Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Minyak, Bursa Eropa Terseret Turun
Friday, March 13, 2026       03:23 WIB
  • Bursa Eropa turun karena lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi.
  • STOXX 600 melemah 0,61%; sektor perbankan paling terpukul karena risiko resesi meningkat.
  • Saham energi, utilitas, dan beberapa emiten justru naik berkat kinerja positif.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa kembali melemah, Kamis, setelah lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi seiring konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah. Kenaikan harga energi menambah tekanan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi kawasan yang sudah melambat.
Indeks acuan pan-Eropa, STOXX 600, ditutup turun 0,61 persen atau 3,68 poin menjadi 598,86, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Kamis (12/3) atau Jumat (13/3) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman melemah 0,21 persen atau 50,38 poin jadi 23.589,65, FTSE 100 menyusut 0,47 persen atau 48,62 poin ke posisi 10.305,15 dan CAC Prancis berkurang 0,71 persen atau 57,37 poin menjadi 7.984,44.
Penurunan ini menjadi yang ketujuh dalam sembilan sesi perdagangan sepanjang bulan, sehingga total kerugian indeks tersebut sejak konflik meletus mencapai sekitar 5,6 persen.
Harga minyak sempat menembus USD100 per barel pada awal sesi perdagangan sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikan. Lonjakan harga terjadi setelah pemimpin tertinggi baru Iran menyatakan komitmennya untuk tetap menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak global. Di saat yang sama, dua kapal tanker bahan bakar dilaporkan diserang di perairan Irak, memperkuat kekhawatiran bahwa konflik antara Iran dan pasukan Amerika Serikat serta Israel masih jauh dari kata selesai.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi di Eropa, kawasan yang sangat bergantung pada impor energi. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap perekonomian Eropa dapat semakin besar karena biaya produksi meningkat di berbagai sektor industri.
Kepala Riset Ekuitas State Street, Marija Veitmane, mengatakan saham Eropa dinilai lebih rentan terhadap lonjakan harga energi. Menurutnya, perekonomian Eropa sangat bergantung pada energi dan memiliki banyak perusahaan manufaktur yang sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar, yang merupakan komponen penting dalam struktur biaya mereka.
Kondisi ini juga mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Kini, money market memperkirakan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga pada Juli. Bahkan, probabilitas kenaikan suku bunga tambahan pada Desember mencapai 87 persen. Perkiraan tersebut berbalik drastis dibandingkan sebelum konflik dimulai, ketika pasar justru memprediksi adanya pemangkasan suku bunga, menurut data LSEG .
Sektor perbankan, yang sensitif terhadap kondisi ekonomi, menjadi salah satu yang paling terpukul dan memimpin pelemahan pasar dengan kejatuhan sekitar 3,5 persen.
Analis eToro, Lale Akoner, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak meningkatkan risiko resesi, yang berdampak negatif pada aktivitas pinjaman bank. Pinjaman kredit swasta, kredit korporasi, hingga kredit konsumen dinilai sangat rentan terhadap tekanan ekonomi saat ini.
Indikator volatilitas pasar Eropa juga tetap berada di level tinggi, mendekati posisi yang pernah tercapai pada April 2025 saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif yang dikenal sebagai "Liberation Day".
Meski demikian, beberapa sektor mampu mencatat kenaikan. Saham perusahaan energi melonjak 1,4 persen, sementara sektor utilitas melesat 1,8 persen, seiring meningkatnya harga energi global.
Sejumlah laporan kinerja perusahaan yang positif juga sempat menahan pelemahan pasar pada awal sesi perdagangan. Saham perusahaan pertahanan Italia, Leonardo, melambung 5,7 persen hingga mencapai rekor tertinggi setelah menyatakan berada di jalur pertumbuhan kuat dengan peningkatan pesanan, pendapatan, dan laba inti yang diperkirakan berlanjut tahun ini.
Saham produsen truk Jerman, Daimler Truck, melejit 4 persen setelah perusahaan memberikan panduan bahwa margin laba bisnis industrinya pada 2026 diperkirakan relatif stabil.
Di sektor ritel, platform fesyen daring Zalando melonjak 9,5 persen setelah memperkirakan pertumbuhan laba operasional yang disesuaikan sepanjang 2026.
Sementara itu, saham perusahaan bioteknologi Prancis, Abivax, melompat 6,7 persen setelah muncul laporan media mengenai rumor akuisisi terhadap emiten tersebut.
Perusahaan pialang global TP ICAP juga mencatat kenaikan 10,8 persen setelah melaporkan peningkatan laba sebelum pajak tahunan sebesar 3,6 persen.
Di sisi lain, saham perusahaan tambang potash dan garam asal Jerman, K+S AG, menjadi yang berkinerja terbaik di indeks STOXX 600 dengan lonjakan hampir 15 persen setelah melaporkan laba inti tahun buku terakhir yang melampaui ekspektasi pasar. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru