- Investor menanti hasil tinjauan peringkat utang Indonesia oleh S&P, sementara pemerintah terus menopang pasar obligasi melalui pembelian di pasar sekunder.
- Sentimen global membaik, namun pasar tetap waspada karena kesepakatan final AS-Iran belum tercapai dan aktivitas Selat Hormuz belum normal.
- Rebalancing MSCI menekan IHSG , tetapi saham-saham likuid berfundamental kuat tetap menarik karena valuasinya masih relatif murah.
Ipotnews - Bursa saham Indonesia menutup sesi perdagangan Mei 2026, Jumat (29/5), dengan sedikit melemah 0,05% di posisi 6.127, atau turun 35 poin dari akhir pekan sebelumnya di level 6.162. Investor asing di pasar saham juga mencatatkan aksi jual bersih sebesar USD215 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia menyoroti sesi perdagangan pekan ini sebagai berikut;

Apa yang terjadi sepanjang pekan ini?
Ashmore mencatat, sektor yang mencatat pelemahan terdalam adalah Consumer Non-Cyclicals dan Industrials yang masing-masing anjlok -2,45% dan -2,31%. Sementara itu, sektor dengan kinerja terbaik adalah Transportation & Logistics serta Infrastructures yang masing-masing melompat +4,69% dan +3,87%.
Secara global, indeks Nikkei menjadi salah satu performer terbaik pekan ini dengan kenaikan +4,72%, disusul Nasdaq +2,18%. Sebaliknya, harga minyak mentah terkoreksi -11,04% dan Bitcoin turun -2,98%.
Di Amerika Serikat, data awal ertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat lebih rendah dari ekspektasi, akibat revisi turun data investasi dan belanja konsumen. Sementara itu, data core PCE April lebih rendah dari perkiraan di level 0,2% month-on-month meski konflik Timur Tengah masih berkepanjangan. Di sisi lain, laba korporasi kuartal I-2026 juga tercatat menurun berdasarkan estimasi awal.
Sementara itu, kawasan Eropa mencatat perbaikan sentimen ekonomi, namun masih berada di level relatif rendah seiring kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi akibat konflik Timur Tengah yang terus meningkat dan meluas.
Di Jerman, tingkat pengangguran turun tipis dari level puncak sebelumnya dan lebih baik dari perkiraan. Meski demikian, Federal Employment Agency memperingatkan bahwa perbaikan tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara.
Di Asia, tingkat kepercayaan konsumen Jepang meningkat di luar ekspektasi dan mencapai level tertinggi sejak Februari. Sentimen membaik di berbagai segmen utama. Data penjualan ritel juga melonjak sejak April 2025 didukung paket stimulus pemerintah.
Sementara itu, Korea Selatan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai perkiraan pasar untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut. Pembuat kebijakan tetap berhati-hati dalam menyeimbangkan pelemahan mata uang dan inflasi. Keyakinan bisnis di Korea Selatan juga meningkat ke level tertinggi sejak Agustus 2022.
Indonesia tidak merilis data ekonomi utama selama pekan perdagangan yang singkat ini karena libur Idul Adha.
Berjalan di atas lapisan es yang tipis
Ashmore mencermati, pasar keuangan global pekan ini mencatat perbaikan moderat pada minat investor pada aset berisiko. Harapan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran meningkat, berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Selain itu, data core PCE AS yang sedikit lebih rendah dari ekspektasi turut menurunkan perkiraan pasar terhadap agresivitas kenaikan suku bunga The Fed.
"Sentimen di Indonesia juga membaik, namun investor masih dibayangi ketidakpastian terkait kebijakan-kebijakan baru pemerintah serta efek rebalancing indeks MSCI yang berlaku efektif pada penutupan perdagangan hari ini," tulis Ashmore.
