya pinjaman.
Di Asia, PMI manufaktur China melambat menjadi 50,9, di bawah ekspektasi, turun dari 51,7. Surplus perdagangan China juga menyempit menjadi USD112,5 miliar, mengindikasikan momentum ekonomi terbesar di kawasan tersebut mulai moderat.
Sementara itu, data Indonesia menjadi titik terang. PDB kuartal II tumbuh 5,29% YoY, jauh di atas ekspektasi 5,1%. Sementara itu, inflasi Juli melambat menjadi 2,88% dari 3,34%, jauh di bawah perkiraan 3,2% dan tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
"Kombinasi pertumbuhan yang tangguh dan inflasi yang melandai memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan serta menciptakan latar belakang yang mendukung aset domestik," ungkap Ashmore.
Premi minyak turun
Ashmore melihat, pekan ini akhirnya membawa kelegaan setelah Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Pernyataan bersama sedang difinalisasi, sehingga memunculkan harapan bahwa jalur perairan yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia tersebut dapat kembali dibuka secara lebih bebas.
Harga minyak langsung merespons dengan penurunan tajam. Brent turun di bawah USD80 per barel dari sekitar USD89 pada pekan sebelumnya, atau anjlok lebih dari 10% dalam beberapa sesi awal pekan.
"Berita tersebut datang bersamaan dengan serangkaian rilis data domestik yang positif, sehingga memberikan dukungan bagi pasar Indonesia dari kedua sisi," imbuha Ashmore.
Ashmore berpendapat, sebagai negara yang mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan bakarnya, harga minyak mentah yang lebih murah mengurangi tekanan terhadap rupiah, menekan inflasi impor, dan mengurangi beban subsidi energi terhadap anggaran pemerintah.
Dampaknya langsung terlihat. Rupiah menguat ke Rp17.890, level terkuat dalam beberapa pekan terakhir, sementara obligasi pemerintah juga mendapat dukungan.
Namun sejauh ini, belum ada kesepakatan final antara Iran dan Oman, dan sejumlah detail masih belum terselesaikan. Oleh karena itu, menurut Ashmore, perbaikan kondisi tersebut masih perlu dipandang sebagai perkembangan positif, bukan sesuatu yang sudah pasti.
Ashmore juga melihat pasar AS mencetak rekor tertinggi selama pekan ini berkat kuatnya laporan keuangan perusahaan dan harapan deeskalasi yang sama. Perhatian kini beralih ke laporan ketenagakerjaan Juli yang dirilis Jumat di AS, yang akan memengaruhi ekspektasi terhadap pertemuan Federal Reserve pada September setelah keputusan mempertahankan suku bunga yang berlangsung dengan perbedaan pendapat pada bulan lalu.
Data Indonesia menjadi sumber kabar positif kedua pada pekan ini. Ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal II, di atas ekspektasi 5,1%, mengonfirmasi bahwa permintaan domestik tetap tangguh meski kondisi global menantang.
Inflasi Juli turun menjadi 2,88% dari 3,34%, di bawah ekspektasi dan masih nyaman dalam kisaran target Bank Indonesia. Penurunan tersebut didukung oleh membaiknya pasokan pangan dan harga bahan bakar yang lebih rendah.
"Namun, neraca perdagangan mencatat defisit bulanan untuk kedua kalinya secara beruntun. Hal ini menjadi pengingat bahwa posisi eksternal masih menjadi salah satu kerentanan ekonomi Indonesia," papar Ashmore.
Dari sisi kebijakan, pemerintah mengumumkan suntikan likuiditas sebesar Rp70 triliun ke bank-bank BUMN . Sementara itu, perhatian masih tertuju pada penunjukan gubernur bank sentral definitif.
Pelaksana tugas Gubernur BI Destry Damayanti dilaporkan menjadi kandidat terkuat, dengan proses di parlemen diperkirakan dimulai setelah anggota DPR kembali pada pertengahan Agustus. "Penunjukan kandidat yang kredibel dan dihormati pasar akan sangat membantu meredakan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral yang muncul bulan lalu," sebut Ashmore.
Bagi saham Indonesia, Ashmore menilai, kombinasi harga minyak yang lebih rendah, pertumbuhan ekonomi yang solid, dan inflasi yang melandai terbukti menjadi kombinasi yang kuat. IHSG naik sekitar 2,8% sepanjang pekan dan melanjutkan pemulihan yang telah menghasilkan kenaikan 10,5% pada Juli.
"Yang menggembirakan, pemulihan tersebut mulai menarik kembali dana asing," . Pada Juli tercatat pembelian bersih asing sekitar Rp1,1 triliun, menjadi inflow bulanan pertama sepanjang tahun ini setelah lima bulan berturut-turut mengalami aksi jual.
Investor asing masih mencatat net sell besar secara year-to-date , tetapi perubahan arah tersebut patut diperhatikan. "Kami tetap memilih perusahaan yang likuid dan transparan dengan fundamental yang kuat," ungkap Ashmore.
Untuk obligasi Indonesia, inflasi yang lebih rendah dan rupiah yang menguat meningkatkan daya tarik imbal hasil yang tersedia sekaligus mengurangi tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun menjadi 7,28%.
Di pasar saham emerging market secara lebih luas, Ashmore melihat, sentimen membaik sejalan dengan Wall Street. Namun, pasar Asia yang memiliki industri chip mengalami volatilitas pada akhir pekan setelah salah satu produsen semikonduktor menyampaikan prospek yang mengecewakan. Hal ini kembali menunjukkan betapa sensitifnya kawasan tersebut terhadap tema AI.
Di pasar Sukuk emerging market global, Ashmore menilai kondisinya lebih berimbang. Meredanya ketegangan geopolitik menjadi sentimen positif bagi pasar regional dan dapat kembali mendorong penerbitan setelah paruh pertama tahun yang relatif lambat. Namun, harga minyak yang lebih rendah mengurangi pendapatan yang menjadi penopang keuangan penerbit Sukuk di kawasan Teluk.
Secara keseluruhan, pekan ini menjadi salah satu pekan paling positif bagi aset Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Saham dan rupiah sama-sama menguat karena meredanya premi harga minyak dan kuatnya data domestik bergerak ke arah yang sama. Kembalinya pembelian asing pada Juli juga menjadi sinyal awal bahwa sentimen pasar mulai berbalik positif.
"Kesepakatan terkait Selat Hormuz belum difinalisasi dan konflik sebelumnya juga sempat mengalami pembalikan arah. Oleh karena itu, investor tetap perlu berhati-hati," sebut Ashmore.
"Pendekatan kami tidak berubah, yakni memilih perusahaan berkualitas tinggi dan likuid serta obligasi berkualitas dengan pendapatan yang dapat diandalkan, yang ditempatkan dalam portofolio terdiversifikasi di berbagai wilayah dan kelas aset."
Hal-hal utama yang perlu diperhatikan antara lain konfirmasi dan implementasi kesepakatan Selat Hormuz, penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif, serta data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. (Ashmore)
.jpg)
Sumber : Admin