Konflik Iran Tetap Menjadi Risiko Utama, Volatilitas Masih Tinggi dan Sensitif - Ashmore
Saturday, April 04, 2026       14:45 WIB
  • Sektor Transportasi & Logistik serta Keuangan memimpin pelemahan IHSG pekan ini, Consumer Cyclicals dan Industrials mencatat kenaikan tertinggi.
  • Sentimen global cenderung  risk-off  akibat konflik Iran, mendorong volatilitas, lonjakan harga minyak, dan tekanan pada pasar.
  • Reformasi BEI dan KSEI terkait  free float  dan transparansi dinilai positif bagi kredibilitas pasar modal Indonesia.

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Kamis (2/4), dengan menbukukan kejatuhan IHSG sebesar 2,19% ke level 7.026, dan juga lebih rendah dari sesi penurupan pekan sebelumnya di posisi 7.097. Investor asing mencatatkan arus keluar dana ekuitas sebesar USD126 juta dalam sepekan terakhir.
 Weekly Commentary  PT Ashmore Asset Management Indonesia, mencatat beberapa hal penting yang mempengaruhi pergerakan pasar modal dalam dan luar negeri pada pekan ini, antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir
Ashmore mencatat, sektor yang paling tertinggal dalam sesi perdagangan selama sepekan ini adalah, Transportasi & Logistik (-3,57%) serta Keuangan (-2,23%). Sementara itu, sektor yang berkinerja baik adalah Consumer Cyclicals (+6,58%) dan Industrials (+3,35%).
Pasar berkinerja terbaik pekan ini dicatat oleh Indeks Nasdaq (+4,26%) dan harga CPO (+4,03%). Di sisi lain, terjadi koreksi pada harga batu bara (-6,76%) dan minyak mentah (-3,41%).
Ashmore juga mencatat, di Amerika Serikat, sektor manufaktur pada Maret lalu tumbuh dan mencapai laju terkuat sejak Agustus 2022, didorong oleh pertumbuhan produksi, meskipun pesanan baru melambat.
Sementara itu, data penjualan ritel menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan dan pulih dari kontraksi bulan sebelumnya, dan data Februari menjadi yang terkuat sejak Juli lalu. Namun, data lowongan kerja menurun dan berada di bawah ekspektasi pasar, terutama disebabkan penurunan di sektor akomodasi dan jasa makanan.
Di Kanada, sektor manufaktur stagnan namun lebih baik dari perkiraan kontraksi, dipengaruhi ketidakpastian terkait konflik geopolitik dan tarif. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi tercatat lebih kuat dari perkiraan.
Sementara itu, Kawasan Eropa mencatat tingkat inflasi tertinggi sejak Januari 2025, meski sedikit di bawah ekspektasi, seiring kenaikan biaya energi. Sentimen ekonomi juga terus menurun sejak mencapai puncaknya pada Januari, dengan inflasi menjadi kekhawatiran utama. Jerman juga mengalami lonjakan inflasi hingga level tertinggi sejak Januari 2024, seiring kenaikan harga energi lebih dari 7%.
Di Asia, sektor manufaktur dan non-manufaktur China sama-sama berkinerja lebih baik dari perkiraan. Sektor manufaktur mencatat pertumbuhan terkuat sejak Maret tahun lalu. Jepang mencatat tingkat pengangguran turun kembali ke 2,6%, lebih rendah dari ekspektasi, namun penjualan ritel justru turun berlawanan dengan perkiraan.
"Di Indonesia, tingkat inflasi melandai di bawah 3,5% dan sedikit di bawah ekspektasi pasar, namun surplus perdagangan juga lebih rendah dari perkiraan," tulis Ashmore.
Merealisasikan Komitmen Transparansi
Pekan ini, Ashmore menyoroti, sikap sentimen investor global yang cenderung mengarah pada manajemen risiko, seiring berita terkait perang di Iran yang menekan minat terhadap aset berisiko. "Konflik yang berkepanjangan ini tidak lagi sekadar peristiwa geopolitik, tetapi telah berdampak pada perekonomian global, terutama melalui lonjakan inflasi harga energi yang memengaruhi suku bunga global, aset  safe haven , serta selera investor terhadap aset berisiko," ungkap Ashmore.
"Di sisi domestik, perkembangan terbaru menunjukkan arah yang lebih positif terkait realisasi kebijakan dari otoritas Indonesia dalam upaya reformasi pasar modal," i,buh Ashmore.
Ashmore juga emncermati, setelah sempat optimistis di awal pekan, sentimen pasar berbalik cepat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa memberikan kejelasan kapan konflik akan berakhir.
Pasar pun segera mengantisipasi konflik yang berkepanjangan serta gangguan berkelanjutan pada harga energi dan jalur pelayaran, khususnya di Selat Hormuz dan sekitarnya yang kini berisiko tinggi. Harga minyak melonjak, dengan Brent sempat mendekati USD120 per barel pekan ini sebelum turun kembali ke bawah USD110 pada Kamis lalu.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tetap tinggi akibat tekanan inflasi, dengan yield obligasi tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,35% dan tenor 2 tahun di kisaran 3,85%. "Perkembangan utama yang perlu dicermati adalah dampak perang Iran terhadap harga minyak serta durasi konflik, yang akan memengaruhi ekspektasi inflasi dalam jangka pendek dan menengah," sebut Ashmore.
Di dalam negeri, Ashmore melihat, otoritas Indonesia seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia ( KSEI ) telah merealisasikan sejumlah inisiatif yang sebelumnya dinantikan investor. BEI telah merilis surat resmi terkait ketentuan minimum  free float  beserta periode pemenuhan bagi perusahaan terbuka untuk mencapai batas minimal 15%.
Selain itu, klasifikasi investor ditingkatkan dari 9 menjadi 39 jenis, yang diharapkan dapat meningkatkan transparansi kepemilikan saham. BEI juga telah merilis data kepemilikan saham di atas 1% per Maret, melanjutkan publikasi bulan sebelumnya.
"Investor kini menantikan daftar konsentrasi pemegang saham utama, yang diharapkan dapat menjawab kekhawatiran terkait kredibilitas dan transparansi pasar modal. Meski sikap resmi dari penyedia indeks global belum terlihat pasca perkembangan ini, terdapat optimisme bahwa langkah-langkah tersebut mengarah pada perubahan struktural yang positif bagi pasar modal Indonesia," papar Ashmore.
Dalam kondisi saat ini, menurut Ashmore, konflik Iran tetap menjadi risiko utama, dengan volatilitas pasar yang masih tinggi dan sensitif terhadap perkembangan berita. Ashmore kembali menekankan pentingnya diversifikasi lintas aset, dengan strategi defensif sebagai fondasi untuk mengelola volatilitas, sembari tetap fleksibel dalam memanfaatkan peluang saat terjadi koreksi.
"Investor dapat mulai meningkatkan eksposur risiko ketika terdapat kejelasan yang lebih baik terkait perkembangan faktor eksternal." (Ashmore).


Sumber : Admin

berita terbaru
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:35 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of HRME
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:30 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of CASA
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:24 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of PYFA
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:20 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of PTPP
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:11 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of WIKA
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:07 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of MTEL
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:02 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of BMHS
Saturday, Apr 04, 2026 - 14:57 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of KJEN