Ashmore menilai, meski berita mengenai peluang gencatan senjata terus muncul, investor mulai memasukkan probabilitas tercapainya kesepakatan ke dalam harga aset, walaupun serangan antara AS dan Iran masih terjadi di tengah proses negosiasi. "Pasar sebenarnya sudah lama mengantisipasi perkembangan ini, namun volatilitas tetap tinggi," imbuh Ashmore.
Sementara itu, harga minyak kini terkoreksi ke sekitar USD92 per barel karena optimisme pasar, namun faktor utama tetap bergantung pada persetujuan resmi atas kesepakatan tersebut dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurut Ashmore, pasar masih membutuhkan bukti yang lebih nyata sebelum dapat memperkirakan kondisi yang benar-benar lebih kondusif.
Optimisme pasar juga terdorong oleh data core PCE AS April yang lebih baik dari perkiraan, sehingga menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga hingga akhir tahun kini sekitar 50%.
"Yield obligasi AS bergerak terbatas dan pasar saham mendapat dorongan positif. Namun yield tenor panjang masih tinggi, dengan UST 10Y di 4,45% dan UST 30Y di 4,98%," Ashmore menambahkan.
Ashmore berpendapat, salah satu faktor yang menahan yield AS tetap tinggi adalah penurunan peringkat utang pemerintah AS oleh Moody's dari Aaa menjadi Aa1 akibat meningkatnya utang dan defisit fiskal. "Dengan demikian, AS kini tidak lagi memiliki peringkat kredit tertinggi dari lembaga pemeringkat utama mana pun," sebut Ashmore.
Di dalam negeri, Ashmore menggarisbawahi, posisi rupiah yang masih berada dalam tekanan meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga lebih agresif dari perkiraan pasar. "Investor masih sensitif terhadap risiko global dan volatilitas harga energi," ungkap Ashmore.
Tekanan bertambah setelah Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar USD4 miliar atau 1,1% terhadap PDB. Ini merupakan defisit terbesar sejak akhir 2019 akibat kenaikan biaya impor energi global.
"Saat ini, salah satu beban utama pasar adalah rencana pemerintah memusatkan ekspor sejumlah komoditas seperti batu bara, CPO, dan ferroalloy . Meski implementasinya masih memiliki waktu, investor menilai tantangan utamanya adalah menjaga tata kelola yang kuat dalam pelaksanaannya," papar Ashmore.
Selain itu, pasar juga menunggu hasil tinjauan peringkat utang Indonesia oleh S&P yang diperkirakan keluar bulan depan dan berpotensi memengaruhi pergerakan yield obligasi yang sudah meningkat akibat sentimen negatif investor. Dalam kondisi ini, pemerintah masih menopang pasar obligasi domestik melalui pembelian di pasar sekunder.
Ashmore berpendapat, secara keseluruhan - meskipun sentimen global mulai membaik secara bertahap - pasar masih bergerak hati-hati karena kesepakatan resmi antara AS dan Iran belum tercapai dan situasi tetap berpotensi volatil bahkan setelah gencatan senjata.
"Pasar juga masih perlu melihat aktivitas nyata di Selat Hormuz kembali normal sebelum kepercayaan investor benar-benar pulih dan harga energi turun lebih stabil."
Untuk Indonesia, Ashmore berpendapat, rebalancing indeks MSCI yang terjadi pada penutupan perdagangan hari ini membuat indeks saham domestik melemah akibat aksi jual dan pengurangan posisi oleh pengelola reksa dana pasif. "Ketidakpastian pasar masih tinggi dan investor disarankan tetap melakukan diversifikasi serta menjaga posisi investasi yang defensif menghadapi volatilitas," lanjut Ashmore
Ashmore meyakini pemerintah tetap akan mempertahankan batas defisit anggaran 3%. "Dalam kondisi saat ini, investasi pada saham-saham likuid dengan fundamental kuat dinilai lebih menarik karena valuasinya masih tergolong murah secara historis." (Ashmore)

Sumber : Admin